Lulus UP PPG Kemenag 2025: Bocoran Soal PCK & SJT Ada di Sini!

Table of Contents

Lulus UP PPG Kemenag 2025

Halo calon guru profesional! Buat kamu para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lagi siap-siap menghadapi Ujian Pengetahuan alias UP PPG Kemenag 2025, pasti udah mulai nyari-nyari clue soal dong ya? UP ini memang jadi salah satu penentu kelulusan, jadi wajar banget kalau persiapannya harus maksimal.

Salah satu materi yang sering bikin penasaran dan banyak dicari itu contoh soal yang berkaitan sama Pedagogical Content Knowledge (PCK) dan Situational Judgement Test (SJT). Dua area ini memang penting banget buat ngukur kemampuan kamu sebagai guru PAI, nggak cuma soal penguasaan materi agama, tapi juga gimana cara mengajarkannya dan mengambil keputusan di berbagai situasi di sekolah. Di gelombang pertama PPG Kemenag 2025 ini, semangat belajarnya kerasa banget, apalagi yang udah mulai latihan soal berbasis kasus.

Nah, biar makin siap tempur, yuk kita bedah beberapa contoh soal yang bisa jadi gambaran. Ini bukan soal resmi lho ya, tapi contoh yang mirip-mirip sama tipe soal yang sering muncul buat nguji pemahaman PCK dan SJT kamu. Siap?

Apa Sih PCK dan SJT Itu Penting Buat Guru PAI?

Sebelum masuk ke contoh soal, kenalan singkat dulu yuk sama PCK dan SJT. Kenapa dua hal ini jadi fokus di UP PPG?

Pedagogical Content Knowledge (PCK) itu intinya adalah gabungan antara pengetahuan kamu tentang apa yang diajarkan (materi PAI) dan bagaimana cara mengajarkannya ke siswa dengan efektif. Ini bukan cuma hafal kurikulum, tapi juga paham gimana cara bikin konsep yang sulit jadi gampang dipahami siswa, gimana pakai metode ngajar yang pas buat materi tertentu, dan gimana ngevaluasi pemahaman mereka. Buat guru PAI, PCK ini penting banget biar materi agama nggak cuma jadi hafalan, tapi bisa dihayati dan diamalkan siswa.

Sementara itu, Situational Judgement Test (SJT) itu lebih ke nguji kemampuan kamu mengambil keputusan atau bertindak di situasi-situasi nyata yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah. Soal-soalnya biasanya berupa skenario kasus, terus kamu diminta milih tindakan apa yang paling tepat atau paling nggak tepat dari beberapa pilihan. SJT ngukur profesionalisme kamu, etika, cara komunikasi, sampe kemampuan problem solving. Guru PAI itu panutan, jadi SJT ini penting buat memastikan kamu bisa bersikap profesional dalam segala kondisi.

Nah, kombinasi PCK dan SJT inilah yang bakal jadi ‘amunisi’ kamu di UP nanti. Menguasai keduanya bikin kamu nggak cuma jadi guru yang pinter materi, tapi juga guru yang bijak dan profesional di kelas maupun di sekolah. Sekarang, yuk kita latihan soal!

Contoh Soal PCK & SJT untuk UP PPG PAI 2025

Ini dia beberapa contoh soal yang bisa kamu pelajari. Fokus pada skenario dan pilihan jawaban yang paling mencerminkan praktik guru PAI yang baik berdasarkan prinsip PCK dan SJT ya.

Contoh Soal 1: Tujuan Pembelajaran Ranah Sikap

Skenario:
Dalam rapat evaluasi kurikulum PAI di sekolah, Bu Eka, seorang guru PAI kelas 7, ingin merevisi tujuan pembelajaran untuk materi akhlak mulia, khususnya mengenai nilai jujur dan tanggung jawab. Ia menyadari bahwa selama ini fokusnya hanya pada pemahaman konsep, bukan pada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Bu Eka ingin memastikan tujuan pembelajarannya benar-benar mengarah pada pembentukan karakter siswa sesuai ajaran Islam, yaitu membentuk iman, takwa, dan akhlak mulia.

Pertanyaan:
Dari rumusan tujuan di bawah ini, manakah yang paling tepat sesuai prinsip penyusunan tujuan pembelajaran untuk ranah sikap (afektif)?

A. Siswa mengetahui pentingnya sikap jujur dan tanggung jawab dalam ajaran Islam.
B. Siswa dapat menjelaskan dampak positif dari perilaku jujur dan bertanggung jawab bagi diri sendiri dan orang lain.
C. Siswa menunjukkan sikap jujur dan bertanggung jawab dalam berbagai aktivitas di sekolah maupun di luar sekolah secara konsisten.
D. Siswa terbiasa membaca kisah teladan dari para Nabi dan Sahabat yang menunjukkan sikap jujur dan tanggung jawab.
E. Siswa menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis terkait perintah jujur dan pentingnya tanggung jawab.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Kenapa? Karena tujuan pembelajaran untuk ranah sikap itu harus berfokus pada perubahan perilaku yang bisa diamati. Pilihan A dan B masih berada di ranah kognitif (pengetahuan dan pemahaman). Pilihan D dan E adalah strategi atau aktivitas pembelajaran, bukan rumusan tujuan sikap yang spesifik. Tujuan ranah sikap harus menggambarkan aksi nyata atau kecenderungan berperilaku siswa, seperti ‘menunjukkan’, ‘berpartisipasi’, ‘menghargai’, atau ‘bertanggung jawab’. Pilihan C jelas menunjukkan ekspektasi perilaku siswa yang konkret terkait jujur dan tanggung jawab.

Contoh Soal 2: Strategi Pembelajaran Nilai

Skenario:
Pak Ahmad adalah guru PAI yang mengajar di kelas 8. Beliau mengamati bahwa banyak siswa di kelasnya masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Mereka sering membuang sampah sembarangan, tidak piket sesuai jadwal, dan membiarkan kelas kotor. Pak Ahmad ingin mengevaluasi dan mengubah strategi pembelajarannya untuk materi kebersihan dalam Islam (Thaharah atau bab terkait kebersihan lainnya) agar lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan aksi nyata pada siswa.

Pertanyaan:
Manakah strategi pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata siswa terkait akhlak menjaga kebersihan lingkungan sekolah?

A. Memberikan ceramah rutin tentang pentingnya menjaga kebersihan dalam Islam setiap awal pelajaran.
B. Meminta siswa membaca dan merangkum artikel atau buku tentang kebersihan menurut pandangan ulama.
C. Mengadakan diskusi mendalam tentang ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan menjaga lingkungan dan kebersihan.
D. Mengorganisir kegiatan aksi nyata membersihkan lingkungan sekolah secara rutin, melibatkan semua siswa, dan menjadikannya bagian dari penilaian sikap.
E. Memberi tugas kepada siswa untuk membuat poster-poster bertema kebersihan yang ditempel di sudut-sudut sekolah.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah D. Pembelajaran nilai, terutama yang berkaitan dengan pembiasaan dan aksi nyata seperti kebersihan, akan jauh lebih efektif jika melibatkan siswa secara langsung dalam praktik. Ceramah, membaca, diskusi, dan membuat poster (pilihan A, B, C, dan E) memang bisa membangun pengetahuan dan kesadaran awal, tetapi tidak sekuat pengalaman langsung melalui aksi nyata yang dilakukan berulang kali (pembiasaan). Menjadikan aksi nyata sebagai bagian dari penilaian juga memberikan motivasi tambahan bagi siswa. Ini sesuai dengan prinsip pembelajaran afektif yang menekankan pada doing dan experiencing.

Contoh Soal 3: Tujuan Pembelajaran Ranah Kognitif Tingkat Tinggi

Skenario:
Bu Lina sedang mengajarkan materi fikih munakahat (pernikahan) di kelas 11. Untuk mendorong siswa berpikir kritis dan menerapkan pengetahuannya dalam konteks nyata, ia memutuskan untuk menggunakan metode studi kasus. Bu Lina menyajikan beberapa skenario praktik pernikahan atau masalah keluarga yang terjadi di masyarakat, di mana sebagian ada yang tidak sesuai dengan hukum Islam. Ia ingin tujuan pembelajarannya mencerminkan kemampuan siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi kasus-kasus tersebut dari perspektif fikih.

Pertanyaan:
Dari pilihan tujuan pembelajaran berikut, manakah yang paling tepat untuk mendorong siswa mencapai kompetensi berpikir kritis pada ranah kognitif?

A. Siswa mengetahui rukun dan syarat sah pernikahan dalam Islam.
B. Siswa menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis utama yang menjadi dasar hukum pernikahan.
C. Siswa mampu membandingkan praktik pernikahan atau masalah keluarga dalam studi kasus dengan ketentuan hukum Islam yang berlaku, serta menganalisis kesesuaiannya.
D. Siswa dapat menyebutkan macam-macam bentuk pernikahan yang dilarang dalam Islam.
E. Siswa menyalin catatan guru tentang poin-poin penting dalam materi pernikahan.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang benar adalah C. Pilihan A, B, D, dan E lebih banyak menguji ranah kognitif tingkat rendah (pengetahuan, pemahaman, ingatan). Opsi C, dengan kata kerja operasional seperti “membandingkan” dan “menganalisis”, menuntut siswa untuk menggunakan pengetahuannya (rukun, syarat, hukum Islam) untuk mengevaluasi situasi baru (studi kasus). Ini adalah ciri khas ranah kognitif tingkat tinggi, sesuai dengan tujuan Bu Lina untuk mendorong berpikir kritis. Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi, ini masuk level “Analyze” atau bahkan “Evaluate”.

Mendalami SJT: Studi Kasus di Kelas PAI

Soal SJT ini seringkali bikin bingung karena pilihan jawabannya terkadang terlihat benar semua, padahal kita harus memilih yang paling tepat atau paling tidak tepat sesuai dengan kode etik guru, profesionalisme, dan prinsip pendidikan. Yuk, kita coba beberapa skenario SJT yang mungkin relevan dengan guru PAI.

Contoh Soal 4: Menangani Perilaku Siswa yang Tidak Sesuai Nilai PAI

Skenario:
Saat pelajaran PAI berlangsung, Pak Budi melihat salah satu siswanya, Adi, sedang mengejek teman sekelasnya yang gagap saat membaca Al-Qur’an. Beberapa siswa lain tertawa mendengar ejekan Adi. Pak Budi menyadari bahwa perilaku ini tidak mencerminkan akhlak mulia yang sedang diajarkan, dan bisa melukai perasaan siswa yang diejek serta menciptakan lingkungan belajar yang tidak kondusif.

Pertanyaan:
Tindakan pertama yang paling tepat diambil oleh Pak Budi dalam situasi ini adalah…

A. Langsung memarahi Adi di depan kelas agar siswa lain tidak meniru perilakunya.
B. Mengabaikan kejadian tersebut karena fokus pada siswa yang sedang membaca Al-Qur’an dan akan menangani Adi setelah pelajaran selesai.
C. Menghentikan sejenak kegiatan membaca, menegur Adi dengan tenang namun tegas, dan mengingatkan seluruh siswa tentang pentingnya menghargai sesama sesuai ajaran Islam.
D. Meminta siswa yang diejek untuk keluar kelas sementara agar tidak semakin malu.
E. Mencatat nama Adi dan melaporkannya langsung ke guru BK tanpa berbicara padanya terlebih dahulu.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Dalam situasi seperti ini, respons cepat namun mendidik sangat diperlukan. Pilihan A terlalu agresif dan bisa membuat siswa dendam. Pilihan B mengabaikan masalah yang sedang terjadi dan dampaknya pada siswa lain. Pilihan D mempermalukan korban, bukan pelaku. Pilihan E menunda penyelesaian masalah dan tidak memberikan pembelajaran langsung kepada siswa. Pilihan C memungkinkan Pak Budi untuk segera menghentikan perilaku negatif, memberikan teguran yang mendidik, dan menggunakan momen tersebut sebagai kesempatan untuk reinforcement nilai-nilai akhlak mulia kepada seluruh kelas, menciptakan teachable moment.

Contoh Soal 5: Berkomunikasi dengan Orang Tua

Skenario:
Ibu Fatimah, guru PAI kelas 10, memiliki seorang siswa bernama Sarah yang belakangan ini sering tidak mengumpulkan tugas PAI dan menunjukkan perubahan perilaku di kelas (sering melamun, kurang fokus). Ibu Fatimah khawatir dengan kondisi Sarah dan merasa perlu berkomunikasi dengan orang tuanya untuk mencari tahu apa yang terjadi dan bagaimana cara terbaik mendukung Sarah.

Pertanyaan:
Langkah yang paling profesional dan efektif diambil oleh Ibu Fatimah untuk berkomunikasi dengan orang tua Sarah adalah…

A. Langsung menelepon orang tua Sarah saat jam kerja dan menjelaskan semua keluhan tentang perilaku Sarah.
B. Mengirim pesan singkat kepada orang tua Sarah yang isinya meminta mereka datang ke sekolah secepatnya tanpa menjelaskan alasannya secara detail.
C. Menjadwalkan pertemuan khusus dengan orang tua Sarah pada waktu yang disepakati bersama, menjelaskan observasi yang telah dilakukan secara objektif, dan bersama-sama mencari solusi terbaik untuk Sarah.
D. Meminta Sarah untuk menyampaikan kepada orang tuanya agar datang ke sekolah karena ada masalah.
E. Mendiskusikan masalah Sarah dengan guru-guru lain di ruang guru agar mendapat masukan sebelum menghubungi orang tua.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Komunikasi dengan orang tua harus dilakukan secara profesional dan kolaboratif. Pilihan A terkesan buru-buru dan mungkin tidak pada waktu yang tepat bagi orang tua. Pilihan B tidak transparan dan bisa menimbulkan kekhawatiran. Pilihan D membebankan tanggung jawab komunikasi yang seharusnya dilakukan guru kepada siswa. Pilihan E melanggar kerahasiaan siswa jika dilakukan di ruang guru secara terbuka. Pilihan C menunjukkan profesionalisme guru dalam menjadwalkan pertemuan, menyampaikan informasi secara objektif, dan melibatkan orang tua sebagai mitra dalam mencari solusi, yang merupakan pendekatan terbaik dalam mendukung perkembangan siswa.

Contoh Soal 6: Menghadapi Perbedaan Pendapat dalam Interpretasi Ajaran

Skenario:
Dalam diskusi materi toleransi dalam Islam di kelas 9, seorang siswa bernama Amir mengajukan pertanyaan yang menunjukkan pemahaman yang agak kaku mengenai interaksi dengan non-Muslim, berbeda dengan penafsiran yang lebih moderat yang disampaikan oleh Pak Hasan, guru PAI-nya. Amir mengutip pandangan dari sumber yang ia baca di internet, yang kontradiktif dengan pendekatan inklusif yang diajarkan di sekolah.

Pertanyaan:
Respons Pak Hasan yang paling bijak dan mendidik dalam menyikapi situasi ini adalah…

A. Langsung menyalahkan sumber yang dikutip Amir dan mengatakan bahwa pemahamannya salah total.
B. Mengabaikan pertanyaan Amir dan melanjutkan materi sesuai rencana pembelajaran.
C. Mengakui bahwa dalam ajaran Islam memang ada beragam pandangan (ikhtilaf), mendengarkan pandangan Amir dengan terbuka, kemudian menjelaskan kembali pandangan yang sesuai dengan kurikulum dan konteks Indonesia yang damai, serta mengajak siswa berpikir kritis dalam memilih sumber informasi agama.
D. Meminta Amir untuk berhenti membahas hal tersebut di kelas dan membahasnya secara pribadi setelah jam pelajaran.
E. Memberikan tugas kepada Amir untuk mencari sumber lain yang mendukung pandangan Pak Hasan.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Seorang guru PAI profesional perlu mampu mengelola perbedaan pendapat dan mengajarkan siswa untuk bersikap kritis namun tetap santun. Pilihan A bersifat dogmatis dan bisa mematikan semangat siswa untuk bertanya. Pilihan B menghindari masalah dan tidak memberikan klarifikasi. Pilihan D bisa terkesan menghindar, meskipun diskusi personal bisa dilakukan setelah klarifikasi awal di kelas. Pilihan E bersifat memaksa siswa untuk mengikuti satu pandangan saja. Pilihan C menunjukkan sikap terbuka guru terhadap perbedaan, memberikan kesempatan siswa untuk menyampaikan pandangannya, meluruskan pemahaman dengan argumen yang kuat dan kontekstual, serta mendidik siswa untuk kritis terhadap sumber, yang merupakan keterampilan penting di era digital.

Contoh Soal 7: Mengelola Waktu dan Tugas

Skenario:
Di akhir semester, Bu Santi, guru PAI, merasa kewalahan dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan: menilai PR siswa dari beberapa kelas, menyiapkan materi ujian, mengisi laporan penilaian, dan menghadiri beberapa rapat komite sekolah dan kegiatan peringatan hari besar Islam di luar jam mengajar. Semua tugas terasa mendesak dan Bu Santi khawatir ada yang terlewat atau kualitasnya menurun.

Pertanyaan:
Strategi manajemen waktu dan tugas yang paling efektif dapat dilakukan Bu Santi dalam situasi ini adalah…

A. Bekerja lembur sampai larut malam setiap hari untuk menyelesaikan semua tugas secepat mungkin.
B. Meminta bantuan dari siswa-siswa yang pintar untuk memeriksa sebagian tugas teman-temannya.
C. Membuat daftar prioritas tugas berdasarkan urgensi dan pentingnya, memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil, dan menentukan alokasi waktu yang realistis untuk setiap tugas.
D. Fokus hanya pada tugas yang paling mendesak (misalnya menyiapkan ujian) dan menunda tugas lain seperti menilai PR sampai semua tugas mendesak selesai.
E. Mengeluh kepada rekan guru lain tentang beban kerjanya yang terlalu banyak.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Situasi ini menguji kemampuan guru dalam manajemen waktu dan tugas, yang merupakan bagian dari SJT terkait profesionalisme. Pilihan A bisa menyebabkan kelelahan dan burnout. Pilihan B melanggar prinsip penilaian dan kerahasiaan. Pilihan D berisiko menumpuk pekerjaan lain di kemudian hari. Pilihan E tidak menyelesaikan masalah. Pilihan C adalah pendekatan sistematis dalam manajemen waktu: mengidentifikasi tugas, memprioritaskan, memecah, dan merencanakan eksekusi. Ini menunjukkan keterampilan profesional dalam menghadapi beban kerja yang tinggi.

Contoh Soal 8: Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran PAI

Skenario:
Pak Joko ingin membuat pembelajaran PAI di kelas 7 materi Rukun Islam menjadi lebih menarik dan interaktif. Siswanya berasal dari generasi yang sangat akrab dengan teknologi digital. Pak Joko ingin memanfaatkan teknologi, tetapi sumber daya sekolah terbatas dan kemampuan digital siswa bervariasi.

Pertanyaan:
Pemanfaatan teknologi yang paling sesuai dengan konteks tersebut, menggabungkan efektivitas pembelajaran dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya dan kemampuan siswa, adalah…

A. Menggunakan aplikasi virtual reality untuk mensimulasikan ibadah haji, meskipun hanya beberapa siswa yang memiliki smartphone yang kompatibel.
B. Mewajibkan setiap siswa membuat video pendek tentang praktik shalat yang diunggah ke YouTube.
C. Membuat presentasi interaktif menggunakan platform seperti Nearpod atau Mentimeter yang bisa diakses siswa melalui smartphone sederhana atau komputer di laboratorium sekolah, diselingi kuis singkat dan polling.
D. Hanya menampilkan video ceramah dari ustadz terkenal di kelas menggunakan proyektor.
E. Meminta siswa mengunduh aplikasi belajar agama yang berat dan membutuhkan kuota besar.

Pembahasan & Jawaban:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Soal ini menguji PCK, khususnya dalam memilih metode dan media pembelajaran yang tepat dengan mempertimbangkan konteks siswa dan sumber daya. Pilihan A dan E membutuhkan perangkat dan akses internet yang canggih dan belum tentu dimiliki semua siswa. Pilihan B bisa jadi tugas yang terlalu kompleks bagi sebagian siswa dan ada isu privasi terkait unggahan publik. Pilihan D pasif dan kurang interaktif. Pilihan C menawarkan solusi yang relatif mudah diakses (bisa pakai smartphone sederhana atau komputer sekolah), interaktif (presentasi interaktif, kuis, polling), dan bisa melibatkan seluruh siswa, sehingga lebih efektif dalam menjangkau berbagai tingkat kemampuan digital siswa.

Tips Persiapan Menghadapi UP PPG Kemenag 2025

Setelah melihat contoh-contoh soal di atas, semoga kamu punya gambaran ya. UP PPG itu bukan cuma nguji hafalan materi PAI, tapi juga gimana kamu bisa jadi guru yang kompeten secara pedagogik, profesional, dan mampu beradaptasi di berbagai situasi.

Beberapa tips tambahan buat persiapanmu:

  1. Pahami Kurikulum PAI: Pastikan kamu menguasai materi PAI sesuai jenjang yang kamu ajar dan kurikulum terbaru. Tapi jangan cuma hafal, pahami konsepnya secara mendalam.
  2. Pelajari Prinsip Pedagogik: Review lagi teori-teori belajar, metode mengajar, evaluasi pembelajaran, dan penyusunan tujuan pembelajaran (ingat ranah kognitif, afektif, psikomotor!). Ini modal utama buat soal PCK.
  3. Latih Diri dengan Soal Berbasis Kasus: Cari dan kerjakan contoh-contoh soal PCK dan SJT sebanyak mungkin. Fokus pada analisis skenario dan pilihan jawaban. Kenapa jawaban A lebih baik dari B? Apa konsekuensi dari setiap tindakan?
  4. Baca Kode Etik Guru: Soal SJT seringkali berkaitan dengan profesionalisme dan etika. Pahami kode etik guru di Indonesia dan bagaimana menerapkannya dalam praktik sehari-hari.
  5. Diskusi dengan Rekan Guru: Belajar bareng atau diskusi kasus dengan sesama calon peserta PPG atau guru yang sudah berpengalaman bisa sangat membantu. Perspektif orang lain kadang membuka wawasan baru.
  6. Istirahat Cukup: Jangan lupa istirahat yang cukup dan jaga kesehatan menjelang ujian. Pikiran yang segar lebih siap menghadapi soal-soal yang butuh analisis mendalam.

UP PPG Kemenag 2025 ini adalah kesempatan emas buat kamu mengukuhkan diri sebagai guru PAI profesional. Soal PCK dan SJT memang butuh latihan dan pemahaman konsep, bukan cuma hafalan. Semakin sering kamu berlatih menganalisis kasus dan memilih tindakan terbaik, semakin terasah kemampuanmu nanti saat ujian.

Semoga contoh soal dan pembahasan ini bisa jadi bekal tambahan buat persiapanmu ya! Ingat, usaha maksimal insya Allah akan membuahkan hasil yang baik.

Gimana, ada contoh soal SJT atau PCK lain yang bikin kamu penasaran? Atau mungkin ada kasus di sekolahmu yang pengen didiskusiin gimana penyelesaiannya ala SJT? Share di kolom komentar dong! 👇

Posting Komentar