Film Biografi The Beatles Bakal Digarap Olyn, Platformnya 'Shopify for Filmmakers'!
Kenalan dengan Olyn: Si ‘Shopify’ untuk Para Pembuat Film¶
Pernah kebayang gak sih, film biografi tentang The Beatles, band legendaris itu, bakal tayang perdana bukan di Netflix atau Amazon, tapi di platform yang disebut-sebut sebagai “Shopify untuk pembuat film”? Kedengarannya agak aneh ya? Tapi inilah yang terjadi dengan film biografi terbaru Brian Epstein, manajer The Beatles, yang berjudul “Midas Man”. Film ini memilih untuk debut di platform bernama Olyn. Nah, apa sih sebenarnya Olyn ini?
Olyn ini bukan platform streaming biasa kayak Netflix atau Disney+. Mereka mengklaim diri sebagai platform distribusi film dan video yang revolusioner. Model bisnis mereka unik, mengandalkan kekuatan social referral alias referensi dari orang-orang di sekitar kita untuk menyebarkan konten. Bayangin aja, kayak kita belanja online, tapi ini untuk film!
Platform ini bilang, model mereka ini bisa jadi game-changer terutama buat industri film independen. Kenapa? Karena biasanya film indie itu susah banget bersaing sama film-film blockbuster yang punya anggaran marketing gede dari platform streaming konvensional. Olyn menawarkan solusi yang lebih adil dan menguntungkan buat para pembuat film.
Model Bisnis Olyn yang Bikin Penasaran¶
Olyn, yang berbasis di California, didirikan oleh Ana Maria Jipa, Jeremias Buireo, Kiran Thomas, dan Malcolm Wood. Yang bikin menarik, platform ini memungkinkan pembuat film untuk mendapatkan sampai 90% dari pendapatan mereka! Gede banget kan? Caranya gimana?
Beda dengan model tradisional di mana film dijual ke platform kayak Netflix, Olyn ini modelnya lebih ke direct-to-consumer. Jadi, pembuat film itu sendiri yang bertanggung jawab atas marketing film mereka, dibantu sama influencer, kritikus film, dan content creator. Mereka ini jadi semacam mitra distribusi yang nyebarin link pembelian film lewat konten, blog, atau media sosial mereka.
Pendekatan ini bener-bener menghilangkan peran platform sebagai perantara. Distribusi film jadi mirip kayak e-commerce, jualan barang online. Konsepnya sederhana tapi potensinya besar banget.
Fitur-Fitur Canggih Ala Olyn¶
Ana Maria Jipa, CEO dan salah satu pendiri Olyn, bilang ke TechCrunch kalau platform mereka ini nawarin fitur yang setara sama platform streaming lengkap. “Kita nyediain semua teknologi yang dibutuhkan: mulai dari DRM (Digital Rights Management) buat ngelindungi hak cipta, streaming 4K kualitas tinggi, casting ke TV, halaman landing page yang keren buat promosi film, persis kayak di Netflix atau Apple TV,” jelas Jipa.
Gak cuma itu, Olyn juga nyediain tools lain kayak geo-organisasi (pengaturan wilayah tayang), analisis data, dan data audiens. “Pembuat film itu bisa bertahun-tahun bikin film, tapi seringkali mereka gak kenal siapa penonton mereka. Nah, ini kita kasih insight soal penonton, kayak dari negara mana aja filmnya laku, berapa menit orang nonton, bahkan database pengguna yang udah nonton filmnya,” lanjut Jipa.
Data-data ini penting banget buat pembuat film. Mereka jadi tahu siapa aja penontonnya, bisa langsung engage sama mereka buat promosi film berikutnya, dan bangun komunitas penonton setia. Ini kekuatan yang gak didapetin di platform streaming tradisional.
“Midas Man” Jadi Bukti Nyata Kekuatan Olyn¶
Perry Travers, produser film “Midas Man”, mengakuin banget manfaat Olyn. Menurutnya, Olyn ini langkah maju yang tepat buat industri film. “Olyn memungkinkan kita buat berpikir di luar platform tradisional. Kita bisa jadi layanan streaming sendiri. Ini tentang memberdayakan pembuat film buat marketing dan distribusi film dengan cara yang mirip sama kesuksesan direct-to-consumer di e-commerce,” kata Travers.
