Almond: Bedah Buku Best Seller Sohn Won-pyung (Plus Review Jujur!)

Table of Contents

Almond book cover

Buku Almond karya Sohn Won-pyung memang lagi nge-hits banget. Kenapa? Karena ceritanya tuh bikin terenyuh sekaligus ngasih banyak pelajaran hidup. Pembaca diajak ngelihat sisi lain manusia yang mungkin belum pernah kita bayangin sebelumnya.

Novel ini awalnya ditulis dalam bahasa Korea, terus udah diterjemahin ke banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia dan Inggris. Kerennya lagi, buku ini direkomendasiin langsung sama SUGA BTS, lho! Pasti jadi makin penasaran, kan?

Kalau kamu pengen tahu lebih dalam soal sinopsis dan gimana sih review jujur buat buku Almond ini, kamu datang ke tempat yang pas. Artikel ini bakal ngebahas semuanya buat kamu.

Berikut ini beberapa poin penting yang bakal kita ulik bareng:

  • Sinopsis Novel Almond
  • Review Novel Almond
  • Quotes dalam Novel Almond

Yuk, langsung aja kita bedah buku yang satu ini!

Sinopsis Novel Almond

Jadi, tokoh utama kita namanya Yoonjae. Dia ini beda dari anak-anak seusianya. Yoonjae mengidap alexithymia, sebuah kondisi yang bikin perkembangan amigdala di otaknya terhambat. Apa dampaknya? Dia nggak bisa ngerasain atau ngungkapin emosi kayak orang kebanyakan.

Bayangin aja, buku ini langsung ngasih contoh yang lumayan bikin syok di awal. Waktu disuruh ibunya beli sesuatu, Yoonjae nemuin mayat terbujur kaku. Bukannya panik, takut, atau sedih, dia malah cuek aja dan nggak nunjukkin empati sama sekali. Di sekolah juga gitu, mau dirundung kayak apa, Yoonjae tetep nggak bergeming, datar aja.

Melihat kondisi anaknya, sang ibu berusaha keras biar Yoonjae kelihatan “normal” di mata orang lain. Dia nyusun catatan panjang, semacam panduan sosial, yang ngajarin Yoonjae gimana cara bereaksi di berbagai situasi. Misalnya, kalau ada yang ketawa, dia harus ikut senyum. Kalau lihat teman terluka, dia harus pasang tampang meringis.

Berkat ajaran ibunya yang intens, Yoonjae jadi bisa diterima sama lingkungannya, meskipun dia sendiri nggak ngerasain emosi yang sama. Dia jago banget akting, nunjukkin ekspresi yang tepat di waktu yang pas, persis kayak yang udah dia pelajari dari catatan ibunya.

Tapi, hidup Yoonjae kena pukulan telak. Sang ibu tiba-tiba koma, dan nenek yang selama ini sangat menyayanginya meninggal dunia di hari ulang tahunnya, dalam insiden tragis. Yoonjae kecil yang nggak punya emosi ngejalanin hari-harinya kayak biasa, tanpa air mata atau kesedihan yang jelas. Dia cuma lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan rumah, tempat neneknya mengajar.

Suatu hari, kehidupannya yang monoton mulai berubah. Dia ketemu sama Gon, seorang siswa yang dikenal berandalan dan penuh masalah. Awalnya, Gon bener-bener jahat sama Yoonjae, sering mukul, nendang, dan malak.

Anehnya, karena Yoonjae nggak pernah ngelawan atau nunjukkin rasa benci sama sekali, Gon malah bingung dan penasaran. Interaksi yang aneh ini justru menumbuhkan ikatan yang nggak terduga di antara mereka, dan akhirnya mereka jadi teman akrab.

Nggak cuma Gon, Yoonjae juga ketemu sama Dora, siswi yang ceria, ekspresif, dan punya banyak impian. Hubungan Yoonjae sama Dora beda lagi. Walaupun awalnya cuma teman, perlahan-lahan perasaan mulai tumbuh, meskipun Yoonjae sulit memahami apa itu ‘perasaan’ dalam arti sebenarnya. Dora melihat sisi lain dari Yoonjae, melampaui ketidakmampuannya berekspresi.

Kedatangan Gon dan Dora ini bener-bener jadi titik balik dalam hidup Yoonjae. Melalui interaksi dengan mereka, terutama Gon yang liar dan Dora yang hangat, Yoonjae mulai belajar tentang hal-hal yang selama ini nggak bisa dia rasain: persahabatan yang rumit, pengorbanan, bahkan harapan untuk bisa bahagia. Proses ini jelas nggak mudah, penuh tantangan dan kesalahpahaman.

Novel ini ngajak kita ngelihat dunia dari sudut pandang seseorang yang nggak bisa ngerasain emosi. Gimana dia memaknai interaksi sosial, kasih sayang, kekerasan, dan kehilangan. Yoonjae mencoba memahami konsep-konsep manusiawi ini bukan dari perasaan, tapi dari logika dan observasi.

Perubahan kecil mulai terjadi pada Yoonjae seiring waktu, dipicu oleh pengalamannya bersama Gon dan Dora, serta menghadapi kenyataan pahit tentang keluarganya. Dia mulai melihat secercah kemungkinan untuk bisa terhubung dengan dunia emosi, meskipun jalannya masih panjang dan berliku.

Kisah Yoonjae ini nggak cuma tentang penyembuhan atau perubahan drastis, tapi lebih ke proses memahami diri dan orang lain dari perspektif yang unik. Buku ini ngasih gambaran gimana ketidaksempurnaan bisa membentuk seseorang dan gimana hubungan antarmanusia, sekacau apapun itu, bisa punya dampak besar.

Review Novel Almond

Kalau kita cek di Goodreads, situs populer tempat para kutu buku ngasih rating dan review, Almond dapet nilai tinggi banget, 4.17 dari 5. Ini nunjukkin kalau buku ini emang disukai dan direkomendasiin sama banyak pembaca. Angka itu bukan asal dapet, tentu ada alasannya.

Sohn Won-pyung sukses besar ngeramu cerita yang dalem banget, ngasih banyak pelajaran hidup, tapi tetap dikemas dalam 272 halaman yang bikin penasaran. Novel ini penuh suka, duka, momen mengharukan, dan juga adegan yang bikin gemas. Pembaca tuh beneran diajak naik rollercoaster emosi (meski tokoh utamanya nggak ngerasain emosi itu!).

Dari segi tema, penulis pantes dapet dua jempol. Ngangkat kondisi alexithymia sebagai fokus cerita itu jarang banget lho di pasaran. Ini bukan cuma ngasih keunikan, tapi juga ngasih pemahaman dan informasi penting buat pembaca. Lewat buku ini, kita jadi tahu kalau kondisi kayak alexithymia itu beneran ada dan bisa dialami siapa aja. Ini nambah pengetahuan sekaligus empati.

Selain tema yang orisinal, pembangunan karakter di novel ini juga dapet apresiasi tinggi. Tokoh-tokohnya, mulai dari Yoonjae si karakter utama, ibunya, neneknya, sampai teman-teman sekolahnya kayak Gon dan Dora, digarap matang. Karakter mereka terasa manusiawi, punya kompleksitas, dan latar belakang yang kuat. Ini bikin pembaca gampang banget buat berempati sama mereka, meskipun perbuatan mereka kadang bikin geleng-geleng kepala.

Setting tempat dan waktu yang dipilih juga pas banget. Lingkungan sekolah yang kadang kejam dengan isu perundungan jadi kontras sama perpustakaan rumah yang jadi semacam tempat aman buat Yoonjae. Pemilihan latar ini nambah kedalaman cerita dan bikin kita makin paham sama dunia yang ditinggali Yoonjae.

Gimana sama alurnya? Dari halaman pertama aja udah terasa ada sesuatu yang spesial. Alurnya nggak monoton, sukses bikin emosi pembaca naik turun. Penulis pinter banget ngerangkai setiap peristiwa, bikin kita pengen terus baca sampai habis buat tahu kelanjutannya. Ada momen-momen tenang, ada yang tegang, ada yang bikin nyesek, semuanya pas porsinya.

Yang bikin novel ini makin kuat adalah sudut pandang orang pertama yang dipakai. Kita bener-bener diajak masuk ke “isi kepala” Yoonjae. Karena dia nggak ngerasain emosi, narasi dari sudut pandangnya jadi unik banget. Dia ngejelasin kejadian-kejadian emosional secara logis, tanpa perasaan. Ini bikin kita sebagai pembaca jadi merenung, apa sih sebenarnya arti emosi itu bagi manusia?

Pesan moral yang disampaikan juga dalem banget. Novel ini ngingetin kita buat lebih berempati sama sesama. Kita nggak pernah tahu “badai” apa yang lagi dihadapi orang lain di balik penampilan luarnya. Yoonjae, meskipun nggak bisa ngerasain emosi, justru mengajarkan kita banyak hal tentang kemanusiaan lewat perjuangannya memahami dunia.

Tapi, ada baiknya kamu tahu kalau novel ini mungkin kurang cocok buat kamu yang suka bacaan super tegang atau penuh plot twist yang mendebarkan di setiap babnya. Almond lebih fokus ke pengembangan karakter, eksplorasi psikologis, dan drama interpersonal. Jadi, kalau kamu nyari buku yang bikin jantung berdebar karena aksi, ini mungkin bukan pilihan pertama.

Meskipun begitu, buat kamu yang suka cerita dengan karakter kuat, tema yang nggak biasa, dan pesan moral yang bikin mikir, Almond wajib masuk daftar bacaanmu. Buku ini ngasih pengalaman membaca yang beda dan pasti membekas.

Quotes dalam Novel Almond

Ini dia beberapa kutipan atau quotes dari novel Almond yang memorable dan sering jadi favorit pembaca:

  1. “I had discovered that if I kept quiet when I was expected to get angry, it made me look patient. If I kept silent when I was supposed to laugh, it made me look more serious. And if I kept silent when I was expected to cry, it made me look strong.” (Aku menemukan bahwa jika aku diam saat seharusnya marah, itu membuatku terlihat sabar. Jika aku diam saat seharusnya tertawa, itu membuatku terlihat lebih serius. Dan jika aku diam saat seharusnya menangis, itu membuatku terlihat kuat.)
  2. “Parents start out with grand expectations for their kids. But when things don’t go as expected, they just want their kids to be ordinary, thinking it’s simple. But son, being ordinary is the hardest thing to achieve.” (Orang tua memulai dengan harapan besar untuk anak-anak mereka. Tapi ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan, mereka hanya ingin anak-anak mereka menjadi biasa saja, berpikir itu mudah. Tapi Nak, menjadi biasa saja adalah hal tersulit untuk dicapai.)
  3. “Anyway, this sounds cliche but you’ll eventually meet the people who you’re meant to meet, no matter what happens. Time will tell if your relationship with him is meant to be.” (Bagaimanapun, ini terdengar klise tapi pada akhirnya kamu akan bertemu orang-orang yang memang ditakdirkan untuk kamu temui, apa pun yang terjadi. Waktu yang akan memberi tahu apakah hubunganmu dengannya memang ditakdirkan.)
  4. “So, I’m going to be stronger. In my own way. In the way that feels most natural to me. I like to win. If I can’t protect myself from being hurt, I’d rather hurt other people.” (Jadi, aku akan menjadi lebih kuat. Dengan caraku sendiri. Dengan cara yang terasa paling alami bagiku. Aku suka menang. Jika aku tidak bisa melindungi diriku dari rasa sakit, aku lebih baik menyakiti orang lain.)
  5. “Luck plays a huge part in all the unfairness of the world. Even more than you’d expect.” (Keberuntungan memainkan peran besar dalam semua ketidakadilan dunia. Bahkan lebih besar dari yang kamu duga.)
  6. “Humans are designed to move on and keep on living, after all.” (Manusia dirancang untuk terus melangkah dan terus hidup, bagaimanapun juga.)
  7. “You’re basically a blank canvas. Better to fill it up with good things rather than bad things.” (Pada dasarnya kamu adalah kanvas kosong. Lebih baik mengisinya dengan hal-hal baik daripada hal-hal buruk.)
  8. “The Mom who shared the details of my life and hers with somebody was not the Mom I knew. It was a relief to hear that she had that somebody.” (Ibu yang membagikan detail hidupku dan hidupnya dengan seseorang bukanlah Ibu yang aku kenal. Rasanya lega mendengar bahwa dia memiliki seseorang itu.)
  9. “Too much honesty hurts others — which I had memorized over and over so that it was stuck in my brain.” (Kejujuran yang berlebihan melukai orang lain — hal yang sudah aku hafal berulang kali sehingga menancap di otakku.)
  10. “But being ordinary is the hardest thing to achieve.” (Tapi menjadi biasa saja adalah hal tersulit untuk dicapai.)

Gimana? Makin tertarik buat baca novel Almond setelah tahu sinopsis, review, dan kutipan-kutipannya? Buku ini emang nawarin sudut pandang yang beda dan bikin kita mikir ulang soal apa itu emosi dan kemanusiaan.

Kalau kamu udah pernah baca buku ini, atau jadi tertarik buat baca, yuk share pendapat dan perasaanmu di kolom komentar di bawah! Kita diskusiin bareng pengalaman membaca Almond yang unik ini.

Posting Komentar