Konklaf: Begini Cara Paus Baru Dipilih! Penasaran?
Memilih pemimpin untuk miliaran umat Katolik di seluruh dunia bukanlah tugas sembarangan. Prosesnya sangat khidmat, penuh tradisi, dan diselimuti kerahasiaan yang ketat. Nama proses ini adalah Konklaf. Pernah dengar? Ini dia cara kerja pemilihan Paus yang baru!
Konklaf itu bukan sekadar pertemuan biasa para kardinal. Kata “Konklaf” sendiri berasal dari bahasa Latin, cum clavi, yang artinya “dengan kunci”. Kenapa pakai kunci? Dulunya, para kardinal benar-benar dikunci dari dunia luar untuk mempercepat proses pemilihan dan menghindari campur tangan dari pihak lain, seperti penguasa politik.
Sistem pemilihan Paus lewat konklaf ini punya sejarah panjang, lho. Aturan resminya mulai dikembangkan pada abad ke-13, setelah pemilihan Paus yang memakan waktu sampai tiga tahun! Bayangkan, gereja tanpa pemimpin selama itu. Makanya, dirancanglah sistem penguncian ini agar para kardinal fokus memilih.
Tentu saja, aturan main konklaf sudah banyak berubah seiring waktu, disesuaikan dengan zaman. Tapi intinya tetap sama: para kardinal berkumpul di satu tempat, terisolasi dari dunia luar, untuk memilih Paus baru. Tujuannya untuk memastikan keputusan murni datang dari mereka sebagai penerus para rasul, dipandu (diyakini) oleh Roh Kudus.
Siapa Saja yang Berhak Memilih Paus?¶
Nah, ini penting. Tidak semua kardinal punya hak suara dalam konklaf. Aturannya spesifik banget. Hanya para kardinal yang berusia di bawah 80 tahun pada hari Sede Vacante (takhta kosong, yaitu saat Paus sebelumnya meninggal atau mengundurkan diri) dimulai yang berhak masuk ke dalam konklaf dan memberikan suara. Mereka inilah yang disebut Kardinal Elector.
Jumlah Kardinal Elector ini bisa bervariasi dari waktu ke waktu, tergantung penunjukan kardinal baru oleh Paus sebelumnya. Biasanya jumlahnya ratusan, meski Vatikan menetapkan kuota maksimal sekitar 120 elector, meski kadang bisa sedikit terlampaui. Kardinal-kardinal ini datang dari berbagai penjuru dunia, mewakili keberagaman gereja global.
Keberagaman asal negara dan latar belakang para Kardinal Elector ini sangat penting. Mereka membawa sudut pandang yang berbeda-beda tentang tantangan dan kebutuhan gereja di berbagai belahan dunia. Meskipun mereka berasal dari budaya dan konteks yang berbeda, tugas mereka satu: memilih figur yang paling cocok untuk memimpin gereja semesta.
Lalu bagaimana dengan kardinal yang sudah berusia 80 tahun atau lebih? Mereka tetap punya peran penting. Mereka bisa berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan pra-konklaf (disebut Kongregasi Umum), di mana para kardinal mendiskusikan kondisi gereja saat ini, tantangan ke depan, dan kriteria pemimpin ideal. Namun, saat pintu konklaf dikunci, mereka tidak ikut masuk untuk memberikan suara. Kehadiran mereka sebelum konklaf tetap bernilai sebagai penasihat dan sumber kebijaksanaan berdasarkan pengalaman panjang mereka.
Dimana Proses Sakral Ini Dilaksanakan?¶
Pusatnya Gereja Katolik, Vatikan, adalah lokasi penyelenggaraan konklaf. Lebih spesifik lagi, pemilihan Paus selalu berlangsung di tempat yang sangat ikonik dan kaya sejarah: Kapel Sistina. Ya, kapel dengan lukisan langit-langit karya Michelangelo yang terkenal itu!
Kapel Sistina bukan cuma indah, tapi juga punya makna simbolis yang mendalam bagi Gereja Katolik. Di sinilah para kardinal berkumpul, berdoa, dan berdiskusi di bawah pandangan “Penghakiman Terakhir” di altar dan kisah-kisah penciptaan serta Musa di langit-langit. Atmosfernya benar-benar sakral dan penuh perenungan.
