Dompet Menipis di Tengah Krisis? Ini Jurus Ampuh Kelas Menengah Bertahan!
Jadi, gimana sih caranya kita, kaum kelas menengah, bisa tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang lagi kurang bersahabat ini? Artikel ini bakal ngebahas tuntas soal itu. Kita bakal sama-sama cari tahu:
- Sebenarnya separah apa sih ekonomi Indonesia sekarang?
- Kondisi keuangan dan daya beli kita-kita ini gimana sih?
- Cara-cara apa aja yang udah dilakuin orang-orang buat bertahan?
- Terus, langkah-langkah jitu apa yang harus kita ambil biar tetap aman?
Nggak gampang emang jadi kelas menengah di Indonesia. Dibilang miskin ya nggak, tapi buat kaya juga susah. Serba nanggung gitu deh. Padahal, kita ini sebenernya tulang punggung ekonomi, lho! Kita yang paling banyak konsumsi, kita yang gerakin roda ekonomi.
Karena dianggap lebih mampu dari yang miskin, kita juga nggak dapet bantuan sosial dari pemerintah. Padahal gaji pas-pasan, pendapatan gitu-gitu aja. Giliran ekonomi goncang dikit, kita yang paling gampang kebanting, bisa langsung turun kelas jadi miskin.
Mau naik kelas juga susahnya minta ampun. Survei tahun 2024 aja nunjukkin, banyak dari kita yang umur produktif (17-40 tahun) malah nombok tiap bulan. Pengeluaran lebih gede dari pemasukan, gimana mau nabung, gimana mau kaya?
Nah, pas kondisi kelas menengah lagi rawan kayak gini, eh, ekonomi malah makin nggak jelas arahnya. Awal tahun 2025 aja udah banyak indikator ekonomi yang kasih lampu merah, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kalau udah ada guncangan ekonomi, kita-kita ini yang paling rentan, terutama yang kelas menengah bawah. Bisa kena PHK lah, usaha bangkrut lah, kejerat utang lah. Pokoknya macem-macem deh.
Terus, yang jadi pertanyaan besar, gimana caranya kita sebagai kelas menengah bisa selamat dari badai ekonomi ini? Yuk, kita bahas satu per satu!
Seburuk Apa Sebenarnya Kondisi Perekonomian Indonesia?¶
Awal tahun 2025 ini, beberapa indikator ekonomi makro udah nunjukkin tanda-tanda kurang sehat. Ekonomi kita lagi ditekan dari berbagai sisi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Setidaknya ada empat indikator utama yang bisa kita lihat:
- Deflasi: Harga-harga barang dan jasa malah turun, bukan naik.
- Rupiah Melemah: Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin jeblok.
- Pasar Saham Amblas: IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) ikut-ikutan terjun bebas.
- APBN Aneh: Penerimaan negara dari pajak malah turun drastis.
Badan Pusat Statistik (BPS) nyatet, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Januari dan Februari 2025 itu deflasi terus tiap bulan. Parahnya lagi, di Februari 2025, deflasi juga terjadi secara tahunan, sebesar 0,09 persen. Terakhir kali deflasi tahunan kayak gini kejadian itu 25 tahun lalu! Tepatnya Maret 2000, dan itu pun masih lebih parah deflasinya, 1,10 persen.
Nilai tukar rupiah juga nggak kalah bikin pusing. Dolar AS udah nangkring di kisaran Rp 16.200-Rp 16.500. Bahkan sempat nyentuh Rp 16.575 per dollar AS di tanggal 28 Februari 2025. Terakhir kali rupiah separah ini itu lima tahun lalu.
Pasar saham juga ikut merana. Di akhir Februari 2025, IHSG anjlok ke level 6.300. Koreksi 5 persen dibanding minggu sebelumnya. Ini jadi rekor terendah sejak tahun 2021.
Keuangan negara juga lagi nggak baik-baik aja. Kementerian Keuangan ngelaporin, APBN 2025 sampe Februari udah defisit Rp 31,2 triliun, atau 0,13 persen dari PDB.
Ini aneh banget, soalnya biasanya awal tahun APBN itu masih surplus, kecuali lagi ada krisis ekonomi. Salah satu penyebab anomali ini adalah penerimaan pajak yang jeblok.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, bilang indikator-indikator ini jelas nunjukkin ekonomi lagi memburuk. Dan kebijakan pemerintah yang ada, bukannya ngebantu, malah bikin masalah makin runyam.
Situasi kayak gini bisa bikin pertumbuhan ekonomi tahun ini melambat, bahkan di bawah perkiraan 5 persen. “Kebijakan-kebijakan yang ada ini justru bisa menekan pertumbuhan ekonomi,” kata beliau, Kamis (13/3/2025).
Bagaimana Kondisi Finansial dan Daya Beli Kelas Menengah Saat Ini?¶
Deflasi bulanan dan tahunan di awal 2025, apalagi menjelang Ramadhan, ini jadi sinyal kuat daya beli masyarakat lagi lemah banget. Permintaan barang dan jasa juga lagi lesu.
Biasanya nih, tiap tahun, konsumsi masyarakat itu naik jelang Ramadhan. Harusnya inflasi yang naik, bukan malah deflasi.
Buat perbandingan, tahun lalu pas Ramadhan mulai tanggal 11 Maret 2024, BPS nyatet inflasi bulanan Februari 2024 itu 0,37 persen. Jauh beda kan sama sekarang yang deflasi?
Pemerintah bilang deflasi ini gara-gara diskon tarif listrik 50 persen selama Januari-Februari 2025. Tapi, banyak yang nggak yakin. Beberapa ahli ekonomi malah bilang, daya beli masyarakat emang lagi loyo, jadi ya deflasi deh.
Peneliti Ekonomi dari Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, malah bilang, meskipun nggak ada diskon listrik, inflasi tahunan juga tetep bakal rendah. Soalnya, deflasi tahunan ini juga dipengaruhi deflasi bulanan yang udah terjadi lima bulan berturut-turut di tahun 2024. Mulai dari Mei, Juni, Juli, Agustus, sampe September tahun lalu itu deflasi semua.
“Kondisi yang bikin deflasi setahun terakhir ini ya daya beli masyarakat yang emang lagi rendah karena pendapatan terbatas,” kata beliau, Selasa (11/3/2025).
Daya beli lesu ini salah satunya karena lapangan kerja juga lagi nyusut. Data Kementerian Ketenagakerjaan nunjukkin, PHK di tahun 2024 naik 20,21 persen dibanding 2023. Dua bulan pertama 2025 juga masih banyak PHK di industri padat karya.
Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok malah makin mahal. Data Mandiri Spending Index (MSI) nunjukkin, penghasilan bersih masyarakat cuma naik 15 persen selama 2017-2023. Sementara itu, IHK (Indeks Harga Konsumen) naiknya lebih tinggi, 18,5 persen. Artinya, kenaikan harga lebih cepet dari kenaikan gaji.
Selain itu, daya beli juga melemah karena jumlah kelas menengah juga lagi nyusut. Data BPS nunjukkin, populasi kelas menengah turun drastis, dari 57,33 juta jiwa di 2019 jadi 47,85 juta jiwa di 2024. Banyak yang turun kelas jadi lebih miskin kayaknya nih.
Solusi Apa yang Sejauh Ini Ditempuh Sebagian Warga untuk Berkelit dari Situasi Sulit?¶
Kondisi ekonomi yang berat ini bikin sebagian kelas menengah mau nggak mau harus ngutang. Utangnya macem-macem, ada yang ke temen, keluarga, bank, atau pinjaman online.
Platform buy now pay later (BNPL) dan pinjaman online makin populer nih jadi solusi cepat. Soalnya, kalau mau pinjam duit di bank kan ribet banget administrasinya.
Buktinya, penyaluran kredit BNPL dan pinjaman online makin naik aja nih. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nyatet, penyaluran kredit BNPL per Januari 2025 udah Rp 26,69 triliun, naik 44,19 persen dibanding tahun lalu. Ini terdiri dari BNPL perusahaan pembiayaan Rp 7,12 triliun dan BNPL perbankan Rp 22,57 triliun.
Saldo pembiayaan pinjaman online (fintech peer to peer lending) per Januari 2025 juga udah Rp 78,5 triliun, naik 29,94 persen dibanding tahun lalu. Lebih tinggi dari Desember 2024 yang naiknya 29,14 persen.
Kredit rumah tangga dari bank juga ikutan naik. Per Desember 2024, kredit rumah tangga perbankan udah Rp 1.836 triliun, naik 10,38 persen dibanding tahun lalu. Lebih tinggi dari tahun 2023 yang naiknya 9,17 persen.
Selain ngutang, kelas menengah juga banyak yang ngandelin tabungan buat bertahan hidup. Sampe muncul istilah populer “mantab” alias makan tabungan.
Survei Konsumen Bank Indonesia nunjukkin, proporsi pendapatan konsumen yang ditabung (saving to income ratio) turun dari 16,7 persen di Februari 2024 jadi 14,7 persen di Februari 2025. Sebaliknya, pendapatan yang dipake buat konsumsi (average propensity to consume ratio) malah naik, dari 73 persen di Februari 2024 jadi 74,7 persen di Februari 2025. Artinya, makin banyak duit yang dipake buat makan sehari-hari, makin dikit yang ditabung.
Direktur Eksekutif Information Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, ngingetin, pinjaman instan emang gampang, tapi risikonya juga gede.
Bunganya pinjaman online itu jauh lebih tinggi dari bank. Masyarakat harus bener-bener mikir panjang sebelum ngambil pinjaman online, soalnya bisa jadi beban berat dan ujung-ujungnya gagal bayar.
(4) Apa yang Semestinya Dilakukan Kelas Menengah untuk Bertahan?¶
Tenang, nggak semua suram kok. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakuin buat bertahan di situasi ekonomi yang lagi sulit ini. Mulai dari ngatur keuangan sampe milih investasi yang tepat.
Langkah pertama dan paling penting adalah ngatur keuangan. Caranya gimana?
- Kenali Pengeluaran: Catat semua pengeluaran rutin, bedain mana yang bener-bener kebutuhan, mana yang cuma keinginan, dan berapa yang bisa ditabung.
- Prioritaskan Kebutuhan: Idealnya, 70-85 persen dari total penghasilan itu buat kebutuhan pokok kayak tempat tinggal, makan, listrik, air, cicilan.
- Batasi Keinginan: 5-10 persen dari penghasilan buat keinginan kayak hiburan, hobi, olahraga. Nggak perlu dipaksain juga kok.
- Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi: 10-20 persen dari penghasilan dialokasikan buat tabungan, dana darurat, dan investasi.
Prinsip-prinsip dasar ini penting banget buat kita-kita yang kelas menengah biar keuangan tetap terkontrol.
Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Vera Margaret, juga nyaranin kita buat nahan diri dari keinginan yang kurang penting. Sekarang ini lagi ngetren gerakan “no buy challenge”, buat ngurangin konsumsi berlebihan dan ngedukung gaya hidup minimalis.
Survei online Snapchart nunjukkin, 68 persen dari 1.236 responden udah ikutan no buy challenge buat nyiasatin ekonomi yang lagi nggak pasti. Kebanyakan dari mereka milih buat beralih ke produk atau merek yang lebih murah.
“Dari survei lintas kelas, semua bilang perlu no buy challenge. Nggak beli barang yang nggak perlu, nggak jajan kalau udah makan siang,” kata Vera dalam diskusi di Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Setelah keuangan udah rapi, langkah selanjutnya adalah nabung dan investasi. Investasi bisa jadi pilihan bagus buat ngelawan inflasi atau kenaikan harga.
“Dalam kondisi sekarang, dengan kecenderungan suku bunga turun, produk investasi yang lagi banyak dipilih itu obligasi,” ujar Vera.
Ringkasnya, jurus ampuh kelas menengah bertahan di tengah krisis:
- Ngatur keuangan dengan bijak: Bedain kebutuhan dan keinginan, bikin anggaran yang jelas.
- Nahan diri dari konsumsi berlebihan: Ikutan no buy challenge, prioritaskan kebutuhan pokok.
- Nabung dan Investasi: Sisihkan sebagian pendapatan buat tabungan dan investasi, misalnya obligasi.
Dengan langkah-langkah ini, semoga kita sebagai kelas menengah bisa lebih kuat dan tahan banting menghadapi situasi ekonomi yang lagi menantang ini.
Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar di bawah! Kira-kira jurus apa lagi nih yang ampuh buat kelas menengah bertahan di tengah krisis?
Posting Komentar