Selain Conclave: 5 Film & Serial Keren Soal Drama Pemilihan Paus

Table of Contents

Setelah Paus sebelumnya wafat, Gereja Katolik akan mencari pemimpin baru melalui proses sakral yang disebut konklaf. Ini adalah pertemuan rahasia dan tertutup yang dihadiri para kardinal dari berbagai penjuru dunia di Vatikan. Proses ini penuh tradisi, intrik, dan dinamika internal yang jarang terungkap ke publik. Selain film Conclave (2024) yang baru-baru ini menarik perhatian dengan kisahnya yang intens di balik dinding Kapel Sistina, ternyata ada beberapa film dan serial lain yang juga mengangkat tema serupa. Tontonan-tontonan ini memberikan sudut pandang menarik tentang kompleksitas Vatikan dan proses pemilihan Paus.

Intrik politik, drama kemanusiaan, bahkan misteri, semuanya bisa terjalin dalam momen pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini. Film dan serial berikut tidak hanya menghibur, tetapi juga bisa memberikan wawasan tentang seluk-beluk kepemimpinan di Vatikan dan tekanan yang dihadapi para kardinal dalam menentukan Paus baru. Berikut adalah beberapa rekomendasi film dan serial keren lainnya yang mengangkat tema seputar pemilihan Paus atau drama kepemimpinan di Vatikan, yang patut kamu tonton. Siap-siap menyelami dunia Vatikan yang misterius dan penuh drama!

Selain Conclave: 5 Film & Serial Keren Soal Drama Pemilihan Paus

Rekomendasi Film & Serial Seputar Vatikan dan Pemilihan Paus

1. The New Pope (2020)

Serial The New Pope (2020) adalah kelanjutan langsung dari serial The Young Pope (2016) yang juga sangat populer. Kedua serial ini disutradarai oleh sutradara asal Italia yang diakui secara kritis, Paolo Sorrentino, yang dikenal dengan gaya visualnya yang unik dan narasinya yang mendalam. Dalam The New Pope, kita melanjutkan kisah dramatis Paus Pius XIII, yang diperankan dengan karismatik oleh Jude Law. Pada awal serial ini, Paus Pius XIII masih dalam kondisi koma, meninggalkan Vatikan dalam kekacauan dan kebutuhan mendesak akan seorang pemimpin baru.

Situasi ini memicu konklaf baru untuk memilih penggantinya. Setelah proses yang rumit dan penuh negosiasi di antara para kardinal, akhirnya terpilihlah Paus baru, Paus John Paul III, yang diperankan oleh aktor veteran John Malkovich dengan persona yang sangat berbeda dari pendahulunya. Paus John Paul III, seorang bangsawan Inggris yang cerdas dan pragmatis, menghadapi tantangan besar dalam memimpin Gereja yang sedang dilanda berbagai isu modern, mulai dari skandal hingga tantangan digital. Dia berusaha membawa angin segar ke Vatikan, namun gaya kepemimpinannya yang cenderung lebih moderat dan terbuka tidak sepenuhnya diterima oleh semua faksi di dalam Gereja.

Drama semakin memuncak ketika Paus Pius XIII yang sebelumnya dikira tidak akan pernah pulih, tiba-tiba sadar dari komanya. Kepulangannya yang tak terduga menciptakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Gereja Katolik: dua Paus berada dalam satu Vatikan. Kembalinya Paus Pius XIII, yang dikenal dengan sikap konservatif radikalnya dan kharisma yang hampir mistis, menimbulkan kebingungan dan memecah belah kesetiaan di antara para kardinal dan umat. Dia secara tersirat (dan terkadang terang-terangan) berniat untuk merebut kembali posisinya sebagai pemimpin tertinggi.