Travers menambahkan, “Ini kesempatan buat kita buat pegang kendali atas karya kita dan ngedefinisiin ulang gimana film bisa nyampe ke penonton.” Penggunaan Olyn buat distribusi “Midas Man” ini jadi bukti nyata kalau platform ini bukan cuma omong kosong.
Melawan Pembajakan dengan Jangkauan Global¶
Salah satu masalah utama di industri film itu pembajakan. Banyak orang nonton film bajakan karena filmnya gak tersedia secara legal di negara mereka. Jipa percaya kalau jangkauan global Olyn bisa jadi solusi buat masalah ini. “Kalau orang bisa bayar film dan langsung nonton secara instan, mereka pasti lebih milih cara yang legal,” ujarnya.
Olyn punya potensi buat nyediain akses global ke film-film, termasuk film-film independen yang mungkin susah ditemuin di platform streaming besar. Dengan akses yang lebih mudah dan legal, diharapkan pembajakan bisa berkurang.
Dari Katalog Aset Fisik ke ‘Shopify’ Film¶
Awalnya, Olyn itu bukan platform streaming film. Platform ini awalnya diluncurkan sebagai cara buat bikin katalog aset fisik. Malcolm Wood, seorang pengusaha dan pembuat film, kemudian bergabung sebagai co-founder dan ngebawa ide buat pivot ke distribusi film. Wood sendiri udah ngerilis filmnya yang berjudul “The Last Glacier” di platform Olyn.
Wood ngerasa kalau Olyn ini lebih tepat disebut sebagai “Shopify untuk pembuat film dengan referral link”. Dia nunjukkin data kalau rata-rata film di Amazon UK cuma dapet sekitar 2.000 views per tahun. “Jadi ada banyak film yang views-nya jutaan, tapi sebagian besar film itu views-nya di bawah 2.000,” tambahnya.
Model Olyn ini bener-bener kebalikan dari layanan streaming utama yang biasanya nawarin perjanjian lisensi lump sum global. Di model lump sum, pembuat film cuma dapet bayaran sekali aja, gak peduli seberapa banyak film mereka ditonton. Olyn ngubah ini dengan memungkinkan pembuat film buat dapetin pendapatan langsung dari penonton.
“Dengan Olyn, pembuat film masih bisa jual hak tayang filmnya ke pasar AS, misalnya, tapi mereka juga bisa manfaatin direct-to-consumer buat pasar lain, contohnya Asia,” jelas Wood. Jadi, fleksibilitasnya lebih tinggi dan potensi pendapatan juga lebih besar.
Tantangan dan Masa Depan Olyn¶
Tapi, platform kayak Olyn ini bisa dipake buat distribusi film dewasa gak ya? Jipa ngakuin tantangan ini. “Saat ini, bukan itu image yang pengen kita bangun. Dan sebenernya gampang aja buat narik kategori itu,” katanya. “Awalnya, kita pengen mastiin film-film yang ada di Olyn itu berkualitas tinggi.”
“Tapi dalam jangka panjang, tujuan kita adalah bikin ruang di mana pembuat film, bukan platform, yang nentuin apa yang didistribusiin,” lanjutnya. “Kita gak mau jadi gatekeeper. Visi kita adalah ngasih pembuat film kontrol penuh atas apa yang mereka bagiin, dan akhirnya beralih ke model SaaS (Software as a Service) yang lengkap.”
Jadi, Olyn punya ambisi besar buat jadi platform yang bener-bener demokratis buat distribusi film. Mereka pengen ngasih kekuasaan ke tangan pembuat film, bukan platform. Ini ide yang menarik dan patut kita tunggu perkembangannya.
Potensi Olyn di Industri Film¶
Olyn ini beneran bisa jadi angin segar buat industri film, terutama buat film-film independen. Model bisnis mereka yang unik, fokus ke direct-to-consumer dan social referral, bisa ngasih kesempatan yang lebih besar buat pembuat film buat dapetin pendapatan yang lebih adil dan kontrol yang lebih besar atas karya mereka.
Meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, terutama soal image dan konten, Olyn punya potensi besar buat ngubah cara film didistribusiin dan dikonsumsi. Bayangin aja, di masa depan, kita bisa langsung dukung pembuat film favorit kita dengan nonton film mereka langsung dari platform kayak Olyn. Keren kan?
Gimana menurut kalian? Apakah Olyn ini bakal jadi ‘Shopify’ beneran buat industri film? Atau cuma jadi platform niche aja? Yuk, diskusi di kolom komentar!
Posting Komentar