Selama konklaf berlangsung, para Kardinal Elector menginap di Domus Sanctae Marthae. Ini adalah penginapan atau wisma di dalam wilayah Vatikan yang didirikan oleh Santo Yohanes Paulus II. Tujuannya adalah menyediakan tempat tinggal yang nyaman dan aman bagi para kardinal selama mereka terisolasi di dalam Vatikan.
Sebelum Domus Sanctae Marthae ada, kondisi penginapan kardinal selama konklaf konon cukup minimalis dan bahkan kurang nyaman, sesuai dengan ide “dikunci” dan “mengalami kesulitan” agar cepat memutuskan. Namun, Paus Yohanes Paulus II merasa penting untuk memberikan kondisi yang lebih baik agar para kardinal bisa beristirahat dan fokus pada tugas berat mereka tanpa gangguan fisik yang tidak perlu. Di Domus Sanctae Marthae, setiap kardinal punya kamar sendiri, namun area umum dibatasi untuk memastikan mereka tetap terisolasi dari dunia luar.
Isolasi ini adalah kunci dari proses konklaf. Selama di dalam, semua komunikasi dengan dunia luar diputus total. Ponsel, internet, televisi, radio, surat kabar – semuanya dilarang. Bahkan surat-menyurat pun disaring ketat. Tujuannya jelas: mencegah pengaruh atau tekanan dari luar, baik itu dari pemerintah, media, atau kelompok kepentingan mana pun. Pemilihan Paus haruslah urusan internal gereja, yang diputuskan oleh para elector mereka sendiri.
Kapan Bel dan Pintu Konklaf Dibunyikan?¶
Konklaf tidak langsung dimulai begitu saja setelah Paus wafat atau mengundurkan diri (masa yang disebut Sede Vacante). Ada periode persiapan dan perkabungan terlebih dahulu. Secara umum, konklaf harus dimulai tidak lebih dari 15 hari dan tidak lebih dari 20 hari setelah dimulainya Sede Vacante.
Periode tunggu ini memberikan waktu bagi semua Kardinal Elector dari seluruh dunia untuk tiba di Vatikan. Selain itu, ada juga serangkaian pertemuan pra-konklaf yang disebut Kongregasi Umum. Dalam pertemuan inilah para kardinal yang hadir (termasuk yang berusia di atas 80 tahun) mendiskusikan kondisi gereja, tantangan yang dihadapi, dan kriteria yang mereka cari dalam sosok Paus baru.
Diskusi-diskusi ini sangat penting karena memberikan gambaran bagi para Kardinal Elector mengenai isu-isu krusial yang perlu ditangani oleh Paus berikutnya. Ini juga menjadi semacam “kampanye” informal, di mana para kardinal bisa saling mengenal lebih jauh, mendengarkan pandangan satu sama lain, dan mungkin mulai melihat sosok-sosok potensial yang menonjol. Namun, tidak ada “calon resmi” dalam konklaf; setiap kardinal elector yang memenuhi syarat secara teoritis bisa dipilih, meskipun biasanya muncul beberapa nama yang dianggap papabile (potensi menjadi Paus).
Setelah periode persiapan selesai, barulah tiba hari dimulainya konklaf. Dimulai dengan Misa khusus yang disebut “Misa pro Eligendo Pontifice” (Misa untuk Pemilihan Paus) di Basilika Santo Petrus. Misa ini dipimpin oleh Kardinal Dekan (pemimpin Dewan Kardinal) atau kardinal senior lainnya, dan dihadiri oleh semua kardinal. Ini adalah momen doa dan permohonan bimbingan Roh Kudus untuk tugas berat yang akan mereka laksanakan.
Rahasia Tingkat Tinggi: Kenapa dan Bagaimana Kerahasiaan Dijaga?¶
Salah satu aspek paling mencolok dari konklaf adalah kerahasiaannya yang sangat ketat. Kenapa harus begitu rahasia? Seperti yang sudah disebutkan, tujuannya utama adalah melindungi kebebasan para Kardinal Elector dari tekanan pihak luar, baik itu negara, organisasi, media, atau bahkan sesama rekan gerejawi yang tidak terlibat langsung dalam pemilihan. Kerahasiaan ini memastikan bahwa keputusan dibuat murni berdasarkan nurani dan doa, demi kebaikan gereja.
Bagaimana kerahasiaan ini dijaga? Aturannya super ketat. Sebelum konklaf dimulai, semua yang terlibat – termasuk para Kardinal Elector sendiri, serta personel pendukung (dokter, suster, juru masak, petugas kebersihan, rohaniwan pembantu, dll.) – harus mengucapkan sumpah kerahasiaan yang sakral. Sumpah ini diucapkan di hadapan Kardinal Kamerlengo (pejabat yang mengelola Takhta Suci selama Sede Vacante) dan Kardinal Elector lainnya.
Melanggar sumpah kerahasiaan konklaf adalah pelanggaran yang sangat serius dalam hukum kanon (hukum gereja) dan bisa berujung pada hukuman berat, bahkan ekskomunikasi. Sumpah ini mencakup segala hal yang terjadi di dalam konklaf: diskusi yang dilakukan, hasil pemungutan suara di setiap putaran, siapa yang memilih siapa, dan detail-detail internal lainnya.
Selain sumpah, ada juga langkah-langkah pengamanan fisik dan teknis yang luar biasa. Seluruh area konklaf di Vatikan, terutama Kapel Sistina dan Domus Sanctae Marthae, diperiksa secara menyeluruh sebelum konklaf dimulai. Para ahli mencari dan menonaktifkan segala bentuk alat penyadap, perekam suara, atau pemancar sinyal. Semua komunikasi elektronik dilarang keras. Bahkan surat-menyurat pun disensor.
Para Kardinal Elector dan personel pendukung tidak diizinkan berkomunikasi dengan siapa pun di luar selama konklaf berlangsung, kecuali dalam keadaan darurat medis yang serius dan dengan pengawasan ketat. Ini menciptakan “gelembung” isolasi total di dalam Vatikan, memastikan bahwa apa yang terjadi di dalam tetap menjadi urusan eksklusif mereka yang ada di sana.
Prosesi dan Ritual: Saat Pintu Kapel Sistina Tertutup¶
Setelah Misa pagi dan semua persiapan teknis selesai, tibalah momen yang sangat simbolis: prosesi masuk ke Kapel Sistina. Para Kardinal Elector berbaris dengan jubah merah mereka sambil melantunkan himne kuno “Veni Creator Spiritus”, memohon kehadiran dan bimbingan Roh Kudus. Prosesi ini bergerak dari tempat berkumpul menuju Kapel Sistina.
Setibanya di dalam Kapel Sistina, para kardinal mengambil tempat duduk mereka. Di sanalah, di bawah lukisan langit-langit yang megah, mereka mengucapkan sumpah kerahasiaan secara individual. Setiap kardinal meletakkan tangan di atas Kitab Injil dan mengucapkan sumpah untuk menjaga rahasia proses pemilihan.
Setelah sumpah diucapkan oleh semua Kardinal Elector, Kardinal-kardinal yang tidak memiliki hak suara (karena usia di atas 80 tahun) dan semua personel pendukung yang tidak esensial untuk proses pemilihan diminta meninggalkan Kapel Sistina. Pada saat inilah, Kardinal Kamerlengo (atau pejabat yang ditugaskan) memberikan perintah penting: “Extra Omnes!” Artinya, “Semua Keluar!” Ini adalah penanda bahwa konklaf secara resmi dimulai, dan Kapel Sistina hanya dihuni oleh para Kardinal Elector yang akan melaksanakan tugas pemilihan.
Pintu Kapel Sistina kemudian ditutup dari dalam dan dari luar. Penutupan pintu ini melambangkan dimulainya isolasi total. Dari momen ini hingga Paus baru terpilih dan diumumkan, apa pun yang terjadi di dalam Kapel Sistina tetap menjadi rahasia ketat di antara para Kardinal Elector. Mereka kini sepenuhnya terfokus pada satu tugas: memilih pemimpin gereja semesta berikutnya.
Inti Proses: Bagaimana Suara Diberikan dan Dihitung?¶
Jantung dari konklaf adalah proses pemungutan suara. Aturan detail mengenai ini diatur dalam konstitusi apostolik Universi Dominici Gregis yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Setelah pintu tertutup, pada hari pertama biasanya hanya ada satu putaran pemungutan suara pada sore hari. Jika Paus belum terpilih, mulai hari kedua dan seterusnya, akan ada empat putaran pemungutan suara setiap harinya: dua putaran di pagi hari dan dua putaran di sore hari.
Tata cara pemungutan suara ini sangat ritualistik. Setiap kardinal elector menerima surat suara berbentuk persegi panjang. Di bagian atas surat suara, ada tulisan Latin: Eligo in Summum Pontificem (Saya memilih sebagai Pontif Agung). Di bagian bawahnya, ada ruang kosong di mana kardinal menuliskan nama kardinal yang ia pilih. Penulisan nama harus dilakukan dengan tulisan tangan yang disamarkan (tidak jelas) untuk menjaga anonimitas.
Setelah menuliskan nama pilihannya, setiap kardinal melipat surat suara dua kali. Kemudian, satu per satu, mereka berjalan menuju altar di Kapel Sistina, di mana terdapat bejana (urna) untuk meletakkan surat suara. Sambil memegang surat suara terlipat diangkat tinggi-tinggi, setiap kardinal bersumpah keras-keras: “Saya bersaksi di hadapan Kristus Tuhan, yang akan mengadili saya, bahwa pilihan saya diberikan kepada orang yang, menurut kehendak Allah, saya pikir harus dipilih.” Setelah itu, surat suara dimasukkan ke dalam bejana.
Setelah semua surat suara terkumpul, tiga kardinal yang bertugas sebagai scrutineers (petugas penghitung suara) melakukan penghitungan. Mereka melakukannya dengan cermat, satu per satu, membacakan nama yang tertulis di setiap surat suara agar dapat didengar oleh kardinal lainnya. Nama yang dibacakan dicatat, dan setiap surat suara ditusuk dengan benang melalui kata Eligo dan diikat. Setelah selesai dibaca dan diikat, surat suara diletakkan di bejana terpisah.
Agar seorang kandidat (kardinal) terpilih menjadi Paus, ia harus mendapatkan dua pertiga suara dari total Kardinal Elector yang hadir. Jika pada putaran pertama tidak ada yang mendapatkan dua pertiga suara, proses diulang pada putaran berikutnya. Jika setelah beberapa hari pemungutan suara belum ada yang mencapai mayoritas dua pertiga, ada mekanisme yang memungkinkan perubahan aturan, misalnya dengan memilih di antara dua nama teratas atau cukup dengan mayoritas absolut, namun aturan ini diperkenalkan dan kemudian dimodifikasi lagi. Aturan saat ini kembali menekankan mayoritas dua pertiga, bahkan jika harus dilakukan pemilihan ulang antara dua kandidat teratas sekalipun, mereka tetap memerlukan dua pertiga suara.
Selama pemungutan suara berlangsung, ketegangan di dalam Kapel Sistina pasti terasa. Para kardinal berdoa, merenung, dan menunggu hasil setiap putaran dengan penuh harap.
Asap dari Cerobong: Sinyal ke Dunia Luar¶
Ini mungkin ritual konklaf yang paling terkenal di mata publik global: asap yang keluar dari cerobong kecil di atas Kapel Sistina. Asap ini adalah cara Vatikan berkomunikasi dengan dunia luar tentang status pemilihan Paus.
Setelah setiap sesi pemungutan suara (dua putaran di pagi hari, dua di sore hari) selesai, surat suara yang sudah dihitung akan dibakar. Bahan yang dicampurkan ke dalam pembakaran ini menentukan warna asapnya.
-
Jika asap berwarna hitam, artinya Paus belum terpilih. Pembakaran surat suara dicampur dengan bahan kimia yang menghasilkan asap hitam. Ini adalah sinyal bahwa para kardinal masih dalam proses pemilihan dan belum mencapai kesepakatan dua pertiga. Asap hitam ini memberitahu umat Katolik dan seluruh dunia bahwa penantian masih berlanjut.
-
Jika asap berwarna putih, inilah kabar gembira! Artinya, seorang Paus baru telah terpilih dan ia telah menerima pemilihannya. Untuk menghasilkan asap putih, surat suara dicampur dengan bahan kimia yang berbeda. Dulunya, asap putih kadang kurang jelas warnanya, sehingga pada konklaf modern, lonceng Basilika Santo Petrus juga dibunyikan bersamaan dengan asap putih untuk memberikan konfirmasi yang jelas.
Ritual asap ini adalah salah satu momen paling dramatis selama Sede Vacante. Ribuan, bahkan puluhan ribu orang biasanya berkumpul di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, menatap ke arah cerobong Kapel Sistina, menantikan sinyal yang akan menentukan siapa pemimpin Gereja Katolik berikutnya. Momen munculnya asap putih selalu disambut dengan sorak sorai dan sukacita yang luar biasa.
Untuk informasi lebih lanjut tentang proses konklaf, kamu bisa tonton video penjelasan ini:
Video Penjelasan Proses Konklaf (Contoh Link - Ganti dengan URL video YT relevan jika ada) Note: Please replace the example URL with a real, relevant YouTube link explaining the Conclave process if you find one.
Setelah Terpilih: Dari ‘Ya’ Hingga ‘Habemus Papam’¶
Begitu seorang kardinal mendapatkan dua pertiga suara, proses di Kapel Sistina memasuki tahap berikutnya. Kardinal Dekan (atau kardinal pertama dalam urutan berdasarkan penahbisan) akan mendekati kardinal yang terpilih dan mengajukan dua pertanyaan krusial dalam bahasa Latin:
- “Apakah Anda menerima pemilihan kanonik (sesuai hukum gereja) atas diri Anda sebagai Pontif Agung?” (Acceptasne electionem de te canonice factam in Summum Pontificem?)
- “Dengan nama apa Anda ingin dipanggil?” (Quo nomine vis vocari?)
Momen ini adalah titik balik yang paling penting bagi kardinal yang terpilih. Jika ia menerima (dan hampir selalu diterima, karena menolak dianggap sebagai penolakan terhadap kehendak Tuhan yang telah diwujudkan melalui suara para kardinal), ia secara resmi menjadi Paus baru pada saat itu juga. Ia kemudian akan mengumumkan nama kepausan yang ia pilih. Pilihan nama ini seringkali memiliki makna mendalam, menghormati Paus atau santo pendahulu yang ingin ia jadikan inspirasi bagi kepausannya.
Setelah menerima, Paus baru akan dibawa ke sebuah ruangan kecil di dekat Kapel Sistina yang dikenal sebagai “Ruangan Air Mata” (Room of Tears). Nama ini konon karena emosi campur aduk yang mungkin dirasakan oleh Paus yang baru terpilih: sukacita terpilihnya, tetapi juga beban berat dan tanggung jawab yang luar biasa yang kini ada di pundaknya. Di ruangan ini, Paus baru akan mengenakan jubah kepausan berwarna putih. Ada tiga ukuran jubah yang sudah disiapkan sebelumnya oleh penjahit Vatikan, untuk memastikan setidaknya ada satu yang muat.
Kemudian, Paus baru akan kembali ke Kapel Sistina. Para Kardinal Elector akan mendekatinya satu per satu atau secara berkelompok untuk menyatakan ketaatan dan penghormatan mereka kepada Paus yang baru. Ini adalah momen persatuan dan pengakuan terhadap otoritasnya. Setelah itu, semua kardinal bersama-sama berdoa di hadapan Paus baru.
Akhirnya, tibalah saatnya untuk mengumumkan kepada dunia. Kardinal Protodeakon (kardinal paling senior dalam ordo Diakon) akan muncul di balkon utama Basilika Santo Petrus yang menghadap Lapangan Santo Petrus. Di hadapan ribuan orang yang menunggu dengan sabar di bawah, ia akan mengucapkan formula Latin yang terkenal:
“Habemus Papam!” (Kita memiliki Paus!)
Ia kemudian akan menyebutkan nama baptis dari kardinal yang terpilih, diikuti dengan nama kepausan yang dipilihnya. Lapangan Santo Petrus biasanya akan bergemuruh dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Tidak lama setelah pengumuman, Paus baru akan muncul di balkon yang sama untuk memberikan berkat pertamanya kepada kota Roma dan seluruh dunia (Urbi et Orbi). Ini adalah penampilan publik pertama Paus baru, momen yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik dan banyak orang di seluruh dunia.
Fakta Menarik Seputar Konklaf¶
Proses konklaf ini penuh dengan sejarah dan anekdot menarik. Misalnya, konklaf terpanjang dalam sejarah berlangsung pada abad ke-13 dan memakan waktu lebih dari tiga tahun! Itu yang membuat aturan penguncian para kardinal benar-benar diterapkan secara ketat. Sementara itu, konklaf terpendek konon hanya berlangsung satu hari.
Ada kalanya Paus terpilih bukanlah nama yang paling banyak diprediksi oleh media atau pengamat Vatikan. Ini menunjukkan bahwa proses di dalam konklaf benar-benar dinamis dan bisa menghasilkan kejutan. Roh Kudus (menurut keyakinan Katolik) bekerja dengan cara-cara yang tidak terduga.
Perubahan aturan konklaf juga mencerminkan adaptasi gereja terhadap zaman. Hak veto yang dulunya dimiliki oleh beberapa penguasa Eropa untuk menolak kandidat tertentu akhirnya dihapuskan pada awal abad ke-20, menegaskan kemandirian pemilihan Paus dari campur tangan negara.
Penggunaan asap sebagai sinyal juga mengalami perbaikan. Di masa lalu, kadang sulit membedakan antara asap hitam dan putih, menimbulkan kebingungan di luar. Itulah sebabnya penambahan bunyi lonceng Basilika Santo Petrus saat asap putih muncul menjadi penting di konklaf modern.
Logistik di Balik Layar yang Tak Terekspos¶
Di balik prosesi dan ritual khidmat di Kapel Sistina, ada logistik yang cukup kompleks untuk menjaga agar konklaf berjalan lancar dan para kardinal tetap terisolasi. Penginapan di Domus Sanctae Marthae harus dipersiapkan untuk menampung puluhan, bahkan lebih dari seratus, kardinal. Setiap kamar harus siap, makanan harus disajikan secara rutin (meskipun tidak mewah), dan kebutuhan dasar lainnya harus terpenuhi.
Selain para Kardinal Elector, ada sejumlah kecil personel pendukung yang juga ikut terisolasi di dalam Vatikan selama konklaf. Mereka ini termasuk dokter, suster, juru masak, petugas kebersihan, petugas keamanan (tentu saja dengan sumpah kerahasiaan!), rohaniwan untuk membantu para kardinal dengan pengakuan dosa, dan teknisi untuk memastikan semua sistem berjalan (termasuk sistem pembakaran asap!). Mereka semua juga harus mengucapkan sumpah kerahasiaan dan tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan dunia luar. Ini adalah operasi yang sangat teliti untuk memastikan tidak ada informasi yang bocor.
Makna Spiritual dan Dampak Global¶
Lebih dari sekadar proses administratif atau politik, konklaf adalah momen spiritual yang sangat dalam bagi Gereja Katolik. Selama konklaf, jutaan umat Katolik di seluruh dunia berdoa untuk para kardinal, memohon bimbingan Roh Kudus agar mereka dapat memilih pribadi yang dikehendaki Tuhan untuk memimpin gereja di masa mendatang. Para kardinal di dalam Kapel Sistina juga menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan merenung, menyadari beratnya tanggung jawab yang mereka emban.
Pemilihan Paus baru memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi hubungan antaragama, politik internasional, dan isu-isu sosial global. Paus adalah pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar orang dan juga kepala negara Kota Vatikan. Kata-kata dan tindakannya bisa mempengaruhi pandangan dunia terhadap berbagai isu.
Oleh karena itu, proses konklaf selalu menarik perhatian dunia. Media dari berbagai negara berkumpul di Roma, melaporkan setiap perkembangan (sekecil apa pun itu, seperti munculnya asap!) dan menganalisis kemungkinan kandidat serta implikasi dari pemilihan tersebut.
Konklaf adalah perpaduan unik antara tradisi kuno, kerahasiaan ketat, dan momen penting bagi masa depan sebuah institusi global yang berusia dua milenium.
Nah, bagaimana menurutmu tentang proses pemilihan Paus ini? Sangat menarik, bukan?
Pernahkah kamu menyaksikan momen munculnya asap putih atau pengumuman “Habemus Papam”? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar!
Posting Komentar