Susah Cari Kerja? Feeling Warga RI Mirip Pas Pandemi Dulu!
Halo guys! Gimana nih kabarnya? Lagi pada berburu kerja atau udah aman di zona nyaman nih? Nah, ada kabar terbaru nih dari survei Bank Indonesia (BI) yang bikin kita sedikit flashback ke masa-masa awal pandemi COVID-19. Kok bisa? Soalnya, ekspektasi masyarakat soal ketersediaan lapangan kerja di Indonesia ternyata lagi ngerasain sentimen paling rendah sejak pandemi!
BI ngeluarin data dari Survei Konsumen edisi April 2025. Salah satu poin menariknya itu soal ekspektasi masyarakat terhadap lapangan kerja buat enam bulan ke depan. Hasilnya agak bikin mikir nih, indeksnya cuma di angka 123,5.
Angka 123,5 ini emang masih di atas 100, yang artinya secara umum masyarakat masih optimis. Tapi, kalo dibandingin sama bulan sebelumnya, Maret 2025, angkanya turun lho. Di bulan Maret itu, indeksnya masih di 125,9.
Nah, yang bikin mirip pandemi itu, angka 123,5 di April 2025 ini jadi yang terendah sejak September 2021. Inget kan September 2021 itu masih di tengah-tengah recovery dari gelombang pandemi? Waktu itu, indeks ekspektasi lapangan kerja bahkan lebih rendah lagi, cuma di angka 114,4. Jadi, penurunan ini lumayan berasa sampai mendekati sentimen di masa sulit itu.
Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEK-L) ini adalah bagian dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Fungsinya buat ngukur gimana sih kepercayaan masyarakat soal bakal ada atau enggaknya lapangan kerja baru dalam enam bulan ke depan, dibandingin sama kondisi sekarang. Jadi, kalo angkanya makin tinggi, makin banyak yang yakin bakal gampang cari kerja atau ada lowongan banyak. Kalo turun kayak sekarang, ya makin banyak yang ngerasa bakal lebih susah atau kesempatan makin dikit.
Siapa yang Paling Optimis & Pesimis?
Menarik nih, ternyata beda usia beda juga feeling-nya soal kerjaan. Kalo ngelihat dari data survei BI per kelompok usia, yang paling kurang optimis itu responden yang umurnya di atas 60 tahun. Indeks ekspektasi mereka cuma di angka 112. Mungkin karena di usia ini, kesempatan kerja formal memang lebih terbatas ya.
Sebaliknya, anak-anak muda usia 20-30 tahun jadi kelompok yang paling optimis. Indeks ekspektasi mereka mencapai 125,7. Wajar sih, mereka ini kan prime age buat masuk atau berkembang di dunia kerja. Energinya masih full dan skillset juga biasanya lebih up-to-date sama kebutuhan pasar.
Selain usia, tingkat pendidikan juga ngaruh ke optimisme lho. Responden yang lulusan SMA ternyata jadi kelompok yang paling galau soal ketersediaan kerja, indeksnya di 119,2. Mungkin ini tantangan ya buat lulusan SMA agar bisa bersaing di pasar kerja yang makin butuh skill spesifik.
Nah, yang paling optimis justru datang dari lulusan akademi/diploma. Indeks ekspektasi mereka paling tinggi, nyampe 137,8. Ini bisa jadi sinyal bahwa pasar kerja saat ini memang lagi butuh tenaga-tenaga terampil di level teknis atau vokasi. Jadi, buat yang lagi mikir mau lanjutin sekolah, jalur akademi/diploma ini bisa jadi pilihan menarik.
Gimana Sama Kondisi Lapangan Kerja Saat Ini?
Selain nanyain soal ekspektasi ke depan, survei BI juga ngukur gimana feeling masyarakat soal kondisi lapangan kerja saat ini dibandingin enam bulan lalu. Ini diukur pakai Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKE-L), yang merupakan bagian dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE).
Hasilnya, IKE-L di April 2025 itu di angka 101,6. Angka ini sedikit naik dibandingin Maret 2025 yang ada di 100,3. Artinya, secara umum masyarakat ngerasa kondisi lapangan kerja saat ini sedikit lebih baik dibanding enam bulan lalu.
Tapi, lagi-lagi ada catatan menarik nih. Angka 100,3 di Maret 2025 itu ternyata jadi yang terendah sejak April 2022. Dan di April 2022 itu, IKE-L malah di bawah 100, tepatnya 95,9, yang jelas nunjukin kondisi lagi susah karena masih efek pandemi.
Jadi, meskipun ada sedikit perbaikan di April 2025 dibanding Maret 2025, angka di bulan Maret itu sempet bikin khawatir karena jatuh ke level terendah sejak masa sulit pandemi. Ini nunjukin bahwa persepsi masyarakat soal kondisi lapangan kerja saat ini juga masih fluktuatif dan belum stabil-stabil banget.
Supaya lebih gampang lihat angkanya, coba perhatikan tabel sederhana ini:
| Indikator Lapangan Kerja BI Survey | April 2025 | Maret 2025 | September 2021 (IEK-L) | April 2022 (IKE-L) |
|---|---|---|---|---|
| Indeks Ekspektasi (6 bulan ke depan) | 123,5 | 125,9 | 114,4 | - |
| Indeks Kondisi Saat Ini (vs 6 bln lalu) | 101,6 | 100,3 | - | 95,9 |
Dari tabel ini, kelihatan kan tren penurunan di indeks ekspektasi dari Maret ke April 2025. Meskipun indeks kondisi saat ini naik, tapi levelnya di Maret 2025 sempat sangat rendah.
Data BPS Juga Nunjukin Tantangan
Selain survei BI, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengkonfirmasi adanya tantangan di pasar tenaga kerja kita. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti baru-baru ini ngasih tahu, per Februari 2025, ada 7,28 juta orang di Indonesia yang nganggur.
Angka 7,28 juta ini setara sama 4,76% dari total angkatan kerja kita yang jumlahnya 153,05 juta orang. Yang bikin greget, jumlah pengangguran ini ternyata meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Kata Bu Amalia, “Dibanding Februari 2024, per Februari 2025 jumlah orang menganggur meningkat 83.000 orang, yang naik 1,11%”.
Ini menarik, karena di satu sisi jumlah orang yang nganggur nambah, tapi di sisi lain Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2025 itu justru turun lho dibanding Februari 2024. Gimana ceritanya ya?
Fenomena ini dijelasin sama BPS bahwa penurunan TPT terjadi karena tingkat penyerapan tenaga kerja dan jumlah penduduk yang bekerja itu naiknya jauh lebih tinggi (2,52%) dibandingin peningkatan jumlah pengangguran (1,11%). Jadi, meskipun ada lebih banyak orang yang masuk kelompok pengangguran (mungkin dari angkatan kerja baru atau PHK), tapi jumlah orang yang dapet kerja jauh lebih banyak lagi, sehingga persentase penganggurannya terhadap total angkatan kerja jadi turun.
Tapi, ada lagi nih data BPS yang perlu jadi perhatian: proporsi penduduk yang bekerja di kegiatan informal juga makin banyak. Dari 59,17% di Februari 2024, naik jadi 59,40% di Februari 2025. Ini bisa jadi indikasi bahwa banyak orang yang akhirnya bekerja di sektor informal karena sulitnya menembus sektor formal yang mungkin menawarkan gaji dan jaminan yang lebih baik.
Apa Artinya Semua Ini?
Jadi, kalo digabungin antara data survei BI dan data BPS, kelihatan nih gambaran pasar tenaga kerja kita:
- Sentimen Menurun: Masyarakat, terutama di kelompok usia tua dan lulusan SMA, ngerasain kalau kesempatan kerja ke depan kayaknya bakal lebih susah dibanding beberapa bulan lalu. Sentimen ini bahkan mendekati level pesimisme pas masa pandemi dulu.
- Kondisi Saat Ini Fluktuatif: Persepsi soal kondisi lapangan kerja saat ini juga sempat nyentuh level terendah pasca-pandemi di bulan Maret, meskipun ada sedikit perbaikan di April. Ini nunjukin kondisi di lapangan belum sepenuhnya stabil.
- Jumlah Penganggur Bertambah: Meski TPT turun, jumlah orang yang tidak punya pekerjaan secara nominal ternyata malah naik. Ini artinya ada tantangan dalam menciptakan lapangan kerja yang cukup buat menampung pertumbuhan angkatan kerja.
- Sektor Informal Makin Dominan: Peningkatan proporsi pekerja informal bisa jadi sinyal bahwa banyak orang beralih atau terpaksa bekerja di sektor ini karena pilihan di sektor formal terbatas.
Kesimpulannya, meskipun angka pengangguran secara persentase turun dan ada perbaikan persepsi kondisi saat ini di bulan April, feeling masyarakat soal gimana prospek kerja ke depan ternyata lagi kurang bagus. Ini bisa jadi warning nih buat kita semua, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun para pencari kerja, buat sama-sama lebih proaktif menghadapi tantangan ini.
Pemerintah mungkin perlu fokus pada kebijakan yang bisa mempercepat penciptaan lapangan kerja berkualitas dan mendorong investasi. Pelaku usaha perlu terus berinovasi dan buka peluang kerja. Sementara kita sebagai individu, perlu terus upgrade skill dan adapt biar tetep relevan di pasar kerja yang dinamis ini.
Gimana nih menurut kalian? Apakah kalian juga ngerasain hal yang sama? Susah cari kerja atau justru lagi gampang-gampang aja?
Yuk, share pendapat dan pengalaman kalian di kolom komentar di bawah! Kita diskusi bareng ya!
Posting Komentar