Gak Ribet! Ini Cara Mudah Dapetin Sertifikasi Halal BPJPH Buat Bisnismu
Belakangan ini, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) lagi jadi omongan banget. Ini setelah ditemukannya beberapa produk berlabel halal yang ternyata kok malah ngandung unsur babi. BPJPH bareng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kemarin nemuin sembilan produk pangan olahan yang bermasalah.
Dari sembilan produk itu, tujuh di antaranya udah punya sertifikat halal lho. Sisanya dua produk lagi memang belum bersertifikat halal. Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hassan, ngasih tahu ini pas konferensi pers di Jakarta beberapa waktu lalu.
Buat tujuh produk yang udah bersertifikat dan terbukti bermasalah, BPJPH langsung ngasih sanksi tegas. Sanksinya berupa penarikan barang dari pasaran. Ini sesuai banget sama ketentuan di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2024 yang ngatur soal Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal. Kejadian ini makin pentingin betapa seriusnya urusan sertifikasi halal ini ya.
Nah, buat kamu yang punya bisnis dan mau produkmu dijamin halal, ada dua cara nih buat dapetin sertifikasinya dari BPJPH. Dua cara ini disediain biar pelaku usaha bisa milih yang paling cocok sama kondisi dan jenis produk mereka. Jangan sampai salah pilih skema ya, biar prosesnya lancar jaya!
Dua skema layanan sertifikasi halal itu adalah skema reguler dan skema self-declare. Masing-masing punya kriteria dan proses yang beda. Kita bakal bahas satu per satu biar kamu kebayang mau pilih yang mana buat bisnismu.
Pentingnya Sertifikasi Halal Buat Bisnismu¶
Kenapa sih sertifikasi halal ini penting banget, apalagi di negara mayoritas muslim kayak Indonesia? Pertama, ini soal kepercayaan konsumen. Label halal itu ibarat jaminan buat konsumen muslim kalo produk yang mereka beli aman dikonsumsi sesuai syariat agama. Kalo produkmu udah bersertifikat halal, konsumen jadi lebih yakin dan nggak ragu buat beli. Ini bisa ningkatin loyalitas pelanggan lho.
Selain itu, sertifikasi halal juga bisa ngebuka pasar yang lebih luas. Nggak cuma pasar lokal, tapi juga pasar ekspor ke negara-negara muslim lainnya. Banyak negara yang mewajibkan produk impor punya sertifikat halal dari lembaga yang diakui. Jadi, kalo kamu punya mimpi go global, sertifikat halal ini wajib banget.
Terus, ini juga soal kepatuhan regulasi. Pemerintah udah mewajibkan banyak jenis produk buat bersertifikat halal. Kalo nggak patuh, bisa kena sanksi kayak yang dialamin produk-produk tadi. Jadi, mending urus dari sekarang biar bisnis aman dan nyaman. Sertifikasi halal itu bukan cuma soal agama, tapi juga soal standar kualitas dan keamanan produk. Prosesnya yang ketat bikin produkmu jadi lebih terjamin mutunya.
Skema Sertifikasi Halal: Reguler vs Self-Declare¶
Seperti yang udah disebutin tadi, ada dua jalur buat dapetin sertifikat halal: reguler dan self-declare. Pilih yang mana? Tergantung kondisi bisnismu!
Skema Reguler¶
Skema ini cocok buat pelaku usaha yang produknya butuh pengujian dan pemeriksaan mendalam untuk memastikan kehalalannya. Biasanya, ini berlaku buat produk-produk yang bahan bakunya atau proses produksinya agak kompleks. Atau bisa juga buat produk yang memang diwajibkan ikut skema reguler.
Di skema reguler ini, ada peran auditor halal yang tergabung dalam Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). LPH ini yang bakal ngelakuin pemeriksaan dan pengujian produkmu, termasuk ngecek bahan baku, proses produksi, sampe kebersihan tempat produksi. LPH juga punya laboratorium buat nguji kandungan produk kalo diperlukan. Prosesnya memang lebih panjang dan detail, tapi hasilnya dijamin valid berdasarkan pengujian ilmiah dan syariat.
Skema Self-Declare¶
Kalo skema yang satu ini dikhususkan buat Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Tapi, ada syaratnya lho. Produk UMK bisa ikut skema self-declare kalo:
1. Produknya nggak berisiko tinggi.
2. Pakai bahan-bahan yang udah pasti halal. Maksudnya, bahan bakunya udah jelas status kehalalannya, bisa dilihat dari sertifikat halal bahan baku itu sendiri atau memang bahan yang nggak perlu diraguin kehalalannya kayak sayuran segar atau buah-buahan.
3. Proses produksinya sederhana dan dipastikan kehalalannya. Misalnya, proses ngolahnya nggak melibatkan bahan-bahan haram atau najis, alat-alatnya bersih dan nggak tercampur.
Di skema self-declare, proses verifikasi dan validasi kehalalan produk di lapangan dilakuin sama Pendamping Proses Produk Halal (PPH). PPH ini tergabung dalam Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H). Tugas PPH ini adalah mendampingi pelaku usaha, ngecek langsung ke lapangan, dan mastiiin semua persyaratan skema self-declare terpenuhi. Prosesnya lebih ringkas dibanding skema reguler.
Berikut perbandingan singkat kedua skema:
| Fitur | Skema Reguler | Skema Self-Declare |
|---|---|---|
| Target Pelaku Usaha | Semua jenis usaha | UMK |
| Jenis Produk | Wajib bersertifikat, perlu uji/periksa | UMK, tidak berisiko, bahan halal, proses sederhana |
| Pemeriksa | Auditor Halal (LPH) | Pendamping PPH (LP3H) |
| Proses | Pemeriksaan, pengujian lab (jika perlu) | Verifikasi & Validasi Lapangan oleh PPH |
| Kompleksitas | Lebih kompleks | Lebih sederhana |
Memilih skema yang tepat itu kunci biar proses pengajuan sertifikasi halalmu lancar. Pastikan kamu memahami kriteria masing-masing skema dan jujur dalam menilai kondisi bisnismu. Kalau ragu, konsultasi aja ke BPJPH atau LP3H/LPH terdekat.
Prosedur Sertifikasi Halal Skema Reguler: Langkah demi Langkah¶
Buat kamu yang milih skema reguler, ini dia langkah-langkah detailnya berdasarkan informasi dari BPJPH:
1. Siapin Dokumen Persyaratan¶
Ini langkah awal yang paling penting. Pastikan semua dokumen yang diminta udah lengkap dan valid. Dokumen-dokumen yang perlu kamu siapin antara lain:
* Surat permohonan. Ini bisa diunduh atau dibuat sesuai format yang ada di sistem BPJPH.
* NIB (Nomor Induk Berusaha). Kamu harus punya NIB Berbasis Risiko yang didaftarin lewat sistem Online Single Submission (OSS). Kalo belum punya, urus dulu ya di oss.go.id.
* Dokumen Penyelia Halal. Ini termasuk SK Penetapan Penyelia Halal di bisnismu, fotokopi KTP Penyelia Halal, dan daftar riwayat hidupnya. Penyelia Halal ini orang yang bertanggung jawab memastikan proses produksi sesuai standar halal setiap saat.
* Daftar nama produk yang mau disertifikasi. Daftarin semua nama produknya di sistem SIHALAL.
* Daftar produk dan bahan yang digunakan. Jelaskan secara rinci semua bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, dan semua komponen yang dipakai buat bikin produkmu.
* Manual Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Ini semacam panduan tertulis tentang bagaimana bisnismu menerapkan sistem jaminan halal dalam seluruh prosesnya, mulai dari pengadaan bahan baku sampe distribusi produk akhir. Ini penting banget karena jadi acuan auditor.
* Izin Edar atau Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), kalo ada. Dokumen ini bisa jadi nilai tambah dan nunjukkin kalo produkmu udah memenuhi standar lain selain halal.
Nyusun dokumen ini butuh ketelitian ya. Pastikan semuanya sesuai biar nggak bolak-balik revisi. Dokumen yang lengkap dan rapi mempercepat proses selanjutnya.
2. Bikin Akun & Ajukan Permohonan di SIHALAL¶
Setelah dokumen siap, saatnya masuk ke sistem digitalnya BPJPH. Kamu perlu bikin akun di SIHALAL (Sistem Informasi Halal). Aksesnya lewat tautan https://ptsp.halal.go.id/. Di sini, kamu bakal ngisi data-data bisnismu dan ngajuin permohonan sertifikat halal. Jangan lupa unggah semua dokumen persyaratan yang udah kamu siapin tadi ke dalam sistem. Isi datanya dengan benar ya!
3. Verifikasi Dokumen oleh BPJPH¶
Setelah permohonan diajukan, BPJPH akan melakukan verifikasi. Mereka bakal ngecek kesesuaian data yang kamu input dengan dokumen yang kamu unggah. Mereka juga mastiiin semua dokumen persyaratan udah lengkap. Kalo ada yang kurang atau nggak sesuai, mereka bakal ngasih tahu buat direvisi. Makanya, penting banget ngecek ulang semua dokumen sebelum diunggah.
4. Penentuan Biaya Pemeriksaan oleh LPH¶
Kalo dokumenmu udah verified sama BPJPH, permohonanmu bakal diterusin ke Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang kamu pilih atau yang ditunjuk. LPH ini yang bakal ngecek produkmu di lapangan. Mereka bakal ngitung biaya pemeriksaan berdasarkan jenis produk, jumlah lokasi produksi, dan faktor lain yang relevan. Biayanya bakal diinput sama LPH ke dalam sistem SIHALAL.
5. Pembayaran Biaya & Penerbitan STD¶
Setelah LPH nentuin biayanya, kamu bakal dapet notifikasi di SIHALAL. Lakukan pembayaran biaya pemeriksaan sesuai yang ditetapin LPH. Setelah bayar, jangan lupa unggah bukti bayarnya dalam format PDF ke SIHALAL. BPJPH bakal verifikasi pembayaranmu. Kalo udah oke, BPJPH bakal nerbitin Surat Tanda Terima Dokumen (STD) di SIHALAL sebagai bukti permohonanmu udah diterima dan siap diproses lebih lanjut oleh LPH.
6. Proses Pemeriksaan oleh LPH¶
Ini dia tahap intinya di skema reguler. LPH bakal ngelakuin pemeriksaan kehalalan produkmu. Pemeriksaan ini bisa meliputi audit dokumen SJPH, pemeriksaan lokasi produksi, ngecek proses produksi, sampe sampling bahan baku atau produk jadi buat diuji di laboratorium LPH (kalo perlu). Auditor LPH bakal mastiin semua aspek dari bahan baku sampe produk akhir udah sesuai standar halal. Setelah selesai, LPH bakal ngunggah laporan pemeriksaan mereka ke SIHALAL.
7. Sidang Fatwa oleh Komisi Fatwa MUI/Komite Fatwa Produk Halal¶
Laporan hasil pemeriksaan dari LPH itu kemudian dilanjutin ke Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Komite Fatwa Produk Halal BPJPH. Mereka bakal ngadain Sidang Fatwa buat nentuin status kehalalan produkmu. Sidang ini ngebahas laporan LPH dari sudut pandang syariat. Kalo udah diputusin halal, mereka bakal ngunggah Ketetapan Halal di SIHALAL. Ketetapan ini adalah hasil akhir dari penentuan kehalalan produkmu secara syariat.
8. Penerbitan Sertifikat Halal oleh BPJPH¶
Begitu Ketetapan Halal dari Komisi Fatwa udah terbit dan diunggah di SIHALAL, BPJPH secara otomatis bakal nerbitin Sertifikat Halal buat produkmu. Sertifikat ini diterbitin secara elektronik. Yeay, selangkah lagi produkmu resmi bersertifikat halal!
9. Unduh Sertifikat Halal¶
Langkah terakhir, kamu tinggal mengunduh Sertifikat Halal dari SIHALAL. Cek status permohonanmu di sistem. Kalo statusnya udah “Terbit SH”, berarti sertifikatmu udah siap diunduh. Simpan baik-baik sertifikat elektronik ini ya! Kamu bisa cetak sendiri atau pakai dalam bentuk digital. Selamat, produkmu kini punya jaminan halal yang resmi!
Prosedur Sertifikasi Halal Skema Self-Declare: Lebih Ringkas Buat UMK¶
Nah, buat UMK yang memenuhi syarat skema self-declare, prosesnya sedikit beda dan lebih ringkas nih. Ini dia langkah-langkahnya:
1. Bikin Akun & Ajukan Permohonan di SIHALAL¶
Sama kayak skema reguler, langkah pertama adalah punya NIB Berbasis Risiko dan bikin akun di SIHALAL (https://ptsp.halal.go.id/). Setelah akun jadi, kamu ngisi data permohonan sertifikat halal di sana. Pastikan kamu memilih skema “Self-Declare” saat pengajuan.
2. Pilih Pendamping Proses Produk Halal (PPH)¶
Setelah ngisi data permohonan, sistem SIHALAL bakal nampilin daftar Pendamping Proses Produk Halal (PPH) yang tersedia di wilayahmu. Kamu bisa milih salah satu PPH yang paling deket atau paling cocok. PPH ini yang nantinya bakal nemenin dan ngebantu kamu dalam proses verifikasi.
3. Pendampingan & Verifikasi Lapangan oleh PPH¶
PPH yang udah kamu pilih bakal menghubungi kamu dan ngatur jadwal buat kunjungan lapangan. PPH ini bakal dateng ke tempat produksimu buat ngelakuin pendampingan, verifikasi, dan validasi kehalalan produkmu. Mereka bakal ngecek bahan baku, proses produksi, kebersihan, dan semua aspek yang terkait sama kriteria skema self-declare. Mereka juga bakal ngebantu kamu nyiapin dokumen-dokumen yang diperlukan, misalnya formulir pernyataan pelaku usaha.
4. Verifikasi & Validasi Hasil Pendampingan oleh BPJPH¶
Hasil dari pendampingan dan verifikasi lapangan yang dilakuin PPH bakal diunggah ke SIHALAL. BPJPH kemudian bakal memverifikasi dan memvalidasi laporan hasil pendampingan dari PPH tersebut. Kalo semuanya udah oke dan sesuai, BPJPH bakal ngasih Surat Tanda Terima Dokumen (STTD) sebagai bukti permohonan self-declaremu udah diterima dan lanjut ke tahap fatwa.
5. Sidang Fatwa oleh Komite Fatwa Produk Halal¶
Hasil verifikasi BPJPH itu kemudian diterusin ke Komite Fatwa Produk Halal BPJPH. Mereka bakal ngadain sidang fatwa buat nentuin status kehalalan produk UMK kamu berdasarkan laporan hasil pendampingan dan verifikasi. Kalo udah diputusin halal, Komite Fatwa bakal nerbitin ketetapan halal dan ngunggahnya ke SIHALAL.
6. Penerbitan Sertifikat Halal oleh BPJPH¶
Setelah ketetapan halal terbit, BPJPH bakal langsung nerbitin Sertifikat Halal buat produk UMK kamu secara elektronik di SIHALAL. Prosesnya otomatis setelah ada ketetapan halal dari Komite Fatwa.
7. Unduh Sertifikat Halal¶
Sama kayak skema reguler, kamu bisa langsung mengunduh Sertifikat Halal elektronikmu dari SIHALAL kalo statusnya udah “Terbit SH”. Gampang kan? Proses ini dirancang biar UMK lebih mudah dan cepat dapetin sertifikat halal.
Berikut gambaran alur skema Self-Declare menggunakan Mermaid:
mermaid
graph TD
A[Pelaku Usaha (UMK)] --> B{Punya NIB & Akses SIHALAL};
B --> C[Ajukan Permohonan di SIHALAL <br/> Pilih Skema Self-Declare];
C --> D[Pilih Pendamping PPH];
D --> E[PPH Lakukan Pendampingan & Verifikasi Lapangan];
E --> F[PPH Unggah Hasil Pendampingan ke SIHALAL];
F --> G[BPJPH Verifikasi & Validasi Hasil Pendampingan];
G --> H[BPJPH Terbitkan STTD];
H --> I[Komite Fatwa Produk Halal Lakukan Sidang Fatwa];
I --> J[Komite Fatwa Terbitkan Ketetapan Halal];
J --> K[BPJPH Terbitkan Sertifikat Halal Elektronik];
K --> L[Pelaku Usaha Unduh Sertifikat di SIHALAL];
Tips Biar Proses Sertifikasi Halal Lancar¶
Ngurus sertifikat halal emang butuh usaha, tapi biar prosesnya lancar, ada beberapa tips nih:
- Pahami Skema yang Tepat: Jangan salah pilih skema ya. Pastikan bisnismu dan produkmu memenuhi kriteria skema reguler atau self-declare. Kalo ragu, konsultasi aja.
- Siapin Dokumen dengan Lengkap dan Teliti: Ini kunci banget! Dokumen yang nggak lengkap atau nggak sesuai bisa bikin prosesnya mandek. Cek berkali-kali sebelum diunggah atau diserahkan.
- Punya Penyelia Halal yang Kompeten (Skema Reguler): Pastikan Penyelia Halalmu beneran paham soal SJPH dan bisa ngejalanin tugasnya dengan baik. Mereka ini garda terdepan dalam menjaga kehalalan produkmu sehari-hari.
- Terapkan SJPH dengan Konsisten (Skema Reguler): Manual SJPH bukan cuma dokumen di atas kertas lho. Kamu harus benar-benar ngelaksanainnya di semua proses produksi. Auditor bakal ngecek ini.
- Jaga Kebersihan dan Sanitasi: Standar halal sangat concern sama kebersihan. Pastikan tempat produksi, alat-alat, dan pekerjamu selalu bersih dan bebas dari najis.
- Komunikasi Aktif: Jaga komunikasi yang baik sama LPH/PPH dan BPJPH. Kalo ada pertanyaan atau permintaan dokumen tambahan, langsung respon cepat.
- Manfaatkan Sistem SIHALAL: Biasakan cek status permohonanmu di SIHALAL secara berkala. Semua update informasi bakal ada di sana.
Mengurus sertifikasi halal itu investasi jangka panjang buat bisnismu. Selain patuh sama aturan, kamu juga lagi ngebangun kepercayaan sama konsumenmu. Prosesnya emang butuh effort, tapi hasilnya sepadan kok.
Buat gambaran gimana sistem SIHALAL itu bekerja atau tips langsung dari BPJPH, kamu bisa cek video-video resmi mereka di YouTube. Cari aja channel BPJPH atau video tentang cara daftar sertifikat halal. Kadang ada tutorial yang ngebantu banget.
Gimana, sekarang udah kebayang kan cara dapetin sertifikasi halal dari BPJPH? Mau pilih skema reguler atau self-declare, yang penting niat dan action buat ngurusnya. Jangan tunda-tunda lagi ya, demi kelangsungan dan kemajuan bisnismu!
Punya pengalaman ngurus sertifikasi halal? Atau mungkin ada pertanyaan seputar prosesnya? Yuk, share pengalamanmu atau tanya-tanya di kolom komentar di bawah ini! Biar kita bisa belajar bareng dan saling bantu sesama pelaku usaha.
Posting Komentar