Salat Arbain di Madinah Saat Haji: Apa Sih Istimewanya?

Table of Contents

Salat Arbain di Madinah

Bulan Dzulhijjah 1446 Hijriah sudah semakin dekat, nih. Jutaan umat Muslim dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, bersiap-siap untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Perjalanan suci ini jadi impian banyak orang. Biasanya, jemaah haji Indonesia dibagi jadi dua gelombang keberangkatan.

Gelombang pertama biasanya berangkat lebih awal dan langsung menuju Kota Madinah Al Munawwarah terlebih dahulu. Sementara itu, gelombang kedua biasanya langsung mendarat di Jeddah untuk kemudian bergerak menuju Makkah Al Mukarramah. Kedua gelombang ini punya rutenya masing-masing, tapi sama-sama menuju puncak ibadah haji.

Bagi jemaah yang masuk gelombang pertama, ada kesempatan istimewa untuk ‘bertamu’ ke Kota Nabi, Madinah, sebelum nantinya bergeser ke Makkah untuk ibadah haji yang utama. Di Madinah, jemaah bisa merasakan kedekatan dengan sejarah Islam, terutama dengan Rasulullah Muhammad SAW. Ini adalah momen spiritual yang sangat berharga.

Salah satu aktivitas utama dan yang paling dicari-cari oleh jemaah saat berada di Madinah adalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Selain berziarah ke makam Rasulullah dan para sahabat di pemakaman Baqi’, banyak jemaah yang punya keinginan kuat untuk melaksanakan apa yang dikenal sebagai Salat Arbain. Istilah ini mungkin sudah nggak asing lagi di telinga para calon jemaah haji atau yang pernah umrah.

Mengapa Madinah Dulu? Keutamaan Berada di Kota Nabi

Berada di Madinah sebelum atau sesudah menunaikan puncak ibadah haji di Makkah adalah bagian yang sangat dinantikan. Kota ini punya tempat spesial di hati umat Islam karena di sinilah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban Islam, hijrah, wafat, dan dimakamkan. Mengunjungi Madinah bukan sekadar singgah, tapi ziarah untuk mengenang perjuangan beliau dan para sahabat.

Kesempatan berada di Masjid Nabawi itu sendiri sudah merupakan keutamaan yang luar biasa. Salat di Masjid Nabawi, berdasarkan hadis sahih, memiliki pahala 1000 kali lipat dibandingkan salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Ini menjadikan setiap rakaat yang dikerjakan di sana sangat bernilai di sisi Allah SWT. Jemaah biasanya memanfaatkan waktu di Madinah untuk memperbanyak ibadah, terutama salat wajib lima waktu di Masjid Nabawi.

Selain salat fardu, jemaah juga dianjurkan untuk memperbanyak salat sunah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa di dalam masjid. Suasana yang tenang dan penuh berkah di sekitar Masjid Nabawi sangat mendukung jemaah untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Di sinilah konsep Salat Arbain menjadi salah satu target spiritual yang ingin diraih jemaah.

Bagi jemaah gelombang pertama, Madinah seringkali menjadi tempat untuk “pemanasan” spiritual sebelum menghadapi kepadatan dan tantangan fisik di Makkah. Mereka punya waktu sekitar 8-9 hari untuk beradaptasi, beribadah dengan lebih tenang, dan merasakan kedamaian Kota Nabi. Salat Arbain adalah salah satu cara terbaik untuk memaksimalkan waktu singkat namun berharga tersebut.

Mengenal Lebih Dekat Salat Arbain

Istilah Salat Arbain seringkali dikaitkan dengan ibadah haji atau umrah di Madinah. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan Salat Arbain itu? Berdasarkan Tuntunan Manasik Haji dan Umrah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, Salat Arbain didefinisikan sebagai pelaksanaan salat fardu berjamaah sebanyak 40 waktu di Masjid Nabawi, Madinah.

Kata “Arbain” sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya angka 40. Jadi, secara harfiah, Salat Arbain adalah salat yang dilaksanakan sebanyak 40 kali. Dalam konteks di Masjid Nabawi, ini merujuk pada 40 waktu salat fardu berjamaah yang dikerjakan secara berturut-turut. Karena dalam sehari ada 5 waktu salat fardu, 40 waktu salat berarti setara dengan salat fardu selama 8 hari penuh (8 hari x 5 waktu = 40 waktu).

Tujuan utama jemaah yang berusaha keras menyelesaikan Salat Arbain ini adalah untuk meraih keutamaan yang disebutkan dalam hadis. Hadis yang sering dijadikan dasar motivasi adalah riwayat dari Anas bin Malik, meskipun hadis ini punya perbincangan di kalangan ulama mengenai status kesahihannya secara mutlak dan penerapannya secara spesifik pada “40 salat tanpa ketinggalan”. Namun, hadis ini secara luas menjadi dasar jemaah untuk berusaha meraih keutamaan tersebut.

Inti dari Salat Arbain, sebagaimana dipahami jemaah haji, adalah sebuah upaya disiplin diri untuk menjaga salat lima waktu berjamaah di tempat yang paling mulia setelah Masjidil Haram, yaitu Masjid Nabawi. Ini adalah bentuk komitmen kuat untuk memaksimalkan setiap detik di Kota Nabi dengan ibadah yang paling utama.

Tata Cara dan Ketentuan Salat Arbain

Melaksanakan Salat Arbain pada dasarnya adalah melaksanakan salat fardu lima waktu seperti biasa. Tidak ada niat khusus yang berbeda atau gerakan salat tambahan. Yang membedakan adalah ketentuannya: harus dilaksanakan sebanyak 40 waktu secara berturut-turut di Masjid Nabawi dan secara berjamaah.

Ini berarti, jemaah yang ingin meraih keutamaan Arbain harus menjaga salat Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya di Masjid Nabawi selama 8 hari tanpa terlewat satu waktu pun. Idealnya, pelaksanaan Arbain dimulai sejak waktu salat pertama tiba di Madinah (misalnya salat Ashar) dan diakhiri setelah genap 40 waktu salat (berarti di waktu Ashar di hari ke-9).

Penting juga untuk diupayakan agar selalu mendapatkan takbiratul ihram bersama imam. Ini menunjukkan kesungguhan dan komitmen dalam berjamaah sejak awal salat. Tentu ini memerlukan usaha ekstra, seperti datang lebih awal ke masjid, terutama saat waktu salat ramai.

Lalu, bagaimana jika terlewat satu waktu salat atau tidak berjamaah karena alasan tertentu? Jika satu waktu salat fardu terlewat atau tidak dilaksanakan di Masjid Nabawi atau tidak berjamaah (misalnya salat di hotel karena sakit atau alasan darurat lain), maka hitungan 40 waktu yang berturut-turut tadi dianggap terputus. Konsep “Arbain” yang mensyaratkan 40 waktu tanpa ketinggalan menjadi tidak terpenuhi. Namun, ini bukan berarti sia-sia.

Setiap salat yang dikerjakan di Masjid Nabawi, baik itu satu waktu, sepuluh waktu, dua puluh waktu, atau berapa pun, tetap memiliki pahala yang sangat besar (1000 kali lipat) dan sangat bermanfaat bagi jemaah. Jadi, meskipun Arbain 40 waktu berturut-turut terputus, jemaah harus tetap semangat untuk terus salat berjamaah di Masjid Nabawi selama sisa waktu di Madinah. Fokusnya adalah memaksimalkan ibadah, bukan sekadar mengejar angka 40. Disiplin 8 hari adalah tantangan yang melatih kesabaran dan ketekunan.

Bacaan Niat Salat Fardu untuk Rangkaian Arbain

Seperti disebutkan, tidak ada niat khusus untuk Salat Arbain. Niat yang dibaca adalah niat untuk salat fardu lima waktu seperti biasa. Berikut adalah bacaan niat salat fardu yang dikerjakan selama rangkaian Arbain di Masjid Nabawi. Niat ini diucapkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.

Niat Salat Subuh

اُصَلِّي فَرْضَ الصُّبْحِ رَكَعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا/اِمَامًا) لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli fardlash shub-hi ra’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku sengaja salat fardu Subuh dua rakaat menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Salat Zuhur

اُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا/اِمَامًا) لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli fardhadh dhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku sengaja salat fardu Zuhur empat rakaat menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Salat Asar

اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا/اِمَامًا) لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘asri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku sengaja salat fardu Ashar empat rakaat menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Salat Magrib

اُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا/اِمَامًا) لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku sengaja salat fardu Magrib tiga rakaat menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Niat Salat Isya

اُصَلِّي فَرْضَ الْعِشَاء اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً (مَأْمُوْمًا/اِمَامًا) لِلّهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal isya-i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku sengaja salat fardu Isya empat rakaat menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

Penting diingat, kata “(ma’muman/imaman)” dibaca sesuai dengan posisi kita saat salat. Jika menjadi makmum, baca “ma’muman”. Jika menjadi imam, baca “imaman”. Jika salat sendirian (tapi ini tidak memenuhi syarat Arbain), kata tersebut tidak perlu dibaca.

Meraih Keutamaan Salat Arbain

Hadis yang populer di kalangan jemaah haji dan umrah mengenai keutamaan Salat Arbain memberikan motivasi yang kuat untuk menjalankannya. Hadis tersebut, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ath-Thabrani (meskipun statusnya dibicarakan oleh ulama), menyebutkan beberapa keutamaan spesifik bagi yang menunaikan 40 salat berturut-turut tanpa ketinggalan di Masjid Nabawi.

Berikut adalah keutamaan-keutamaan yang disebutkan dalam hadis tersebut:

1. Kebebasan dari Neraka

Keutamaan pertama yang paling didambakan adalah kebebasan dari api neraka. Ini adalah janji keselamatan yang luar biasa dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang konsisten dan disiplin dalam ibadah, khususnya di tempat yang mulia seperti Masjid Nabawi. Memperoleh ‘baraa’ah minan naar’ (pembebasan dari neraka) adalah tujuan tertinggi setiap Muslim. Disiplin selama 8 hari penuh salat berjamaah di masjid Nabi menjadi sebab meraih janji agung ini, tentu dengan izin dan rahmat Allah.

2. Keselamatan dari Siksaan

Selain bebas dari neraka, jemaah yang berhasil menyelesaikan Salat Arbain juga dijanjikan keselamatan dari berbagai bentuk siksaan. Siksaan ini bisa mencakup siksa kubur, kesulitan di Padang Mahsyar, hingga siksaan lainnya di akhirat. Konsistensi dalam ibadah fardu di tempat yang diberkahi ini dipandang sebagai benteng perlindungan diri dari azab Allah. Ini menunjukkan betapa besar nilai ketekunan dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

3. Bebas dari Kemunafikan

Keutamaan ketiga adalah menjadi bebas dari sifat munafik. Munafik adalah orang yang di luarnya terlihat beriman dan beramal saleh, namun di dalam hatinya menyembunyikan kekafiran atau ketidakikhlasan. Konsisten melaksanakan salat berjamaah di masjid, terutama salat Subuh dan Isya yang seringkali berat bagi sebagian orang, adalah tanda keimanan yang kuat dan ketulusan. Kedisiplinan selama 8 hari penuh tanpa terputus melatih keikhlasan dan melawan rasa malas atau riya (pamer). Ini membantu membersihkan hati dari benih-benih kemunafikan.

Penting untuk diingat bahwa selain keutamaan spesifik dari hadis Arbain, setiap salat di Masjid Nabawi memiliki pahala 1000 kali lipat. Ini adalah motivasi umum yang sangat kuat bagi setiap Muslim untuk memperbanyak ibadah di sana, terlepas dari apakah mereka berhasil menyelesaikan 40 waktu berturut-turut atau tidak. Setiap langkah menuju masjid, setiap rakaat yang dikerjakan, setiap zikir yang dilantunkan di Masjid Nabawi memiliki nilai yang berlipat ganda.

Mengejar Salat Arbain adalah bentuk motivasi tambahan untuk memaksimalkan keberadaan di Madinah, memastikan bahwa waktu yang berharga di Kota Nabi tidak disia-siakan tanpa salat berjamaah di masjidnya yang mulia.

Tips Praktis Melaksanakan Salat Arbain Selama Haji

Melaksanakan Salat Arbain selama musim haji bisa menjadi tantangan tersendiri karena kondisi yang padat. Berikut beberapa tips praktis bagi jemaah agar bisa meraih keutamaan ini:

  1. Atur Waktu dengan Baik: Pelajari jadwal salat harian di Madinah. Usahakan tiba di masjid jauh sebelum waktu iqamah, terutama untuk salat yang ramai seperti Subuh, Maghrib, dan Isya. Ini membantu mendapatkan tempat yang nyaman dan memastikan tidak ketinggalan takbiratul ihram imam.
  2. Jaga Kesehatan: Kondisi fisik sangat berpengaruh. Pastikan cukup istirahat, minum air putih yang cukup, dan makan teratur. Jika merasa tidak enak badan, segera cari pertolongan medis. Jangan sampai sakit mengganggu rutinitas salat di masjid.
  3. Pahami Lokasi: Kenali area Masjid Nabawi dan rute dari penginapan Anda. Ketahui lokasi pintu masuk dan keluar yang nyaman, serta lokasi toilet dan tempat wudu. Bagi jemaah perempuan, kenali area salat khusus perempuan yang biasanya berbeda pintu masuknya.
  4. Koordinasi dengan Rombongan/Pendamping: Beri tahu ketua rombongan atau pendamping bahwa Anda bertekad melaksanakan Salat Arbain. Mereka mungkin bisa memberikan dukungan atau informasi terkait jadwal kegiatan rombongan agar tidak bentrok dengan waktu salat.
  5. Bawa Perlengkapan Secukupnya: Saat ke masjid, bawa perlengkapan secukupnya seperti sajadah tipis, kantong sandal/sepatu, dan botol air minum. Hindari membawa barang berharga dalam jumlah banyak.
  6. Sabar Menghadapi Keramaian: Masjid Nabawi selalu ramai, terutama saat musim haji. Bersiaplah untuk berdesakan dan tetap sabar serta menghormati jemaah lain. Cari tempat yang agak longgar jika memungkinkan, tapi jangan memaksakan diri jika kondisi terlalu padat.
  7. Fokus pada Kualitas Salat: Jangan hanya terfokus pada target 40 waktu, tapi usahakan salat dengan khushu’ (khusyuk). Pahami bacaan salat dan rasakan kedekatan dengan Allah. Kuantitas (40 waktu) harus dibarengi dengan kualitas ibadah.
  8. Jangan Putus Asa Jika Terlewat: Jika karena satu dan lain hal terlewat satu waktu salat di masjid atau tidak berjamaah, jangan lantas menyerah. Ingat bahwa setiap salat di Masjid Nabawi tetap bernilai ribuan kali lipat. Teruslah berusaha untuk salat berjamaah di masjid untuk waktu-waktu berikutnya selama Anda di Madinah. Niatkan untuk memaksimalkan ibadah sebanyak mungkin.

Dengan perencanaan dan usaha yang sungguh-sungguh, insya Allah jemaah bisa menjalankan Salat Arbain atau setidaknya memperbanyak salat fardu berjamaah di Masjid Nabawi selama berada di Madinah.

Pengalaman Spiritual di Masjid Nabawi dan Sekitarnya

Selain Salat Arbain, ada banyak hal lain yang bisa dilakukan jemaah di Madinah untuk memperkaya pengalaman spiritual mereka. Madinah adalah kota yang penuh dengan situs bersejarah yang terkait erat dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Mengunjungi tempat-tempat ini bisa menambah pemahaman dan kecintaan kepada Nabi dan ajaran Islam.

Salah satu tempat yang paling ingin dikunjungi adalah Raudhah Syarifah, area di dalam Masjid Nabawi yang terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW. Area ini disebut sebagai salah satu taman surga di dunia. Beribadah dan berdoa di Raudhah dipercaya memiliki keutamaan yang sangat besar. Mengakses Raudhah memerlukan kesabaran ekstra karena selalu penuh sesak dan ada jadwal khusus bagi jemaah laki-laki dan perempuan.

Jemaah juga bisa berziarah ke Pemakaman Baqi’, tempat dimakamkannya ribuan sahabat Nabi, istri-istri Nabi, dan keluarganya. Berziarah ke Baqi’ mengingatkan pada kematian dan perjuangan para pendahulu kita dalam menegakkan Islam. Bagi jemaah laki-laki, bisa masuk ke area pemakaman, sementara jemaah perempuan hanya bisa melihat dari luar pagar.

Kunjungan ke Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW di luar Madinah, juga sangat dianjurkan. Salat dua rakaat di Masjid Quba pahalanya seperti melakukan umrah. Jemaah biasanya pergi ke sana dengan bis atau taksi dari Masjid Nabawi.

Tempat bersejarah lainnya adalah Bukit Uhud, lokasi pertempuran antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy. Di sini terdapat makam para syuhada Uhud, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib. Mengunjungi Uhud memberikan pelajaran berharga tentang kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan.

Semua aktivitas ini, termasuk mengejar Salat Arbain, adalah bagian dari upaya jemaah untuk memaksimalkan setiap momen di Kota Nabi yang penuh berkah. Ini adalah kesempatan langka yang belum tentu datang berkali-kali dalam hidup.

Lebih dari Sekadar Angka 40

Pada akhirnya, Salat Arbain lebih dari sekadar hitungan 40 waktu salat. Ini adalah simbol dari kedisiplinan, komitmen, dan kecintaan seorang hamba untuk selalu terhubung dengan Tuhannya melalui salat, terutama di tempat yang paling dicintai Rasulullah SAW setelah Makkah.

Disiplin selama 8 hari penuh untuk selalu hadir di masjid, berjamaah, dan menjaga waktu salat adalah latihan spiritual yang sangat berharga. Ini melatih kita untuk memprioritaskan akhirat di tengah kesibukan dunia, bahkan di tengah keramaian ibadah haji itu sendiri.

Keutamaan yang disebutkan dalam hadis menjadi motivasi, sementara proses menjalankan Arbain itu sendiri adalah pembelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan kecintaan pada ibadah berjamaah di masjid. Semoga setiap jemaah haji diberikan kemudahan dan kekuatan untuk bisa meraih keutamaan ini, atau setidaknya bisa memperbanyak salat dan ibadah lainnya di Masjid Nabawi.

Pengalaman spiritual di Madinah, dengan segala aktivitas di Masjid Nabawi dan sekitarnya, akan menjadi bekal iman yang kuat saat jemaah melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan rukun haji. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah para jemaah haji.

Bagaimana pengalaman Anda atau harapan Anda tentang Salat Arbain di Masjid Nabawi? Atau ada tips lain bagi jemaah yang ingin melaksanakan Salat Arbain? Mari berbagi di kolom komentar!

Posting Komentar