Konflik antara Paus Pius XIII dan Paus John Paul III menjadi inti cerita The New Pope. Ini bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi juga pertarungan ideologi dan gaya kepemimpinan di dalam Gereja. Melalui intrik politik yang halus, manuver di belakang layar, dan eksplorasi mendalam terhadap karakter-karakter yang kompleks, serial ini menampilkan sisi manusiawi dari para tokoh gereja dan tekanan luar biasa yang mereka hadapi. Sorrentino kembali menyajikan visual yang memukau, dialog yang tajam, dan musik yang mengiringi setiap adegan dengan sempurna, menjadikan The New Pope sebuah tontonan yang artistik dan menggugah pikiran tentang iman, kekuasaan, dan peran Gereja di dunia modern. Serial ini mengeksplorasi tema-tema seperti kesucian, selebriti, dan perjuangan untuk menemukan relevansi spiritual di era sekuler. Pertarungan antara tradisi dan modernitas, antara iman buta dan keraguan, semua terangkum dalam narasi yang sureal namun tetap menyentuh.

The New Pope (2020)

2. The Two Popes (2019)

Meskipun tidak secara langsung menampilkan proses konklaf seperti film-film lain dalam daftar ini, The Two Popes (2019) memberikan pandangan yang sangat intim dan personal tentang transisi kepemimpinan yang menyebabkan pemilihan Paus baru, yaitu pengunduran diri Paus. Film ini disutradarai oleh Fernando Meirelles, sutradara asal Brasil yang terkenal dengan film City of God. Film ini dibintangi oleh dua aktor legendaris, Anthony Hopkins sebagai Paus Benediktus XVI dan Jonathan Pryce sebagai Kardinal Jorge Mario Bergoglio, yang kemudian menjadi Paus Fransiskus. Kualitas akting keduanya adalah salah satu daya tarik utama film ini, membuat interaksi mereka terasa begitu hidup dan mendalam.

The Two Popes berlatar pada tahun 2012, beberapa waktu sebelum pengunduran diri Paus Benediktus XVI yang bersejarah. Ceritanya berfokus pada serangkaian percakapan yang terjadi antara Paus Benediktus XVI yang konservatif dan Kardinal Bergoglio yang lebih progresif, yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires. Kardinal Bergoglio, yang merasa frustrasi dengan arah Gereja dan birokrasi di Vatikan, berencana untuk mengajukan pengunduran dirinya sebagai uskup agung dan kembali menjadi pastor biasa. Namun, niatnya ini diketahui oleh Paus Benediktus XVI.

Paus Benediktus XVI kemudian memanggil Kardinal Bergoglio ke Castel Gandolfo, kediaman musim panas Paus, untuk berbicara secara pribadi. Dalam serangkaian pertemuan tersebut, keduanya berdiskusi tentang berbagai isu penting yang dihadapi Gereja, mulai dari skandal pelecehan seksual, tantangan sekularisme, hingga perbedaan pandangan tentang masa depan Gereja Katolik. Paus Benediktus XVI, yang secara diam-diam sudah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan usia, melihat Kardinal Bergoglio sebagai sosok yang mungkin bisa memimpin Gereja di masa depan dengan pendekatan yang berbeda.

Melalui dialog-dialog yang cerdas, hangat, dan terkadang lucu, film ini menampilkan dua sosok yang sangat berbeda dalam kepribadian dan pandangan teologis, namun bersatu dalam kecintaan mereka pada Gereja. Mereka berbagi kisah pribadi, penyesalan masa lalu, dan harapan untuk masa depan. Film ini berhasil memanusiakan kedua tokoh ini, menunjukkan sisi rapuh, humor, dan keraguan mereka sebagai manusia di balik jubah kebesaran. The Two Popes adalah studi karakter yang luar biasa, mengeksplorasi tema-tema seperti kerendahan hati, pengampunan, perubahan, dan beban kepemimpinan.

Film ini memberikan pandangan yang unik tentang momen krusial dalam sejarah modern Gereja Katolik – pengunduran diri seorang Paus untuk pertama kalinya dalam berabad-abad. Meskipun tidak menunjukkan konklaf yang memilih Paus Fransiskus, film ini mempersiapkan penonton untuk memahami mengapa Kardinal Bergoglio adalah pilihan yang mungkin, dan menunjukkan bagaimana transisi tersebut terjadi di tingkat tertinggi kepemimpinan Gereja. Film ini dinominasikan untuk banyak penghargaan, termasuk Academy Awards, dan mendapat pujian luas atas naskahnya yang brilian dan penampilan memukau dari kedua pemeran utamanya. Ini adalah tontonan yang sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang tertarik dengan drama di balik Vatikan dan dinamika hubungan antar pemimpin besar.

The Two Popes (2019)

3. The Young Pope (2016)

Sebelum The New Pope, ada serial groundbreaking yang memulai kisahnya: The Young Pope (2016). Serial drama yang juga disutradarai oleh Paolo Sorrentino ini memperkenalkan kita pada karakter Paus Pius XIII, yang diperankan dengan brilian oleh Jude Law. Serial ini mengambil premis yang berani dan tidak konvensional: apa jadinya jika Paus yang baru terpilih adalah seorang Amerika, relatif muda, dan sangat konservatif? Lenny Belardo, nama aslinya sebelum menjadi Paus, adalah seorang yatim piatu Amerika yang dibesarkan di sebuah panti asuhan Katolik. Pemilihannya sebagai Paus, tampaknya merupakan hasil dari kompromi dan keyakinan bahwa dia akan mudah dikendalikan oleh faksi-faksi kuat di dalam Vatikan.

Namun, para kardinal dengan cepat menyadari bahwa mereka salah besar. Paus Pius XIII ternyata adalah sosok yang keras kepala, misterius, cerdas, dan memiliki pandangan teologis yang sangat ortodoks, bahkan reaksioner. Dia menolak untuk tampil di depan publik, mengasingkan diri di Vatikan, dan menerapkan aturan-aturan konservatif yang mengguncang Gereja modern. Sikapnya yang tidak konvensional dan kebijakan-kebijakannya yang kontroversial segera menimbulkan ketegangan di antara para pejabat Vatikan, termasuk Sekretaris Negara Kardinal Voiello (Silvio Orlando), sosok berpengaruh yang awalnya mendukung pemilihannya tetapi kemudian berhadapan dengannya.

Serial ini mengeksplorasi kepemimpinan Paus Pius XIII yang penuh intrik dan tantangan. Kita diperlihatkan konflik internal yang dihadapinya, perjuangannya dengan masa lalu dan keyakinannya, serta usahanya untuk menegaskan otoritasnya di Vatikan yang penuh dengan politik internal. Dia mempertanyakan banyak aspek modern dari Gereja, menuntut kesetiaan mutlak, dan seringkali bertindak dengan cara yang membuat orang di sekitarnya bingung atau terkejut. Hubungannya dengan para kardinal, para biarawati yang merawatnya (termasuk Suster Mary yang diperankan Diane Keaton), dan para staf Vatikan menjadi pusat drama.

The Young Pope bukan hanya tentang politik gereja, tetapi juga eksplorasi mendalam tentang iman, keraguan, kesendirian kekuasaan, dan pencarian makna spiritual. Sorrentino menciptakan dunia Vatikan yang sureal, penuh simbolisme, dengan visual yang sangat khas dan estetika yang memukau. Setiap adegan dipikirkan dengan matang, dari komposisi gambar hingga pilihan musiknya. Serial ini berhasil menangkap suasana misterius dan sakral Vatikan, sekaligus menunjukkan sisi manusiawi dan fana dari mereka yang tinggal di dalamnya.

Akting Jude Law sebagai Paus Pius XIII mendapat pujian kritis yang luas, menggambarkan karakter yang kompleks, sombong namun rentan, kuat namun penuh pertanyaan. Serial ini menantang pandangan konvensional tentang seorang Paus dan Gereja Katolik, menyajikan cerita yang provokatif dan memikat. Bagi mereka yang tertarik dengan drama kepemimpinan, intrik politik, dan eksplorasi tema-tema spiritual dalam latar yang unik, The Young Pope adalah tontonan yang wajib disimak. Serial ini membuka jalan bagi sekuelnya, The New Pope, melanjutkan saga Paus Pius XIII dan dampaknya pada Gereja.

The Young Pope (2016)

4. We Have a Pope (2011)

Judul asli film ini dalam bahasa Italia adalah Habemus Papam, yang secara harfiah berarti “Kita Punya Paus!” dan merupakan frasa yang diucapkan dari balkon Basilika Santo Petrus untuk mengumumkan terpilihnya Paus baru setelah konklaf. Film We Have a Pope (2011) adalah sebuah drama komedi Italia yang disutradarai oleh Nanni Moretti, yang juga turut berperan dalam film ini. Film ini menawarkan sudut pandang yang unik dan lebih humanis, bahkan komikal, tentang proses pemilihan Paus dan beban yang datang bersamanya.

Cerita dimulai setelah konklaf pertama menghasilkan “asap hitam”, menandakan bahwa belum ada kandidat yang mencapai suara mayoritas yang dibutuhkan untuk terpilih sebagai Paus. Para kardinal kembali bernegosiasi, dan akhirnya pada putaran berikutnya, muncullah “asap putih”. Mengejutkannya, Paus yang baru terpilih bukanlah salah satu kandidat yang difavoritkan atau sering disebut-sebut dalam spekulasi media. Ia adalah Kardinal Melville, seorang pria tua yang tampaknya tenang dan sederhana, diperankan dengan sangat baik oleh aktor veteran Prancis, Michel Piccoli.

Momen kebenaran tiba ketika nama Kardinal Melville diumumkan kepada publik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, dan dia seharusnya keluar ke balkon untuk memberikan berkat pertamanya sebagai Paus baru. Namun, di balik tirai balkon, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Paus Melville yang baru terpilih mengalami serangan panik dan menolak untuk keluar. Dia merasa kewalahan, tidak siap, dan tidak mampu memikul beban tanggung jawab yang besar sebagai pemimpin Gereja Katolik. Ini adalah momen krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Vatikan berada dalam kebingungan. Bagaimana mungkin Paus yang baru terpilih menolak jabatannya? Dalam upaya untuk mengatasi situasi ini tanpa menimbulkan skandal internasional, juru bicara Vatikan berusaha keras menutupi apa yang sebenarnya terjadi dari publik dan media. Sementara itu, Paus Melville diam-diam dibawa keluar dari Vatikan untuk menemui seorang psikoanalis, diperankan oleh Nanni Moretti sendiri. Namun, sang psikoanalis, seorang ateis, dihadapkan pada tantangan unik: bagaimana menganalisis dan membantu seorang Paus yang sedang mengalami krisis eksistensial dan spiritual?

Situasi menjadi semakin absurd dan lucu ketika Paus Melville berhasil menyelinap pergi dari pengawasan dan berkelana secara anonim di jalanan Roma, mencari kedamaian dan jati dirinya, sementara para kardinal terpaksa tetap terkunci di dalam Vatikan menunggu kepulangan Paus mereka. Film ini menggunakan premis yang tidak biasa ini untuk mengeksplorasi tema-tema seperti keraguan, tekanan ekspektasi, beban kekuasaan, dan pencarian jati diri. Melalui mata Paus Melville yang “kabur”, kita melihat sisi manusiawi dari seorang pria yang tiba-tiba diangkat ke posisi paling suci namun merasa tidak layak dan terbebani.

We Have a Pope adalah kritik yang lembut namun tajam terhadap institusi dan ritual, sekaligus potret yang penuh kasih dari kerapuhan manusia. Film ini tidak menghakimi, tetapi mengundang penonton untuk bersimpati pada karakter Paus yang tersesat ini. Nanni Moretti menggabungkan elemen komedi situasi dengan momen-momen yang menyentuh dan reflektif, menciptakan film yang cerdas, orisinal, dan menghibur. Ini adalah tontonan yang menyegarkan tentang dunia Vatikan, menunjukkan bahwa bahkan di posisi tertinggi pun, seseorang tetaplah manusia dengan segala keraguan dan ketakutan. Film ini menawarkan pandangan yang kontras dengan drama berat dari serial The Young Pope atau The New Pope, membuktikan bahwa cerita tentang Paus dan Vatikan bisa disajikan dalam berbagai genre.

We Have a Pope (2011)

5. Angels & Demons (2009)

Berbeda dengan film dan serial lain dalam daftar ini yang berfokus langsung pada proses pemilihan Paus atau kepemimpinan Paus, film Angels & Demons (2009) menggunakan latar waktu setelah wafatnya Paus dan selama proses konklaf sedang berlangsung di Vatikan sebagai panggung untuk sebuah thriller misteri berkecepatan tinggi. Film ini merupakan sekuel dari The Da Vinci Code (2006) dan juga diadaptasi dari novel laris karya Dan Brown, disutradarai oleh Ron Howard. Dibintangi oleh Tom Hanks sebagai ahli simbologi Robert Langdon dan Ayelet Zurer sebagai fisikawan Vittoria Vetra, film ini membawa penonton ke dalam pusaran konspirasi kuno dan ancaman modern yang mengancam Vatikan.

Cerita dimulai di tengah-tengah suasana duka dan antisipasi di Vatikan. Paus baru saja meninggal, dan para kardinal dari seluruh dunia telah berkumpul untuk memulai proses konklaf di Kapel Sistina guna memilih Paus berikutnya. Namun, suasana sakral ini tiba-tiba terusik oleh serangkaian peristiwa mengerikan. Sebuah simbol kuno yang terkait dengan kelompok rahasia yang dianggap sudah punah, Illuminati, mulai muncul. Empat kardinal preferiti – kandidat utama yang paling mungkin terpilih sebagai Paus berikutnya – diculik satu per satu. Setiap penculikan disertai dengan pesan ancaman dari Illuminati, yang mengklaim akan membunuh para kardinal satu per satu di lokasi yang berbeda pada jam-jam tertentu, dan puncaknya akan menghancurkan Vatikan menggunakan perangkat berdaya ledak tinggi yang dicuri dari CERN.

Robert Langdon dipanggil ke Vatikan untuk membantu memecahkan simbol-simbol misterius yang ditinggalkan oleh para penculik. Bekerja sama dengan fisikawan Vittoria Vetra, yang memiliki pengetahuan tentang perangkat yang dicuri, Langdon harus berpacu dengan waktu untuk mengikuti jejak petunjuk yang ditinggalkan oleh Illuminati. Jejak ini membawanya melalui gereja-gereja kuno di Roma, mengikuti “Path of Illumination” yang tersembunyi, berusaha menyelamatkan para kardinal sebelum setiap tenggat waktu tiba.

Film ini menampilkan Vatikan dan sekitarnya secara visual yang dramatis, dengan akses yang tampaknya luar biasa ke lokasi-lokasi ikonik seperti Basilika Santo Petrus dan Kapel Sistina (meskipun banyak set yang dibangun ulang). Proses konklaf yang sedang berlangsung menjadi background yang menegangkan bagi aksi utama. Setiap kali lonceng berbunyi, menandakan bahwa satu jam telah berlalu dan nyawa seorang kardinal dalam bahaya, ketegangan di dalam konklaf juga meningkat, karena jumlah kandidat potensial semakin berkurang. Para kardinal di dalam Kapel Sistina tidak sepenuhnya sadar akan skala ancaman di luar, tetapi mereka merasakan tekanan dari kejadian-kejadian yang tidak biasa dan hilangnya beberapa rekan mereka.

Angels & Demons adalah film thriller yang sarat aksi dan misteri, menggabungkan sejarah, simbolisme, dan sains fiksi. Meskipun akurasi historis dan ilmiahnya sering dipertanyakan, film ini berhasil menciptakan narasi yang mendebarkan. Proses konklaf digambarkan sebagai momen yang rentan, di mana Gereja paling berisiko terhadap ancaman dari luar. Film ini mengeksplorasi tema konflik antara sains dan agama, serta bahaya fanatisme. Bagi penonton yang menyukai thriller dengan teka-teki dan aksi yang intens dalam latar yang unik, Angels & Demons menawarkan petualangan yang seru di jantung Vatikan saat krisis sedang berlangsung.

Angels & Demons (2009)


Nah, itu dia beberapa film dan serial yang bisa jadi pilihan tontonan seru kalau kamu tertarik dengan drama dan intrik di balik pemilihan Paus dan kehidupan di Vatikan. Masing-masing menyajikan sudut pandang yang berbeda, dari thriller misteri hingga drama komedi yang menyentuh.

Gimana, ada yang bikin penasaran buat langsung ditonton? Atau mungkin kamu punya rekomendasi film atau serial lain yang bertema serupa? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar