Nggak Nyangka! Badak Terbang Naik Helikopter? Ini Alasannya!

Table of Contents

Badak Terbang Naik Helikopter

Bayangkan ini: di angkasa Afrika Selatan, ada seekor badak raksasa berbobot lebih dari seribu kilogram melayang-layang, hanya ditopang oleh tali yang terikat ke helikopter. Pemandangan yang mungkin bikin kaget dan bertanya-tanya, “Kok bisa?” Ternyata, ini bukan adegan film fiksi ilmiah, tapi salah satu metode canggih dalam upaya penyelamatan dan pelestarian badak yang terancam punah di sana.

Selama sepuluh tahun terakhir, penggunaan helikopter untuk memindahkan badak jadi makin umum di negara-negara seperti Afrika Selatan, Namibia, dan Botswana. Metode ini terbukti sangat efektif dalam memindahkan hewan-hewan besar ini ke lokasi yang lebih aman atau baru. Tujuannya satu: memastikan kelangsungan hidup spesies yang kondisinya makin kritis ini.

Badak hitam, misalnya, masuk kategori terancam punah menurut Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasinya sempat anjlok drastis sampai kurang dari 2.500 ekor di tahun 1990-an. Ini semua gara-gara perburuan liar yang brutal dan habitat asli mereka yang makin sempit.

Untungnya, berkat usaha konservasi yang intens, populasi badak hitam perlahan membaik. Saat ini, jumlahnya diperkirakan sudah mencapai sekitar 6.500 ekor. Angka ini masih jauh dari kata aman, tapi setidaknya menunjukkan bahwa upaya pelestarian, termasuk metode pemindahan yang inovatif ini, membuahkan hasil.

Kenapa Badak Perlu Dipindah-pindah?

Memindahkan badak pakai helikopter itu bukan iseng atau buat pamer kecanggihan, lho. Ada alasan kuat di baliknya, terutama untuk badak hitam yang populasinya masih rentan. Ursina Rusch, manajer populasi untuk Proyek Perluasan Jangkauan Badak Hitam Afrika Selatan dari WWF, menjelaskan ada tiga tujuan utama pemindahan ini.

Alasan pertama dan paling mendesak adalah melindungi mereka dari poaching alias perburuan liar. Cula badak punya nilai jual sangat tinggi di pasar gelap, bikin badak jadi sasaran empuk para pemburu. Dengan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman, yang penjagaannya lebih ketat, risiko diburu bisa dikurangi secara signifikan.

Kedua, pemindahan ini jadi kesempatan emas buat melakukan pemantauan dan riset. Saat badak sudah “diamankan” untuk dipindah, tim konservasi bisa sekalian memasang alat pemantau. Salah satunya adalah memasukkan telemetri GPS satelit ke dalam culanya. Ini penting banget untuk melacak pergerakan mereka, memahami pola hidup, dan memantau kesehatan populasi dari jauh.

Alasan ketiga adalah untuk menjaga keberagaman genetik populasi badak. Kebanyakan badak hidup di area-area konservasi yang terbatas, seperti taman nasional atau cagar alam swasta. Kalau dibiarkan di situ saja, mereka bisa kawin sedarah (inbreeding). Ini bisa melemahkan populasi dalam jangka panjang dan bikin mereka lebih rentan terhadap penyakit.

Memindahkan badak ke lokasi baru atau menggabungkan mereka dengan populasi lain yang genetiknya berbeda itu krusial. Ini seperti menambah “darah baru” ke populasi, memastikan bahwa mereka punya keragaman genetik yang cukup untuk bertahan dan beradaptasi di masa depan. Tanpa pemindahan, populasi badak di area terbatas bisa mandek pertumbuhannya.

Rusch menambahkan, kalau populasi badak di satu tempat terlalu padat, badak betina cenderung punya jarak kelahiran yang lebih lama antara satu anak dengan anak berikutnya. Ini disebut penjarangan kelahiran, respons alami tubuh terhadap keterbatasan sumber daya di area yang terlalu ramai. Jadi, memindahkan sebagian badak juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem di habitat asalnya dan mendorong populasi di tempat baru untuk berkembang.

Dari Darat ke Udara: Evolusi Transportasi Badak

Memindahkan hewan besar untuk konservasi sebenarnya bukan hal baru. Dulu, caranya lebih konvensional, yaitu lewat darat. Badak yang sudah dibius akan digiring ke dalam kandang khusus. Kandang itu lalu diangkat ke belakang truk besar, dan truk itulah yang bakal membawanya menempuh perjalanan ke lokasi tujuan.

Tapi, cara darat ini punya banyak kekurangan. Perjalanan darat bisa sangat membuat stres bagi badak. Meskipun kadang dibius ringan, mereka seringnya dalam kondisi setengah sadar atau bahkan terbangun selama di perjalanan. Terkurung di dalam kandang memaksa mereka untuk terus berdiri, dan ini bisa menyebabkan cedera serius.

Cedera otot, patah tanduk, atau bahkan terhalangnya saluran napas adalah risiko nyata dari perjalanan darat dalam kandang. Bayangkan saja, hewan seberat lebih dari 1 ton harus berdiri dan terombang-ambing di dalam kotak sempit selama berjam-jam. Selain itu, kondisi medan di banyak wilayah konservasi sangat sulit dijangkau truk, dengan jalan yang terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali, bikin cara darat jadi lambat dan tidak praktis.

Di sinilah peran helikopter jadi game-changer. Penggunaan helikopter untuk pemindahan badak dimulai sekitar tahun 1990-an dan disempurnakan di dekade 2010-an. Helikopter memungkinkan tim konservasi untuk memindahkan badak dengan cepat dan efisien, bahkan ke lokasi yang sangat terpencil dan sulit diakses lewat darat. Ini “merevolusi dunia konservasi badak,” kata Rusch.

Proyek WWF saja sudah memindahkan sekitar 270 badak hitam, dan mayoritas, sekitar 160 ekor, diangkut lewat udara. Metode ini jauh lebih cepat dan, ironisnya, dianggap lebih aman bagi badak karena waktu transportasinya jauh lebih singkat dan mereka biasanya dalam kondisi terbius total selama penerbangan.

Proses Ajaib Badak Terbang

Bagaimana tepatnya proses badak terbang ini dilakukan? Rusch menjelaskan langkah-langkahnya. Pertama, tim akan mencari badak yang jadi target pemindahan dari helikopter yang terbang rendah. Setelah target terkunci, seorang dokter hewan di dalam helikopter akan menembakkan dart berisi obat bius ke badan badak.

Target utamanya biasanya anak-anak badak atau pejantan dominan yang perlu dipindah untuk mencegah kawin sedarah. Obat bius yang dipakai cukup kuat, kombinasi opioid dan obat penenang, yang membuat badak lemas dan tidak bisa bergerak dalam hitungan menit. Kalau dulu dokter hewan harus mengejar badak yang sudah terkena dart selama 20 menit di darat, sekarang dari udara, badak bisa pingsan dalam waktu empat menit saja. Ini menghemat waktu krusial.

Begitu badak jatuh tak sadarkan diri, tim darat yang sudah siaga segera mendekat. Mereka punya waktu terbatas saat badak masih dalam pengaruh obat bius. Tim ini melakukan “pemrosesan” cepat: mengambil sampel biologis (darah, DNA, dll.), mengukur badak, dan memasukkan microchip atau tag GPS untuk pemantauan.

Setelah itu, kru darat memasangkan semacam tali atau sling besar dan lembut di keempat pergelangan kaki badak. Sling ini terhubung ke satu titik pusat yang kemudian akan dikaitkan ke bagian bawah helikopter. Begitu badak sudah terikat dengan aman dan tim di darat siap, helikopter pun mulai mengangkat. Badak akan tergelantung di bawah helikopter, diangkut langsung ke lokasi tujuan, biasanya area terbuka yang luas di mana tim lain menunggu untuk melepaskannya.

Heli Bekas Perang Vietnam Jadi Pahlawan Konservasi

Untuk tugas berat mengangkat badak, tim konservasi butuh helikopter yang mumpuni. Menurut Rusch, ada dua jenis helikopter utama yang biasa digunakan untuk mengangkut badak hitam: Airbus AS350 Astar dan UH1-H Huey.

Airbus AS350 Astar, yang sering dijuluki “Tupai”, lebih kecil dan hemat biaya. Helikopter ini sudah digunakan sejak 2021 dan cukup umum tersedia di Afrika Selatan. Cocok untuk badak yang mungkin tidak terlalu besar atau jarak angkut yang tidak terlalu jauh.

Yang lebih legendaris dan kuat adalah UH1-H Huey. Helikopter ini dirancang khusus untuk mengangkat beban berat. Huey sangat terkenal karena peran masifnya selama Perang Vietnam. Saking ikoniknya, Rusch bilang beberapa Huey yang masih dipakai sampai sekarang bahkan masih punya bekas lubang peluru dan lantai yang dulunya jadi tempat penutup senjata!

Saat ini, Huey bekas militer ini, yang dilengkapi jendela di bawah kokpit supaya pilot bisa melihat ke bawah, beralih fungsi jadi alat yang sangat berharga buat kegiatan sipil, termasuk pemadaman kebakaran dan konservasi badak. Suara baling-baling Huey yang khas, “benar-benar menampar udara,” kata Rusch, adalah suara yang dulu sangat dinanti prajurit di Vietnam sebagai tanda datangnya bala bantuan atau evakuasi.

Transformasi peran Huey dari mesin perang yang mematikan menjadi penyelamat nyawa spesies langka adalah cerita yang ironis tapi inspiratif. Seperti kata Robin Radcliffe, profesor satwa liar dan kedokteran konservasi dari Universitas Cornell, “Ironisnya, pada tahun 80-an, helikopter digunakan oleh beberapa pemburu untuk membunuh badak. Fakta bahwa helikopter sekarang digunakan untuk menyelamatkan mereka badak contoh konservasi yang luar biasa.” Perubahan takdir sebuah mesin, dari kehancuran menjadi penyelamatan.



Video: Proses Pengangkatan Badak Menggunakan Helikopter

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, coba lihat video berikut ini yang menunjukkan bagaimana proses pengangkatan badak menggunakan helikopter dilakukan di Afrika.

(Note: Sistem tidak menyediakan format markdown standar untuk embedding video YouTube. Jika Anda ingin menampilkan video, Anda mungkin perlu menggunakan fitur khusus platform atau cukup menyertakan tautan dan deskripsi seperti ini)

[Tonton Video Proses Pengangkatan Badak dengan Helikopter (Contoh)]
https://www.youtube.com/watch?v=sA9tG5mD8g0

Video ini memberikan visualisasi langsung tentang langkah-langkah yang dijelaskan, mulai dari pembiusan hingga badak terangkat di udara.



Kontroversi dan Inovasi: Metode Gantung Terbalik

Meskipun terlihat ekstrem, para peneliti terus mencari cara teraman dan paling efisien untuk memindahkan badak. Tim Robin Radcliffe, bekerja sama dengan pemerintah Namibia, memelopori metode yang lebih inovatif: menggantung badak secara terbalik di bawah helikopter, tanpa menggunakan jaring atau papan.

Penelitian mereka tentang metode ini bahkan mendapatkan Penghargaan Ig Nobel pada tahun 2021. Penghargaan Ig Nobel ini unik, diberikan untuk penelitian yang “membuat orang tertawa, lalu berpikir.” Dan memang, melihat badak terbalik digantung dari helikopter awalnya mungkin terdengar lucu atau bahkan kejam.

Namun, ada alasan ilmiah di baliknya. Mengingat obat bius yang digunakan mengurangi kadar oksigen dalam darah badak, posisi saat terbang itu krusial untuk memastikan mereka tetap bisa bernapas dengan nyaman. Sebelum sampai pada posisi terbalik, tim Radcliffe sudah mencoba berbagai cara.

Mereka mencoba membaringkan badak di atas papan yang diikat ke helikopter, tapi ini tidak aerodinamis dan bikin helikopter goyang parah di udara. Lalu dicoba pakai jaring, secara aerodinamis sedikit lebih baik, tapi posisi badak di dalam jaring tetap membahayakan pernapasan mereka. Belum lagi rangka logam jaring menambah berat dan butuh lebih banyak orang untuk menempatkan badak ke dalamnya, bikin prosesnya kurang efisien.

Ternyata, posisi terbalik adalah yang paling aman. Anatomi badak memungkinkan mereka bernapas dengan nyaman saat digantung terbalik. Saat tergantung dengan kakinya di atas, berat dan bentuk tubuh badak bikin kepala dan leher mereka menjuntai ke bawah, meluruskan tulang belakang, yang membantu aliran udara. Plus, cula badak yang berat justru bertindak seperti “bulu ekor” atau stabilisator, bikin penerbangan lebih stabil dan mulus karena mengurangi risiko badak berputar di udara.

Jadi, posisi terbalik ini bukan sekadar kelihatan keren, tapi memang paling aerodinamis dan minim risiko masalah pernapasan bagi badak yang dibius. Meskipun “gambar badak terbalik mungkin awalnya tampak kejam,” kata Rusch, kesejahteraan badak adalah prioritas utama di setiap langkah proses pemindahan.

Dampak Positif dan Harapan untuk Badak Sumatera

Usaha keras ini membuahkan hasil nyata. Proyek Perluasan Jangkauan Badak Hitam WWF, misalnya, punya 18 lokasi proyek dengan lebih dari 400 badak hitam tersebar di sana. Itu sekitar 15% dari total populasi badak hitam di Afrika Selatan. Rusch menegaskan, “Semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa helikopter,” baik untuk membius di lokasi sulit maupun memindahkan mereka.

Di wilayah Kunene, Namibia, yang medannya pegunungan luas dan sulit ditembus, populasi badak hitam sempat menurun drastis. Tapi sejak tahun 2010, pengangkutan badak pertama kali dilakukan di sana menggunakan helikopter. Ini memungkinkan badak dikembalikan ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak bisa dijangkau, membantu memulihkan populasi lokal.

Para ilmuwan terus menyempurnakan teknik pemindahan dengan helikopter ini. Mereka juga berencana mengintegrasikan teknologi terbaru seperti drone dan satelit ke dalam upaya konservasi badak. Drone bisa dipakai untuk pencarian dan pemantauan awal, sementara satelit bisa memberikan data lokasi dan pergerakan dalam skala yang lebih luas.

Radcliffe berharap, metode inovatif konservasi badak ini, termasuk teknik mengangkat mamalia besar berkuku secara terbalik, di masa depan bisa diterapkan di lingkungan lain yang sama menantangnya, seperti hutan hujan Indonesia. Ini jadi secercah harapan untuk badak Sumatera, spesies badak yang kondisinya juga sangat kritis dan terancam punah.

Teknik ini ternyata juga bisa diterapkan pada spesies lain yang butuh dipindahkan, seperti gajah dan beberapa jenis antelop yang terancam. Intinya, metode ini membuka kemungkinan baru dalam manajemen populasi dan konservasi hewan-hewan besar di habitat yang sulit.

Menurut Rusch, badak-badak yang sudah dipindahkan di Afrika Selatan tampaknya betah dan berkembang biak di rumah baru mereka. Mereka sudah merumput dan melahirkan keturunan. “Anda dapat mengenal badak, keunikan dan kepribadian mereka,” kata Rusch. “Mereka dilepaskan di sisi lain, dan kemudian populasi ini tumbuh – dari keturunan generasi pertama ke generasi kedua hingga ketiga.”

Ini adalah bukti bahwa usaha manusia, meskipun kadang harus dengan cara yang ekstrem seperti menerbangkan badak, bisa memberikan dampak positif. Badak sudah ada di Bumi selama 50 juta tahun dan dulunya punya lebih dari 150 spesies. Sekarang hanya tersisa lima. Menurunnya jumlah mereka bukan karena proses alam, tapi murni karena ulah manusia: perburuan dan perusakan habitat.

Seperti kata Radcliffe, “Saya tidak ingin memberi tahu cucu-cucu saya bahwa ada badak saat saya tumbuh dewasa, tetapi tidak ada lagi karena manusia memburu dan menghancurkan habitat mereka.” Kisah badak terbang ini adalah pengingat bahwa dengan inovasi, kerja keras, dan kemauan, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan menyelamatkan keanekaragaman hayati Bumi untuk generasi mendatang.

Bagaimana pendapat Anda tentang metode konservasi badak yang unik ini? Pernahkah Anda membayangkan badak bisa “terbang”? Yuk, bagikan pikiran dan pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar