Intip Harga Rumah Subsidi 14 Meter dari James Riady, Worth It Gak Ya?

Table of Contents

Intip Harga Rumah Subsidi 14 Meter dari James Riady

Jakarta - Wah, ada kabar menarik nih dari bos Lippo Group, Bapak James Riady! Beliau baru aja pamerin mock up atau contoh desain rumah subsidi yang ukurannya super mungil, cuma 14 meter persegi. Ini bisa jadi solusi baru buat yang pengen punya rumah tapi budget terbatas. Pasti banyak yang penasaran, rumah sekecil itu kayak apa isinya dan berapa harganya ya? Terus, kira-kira worth it nggak sih buat dibeli?

Contoh rumah subsidi minimalis ini dipamerin di Lobby Nobu Bank, di kawasan Jakarta Selatan. Ada dua pilihan tipe yang ditunjukin. Pertama, tipe single dengan satu kamar tidur yang luasnya tadi itu, 14 meter persegi. Kedua, tipe double yang punya dua kamar tidur dengan luas bangunan agak lega dikit, yaitu 23,4 meter persegi. Desainnya modern dan kelihatan fungsional meski ukurannya mungil banget. Ini nunjukkin kalau rumah subsidi itu nggak melulu harus bentuknya gitu-gitu aja, bisa juga punya sentuhan desain yang menarik.

Harga Mulai Rp 100 Jutaan, Cicilan Rp 600 Ribu?

Nah, ini dia yang paling ditunggu-tunggu: harganya! Menurut Bapak James Riady, rumah subsidi tipe single (14 meter persegi) ini diprediksi harganya bisa mulai dari Rp 100 juta. Tapi ya, ini kan tergantung lokasi juga. Kalau makin dekat ke pusat kota, harganya pasti bakal naik, bisa sampai Rp 120, Rp 130, bahkan Rp 140 juta. Sementara itu, untuk tipe double (23,4 meter persegi) harganya dimulai dari Rp 125 juta.

Lokasinya sendiri, rencananya sih bakal ada di daerah penyangga Jakarta alias Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Tapi, ada usulan juga nih dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Bapak Ara, supaya rumah subsidi ini juga ada opsi di dalam kota. Ini penting banget lho, terutama buat para milenial yang mungkin kerja di kota tapi pengen punya rumah. Punya rumah di kota dengan harga terjangkau tentu jadi impian banyak orang, kan?

Yang bikin makin ngiler, Bapak James Riady ngasih simulasi cicilannya. Kata beliau, kalau harga rumahnya sekitar Rp 110 juta, cicilannya bisa cuma sekitar Rp 600 ribu per bulan! Angka ini tetap selama 20 tahun. Bayangin aja, cicilan rumah cuma Rp 600 ribuan, kadang lebih murah dari sewa kos-kosan atau apartemen studio di kota, kan? Ini jelas jadi angin segar buat yang selama ini kesulitan nyisihin uang buat DP atau nyicil KPR rumah konvensional yang harganya makin melambung.

Respons Pemerintah dan Komunitas

Menteri PKP, Bapak Ara, sendiri masih belum mau buru-buru ngasih patokan harga pasti atau memutuskan kebijakan terkait rumah subsidi super mini ini. Beliau bilang, penting banget buat dengerin masukan dari berbagai pihak dulu. Jangan sampai nanti ada yang merasa nggak dikasih kesempatan ngasih input kalau keputusannya udah langsung diambil. Sikap kehati-hatian dari pemerintah ini patut diapresiasi, biar kebijakan yang diambil nanti bener-bener pas sasaran dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam seminggu ke depan, Bapak Ara berencana ngajak komunitas-komunitas terkait perumahan buat lihat langsung mock up rumah subsidi ini. Ini tujuannya buat dapetin masukan yang lebih komprehensif. Soalnya, sampai sekarang belum ada keputusan resmi soal perubahan batas minimal luas rumah subsidi. Selama ini kan standar rumah subsidi identik dengan tipe 36/60 (luas bangunan 36 meter persegi, luas tanah 60 meter persegi). Nah, kalau usulan 14 meter persegi atau 23,4 meter persegi ini diterima, berarti ada perubahan standar yang cukup signifikan.

Sementara itu, Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), Bapak Heru Pudyo Nugroho, ngasih pandangan dari sisi lain. Menurut beliau, harga rumah subsidi itu sangat bergantung sama harga tanah. Kalau dapat lokasi tanah yang harganya terjangkau, otomatis harga rumah subsidinya juga bisa ditekan jauh lebih rendah. Beliau mengiyakan kalau dengan konsep rumah yang lebih kecil ini, harga rumah subsidi bisa banget ada di kisaran Rp 100 juta, Rp 108 juta, Rp 110 juta, atau bahkan sampai Rp 120-an juta. Ini sejalan sama angka yang disebutin sama Bapak James Riady.

Desain Minimalis, Apakah Layak Huni?

Pertanyaan besar yang mungkin muncul di benak banyak orang adalah: apakah rumah seluas 14 meter persegi itu layak huni? Ya, luas 14 meter persegi itu kira-kira seukuran kamar kos atau kamar hotel yang standar. Untuk tipe single, ini berarti cuma ada satu ruangan utama yang multifungsi, mungkin digabung sama area dapur mini dan kamar mandi. Mungkin konsepnya mirip studio apartment tapi dalam versi yang jauh lebih kecil.

Desain yang dipamerkan oleh James Riady ini diharapkan bisa jadi opsi dan inspirasi buat pengembang lain yang mau ikutan bangun rumah subsidi. Bapak Ara bahkan udah ngajak pengembang yang hadir saat itu buat mempertimbangkan desain usulan ini. Dengan luas 14 meter persegi sebagai acuan luas terkecil yang memungkinkan, ke depannya bisa aja dikembangkan desain yang lebih luas lagi, misalnya 20 meter persegi, 25 meter persegi, atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Tinggal di rumah super mungil ini pasti punya plus minusnya. Plus-nya jelas dari sisi harga yang super terjangkau dan cicilan yang ringan. Ini bisa jadi tangga pertama buat kaum milenial atau masyarakat berpenghasilan rendah punya aset properti sendiri. Daripada uangnya habis buat sewa, mending buat nyicil rumah sendiri kan? Selain itu, rumah mungil biasanya lebih gampang dirawat dan dibersihkan. Hemat energi juga karena ruangannya kecil.

Tapi, ada juga minus-nya. Luas 14 meter persegi itu kecil banget. Mungkin akan terasa sempit kalau udah punya keluarga atau banyak barang. Storage atau tempat penyimpanan bakal jadi tantangan utama. Aktivitas sehari-hari juga mungkin terbatas. Kalau pengen terima tamu atau ngumpul bareng keluarga besar, pasti bakal ribet. Konsep rumah seperti ini paling cocok buat individu atau pasangan muda yang belum punya anak dan gaya hidupnya minimalis.

Perbandingan dengan Rumah Subsidi Tipe Standar

Selama ini, rumah subsidi identik dengan tipe 36/60. Ini artinya luas bangunan 36 meter persegi di atas lahan 60 meter persegi. Secara ukuran, tipe 36 ini jauh lebih besar dibanding usulan 14 atau 23,4 meter persegi.

Yuk, kita coba bandingkan secara kasar:

Fitur Rumah Subsidi Tipe 14m² (Single) Rumah Subsidi Tipe 23.4m² (Double) Rumah Subsidi Tipe 36/60 (Standar)
Luas Bangunan 14 m² 23.4 m² 36 m²
Luas Tanah Kemungkinan 30-40 m² (estimasi) Kemungkinan 40-50 m² (estimasi) 60 m²
Jumlah Kamar Tidur 1 2 2
Perkiraan Harga Rp 100 - 140 Juta Rp 125 - 160 Juta (estimasi) Rp 150 - 200 Juta (tergantung lokasi)
Perkiraan Cicilan Mulai Rp 600 ribuan Mulai Rp 700-800 ribuan (estimasi) Mulai Rp 900 ribu - 1.2 Juta (estimasi)

Catatan: Angka luas tanah, perkiraan harga tipe 23.4m², dan perkiraan cicilan di luar tipe 14m² adalah estimasi berdasarkan informasi yang ada dan perbandingan umum.

Dari tabel di atas kelihatan jelas, rumah subsidi super mini ini unggul telak di faktor harga dan cicilan. Ini yang jadi daya tarik utamanya. Bagi yang benar-benar punya budget terbatas, opsi ini bisa jadi penyelamat impian punya rumah. Tapi, harus siap berkompromi dengan ukuran ruang yang sangat terbatas. Sementara itu, tipe standar 36/60 menawarkan ruang yang lebih lapang dan nyaman untuk keluarga kecil, tapi dengan konsekuensi harga dan cicilan yang lebih tinggi.

Potensi Lokasi dan Kualitas Hidup

Meski Bapak James Riady bilang lokasi bisa di Bodetabek, usulan Menteri Ara untuk punya opsi di dalam kota juga menarik buat dibahas. Punya rumah subsidi di kota metropolitan seperti Jakarta atau kota besar lainnya tentu punya keunggulan aksesibilitas yang luar biasa. Dekat dengan tempat kerja, fasilitas umum, transportasi publik, dan pusat aktivitas. Ini sangat relevan buat gaya hidup milenial atau Gen Z yang banyak beraktivitas di perkotaan.

Namun, tantangannya, harga tanah di perkotaan itu mahal banget. Makanya, rumah subsidi di kota biasanya bentuknya vertikal alias apartemen low-rise atau mid-rise. Kalaupun horizontal, ukurannya pasti kecil banget kayak yang diusulkan 14 meter persegi ini, dan lokasinya mungkin di pinggiran kota yang masih masuk area urban.

Sebaliknya, lokasi di Bodetabek mungkin menawarkan harga tanah yang lebih murah, sehingga memungkinkan rumah horizontal (tapak) dengan harga subsidi. Tapi ya konsekuensinya, butuh waktu dan biaya ekstra buat commute ke tempat kerja di kota. Harus dihitung juga biaya transportasi harian, waktu yang dihabiskan di perjalanan, dan tingkat kemacetan. Ini semua mempengaruhi kualitas hidup lho. Jadi, pilihan lokasi ini juga jadi pertimbangan penting banget.

Saat ini, bola ada di tangan pemerintah, khususnya Kementerian PKP. Mereka masih mengkaji dan mendengarkan masukan. Apakah standar rumah subsidi akan benar-benar diubah? Apakah model rumah super mini ini akan jadi bagian dari program subsidi pemerintah? Atau hanya akan jadi opsi pengembangan dari pengembang swasta tanpa label subsidi resmi, tapi tetap dengan harga terjangkau? Semua masih menunggu keputusan.

Jika kebijakan ini jadi diresmikan dan rumah subsidi 14 meter persegi beneran tersedia dengan skema KPR bersubsidi dan cicilan Rp 600 ribuan, kira-kira antusiasme pasarnya bakal seperti apa ya? Melihat sulitnya generasi muda punya rumah di tengah harga properti yang terus naik, kemungkinan besar respons pasarnya bakal positif, terutama dari segmen milenial dan Gen Z yang baru merintis karier atau punya penghasilan terbatas. Mereka mungkin lebih realistis dan bersedia mengorbankan luas demi punya properti sendiri.


Yuk, intip juga diskusi menarik tentang rumah subsidi di Indonesia:

Watch a relevant video on YouTube
Contoh video YouTube: Video ini membahas tantangan dan peluang dalam mendapatkan rumah subsidi di Indonesia.


Secara keseluruhan, usulan rumah subsidi 14 meter persegi dari James Riady ini adalah ide yang out of the box dan berpotensi jadi solusi jitu buat masalah kepemilikan rumah di Indonesia, asalkan dikelola dengan baik dan diiringi kebijakan yang tepat. Ini membuka peluang buat masyarakat berpenghasilan rendah dan milenial buat punya rumah sendiri dengan harga yang benar-benar terjangkau.

Gimana menurut kalian? Worth it gak sih punya rumah seluas 14 meter persegi dengan harga dan cicilan segitu? Atau mending nabung lebih lama buat dapat rumah yang lebih luas?

Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar