John Wick 3: Jadi Buronan Nomor 1, Kejar-kejaran Maut Dimulai!
Siapa yang gak kenal sama John Wick? Mantan pembunuh bayaran paling legendaris ini memang selalu bikin tegang di tiap filmnya. Nah, di John Wick: Chapter 3 - Parabellum, ceritanya makin seru dan makin gila! Film ini pertama kali rilis di bioskop tahun 2019 lalu, digarap lagi sama sutradara jagoan aksi, Chad Stahelski. Produksinya melibatkan nama-nama besar kayak Summit Entertainment dan Lionsgate, jadi udah pasti kualitas aksinya gak main-main.
Film ini masih menampilkan Keanu Reeves yang ikonik banget sebagai John Wick. Tapi gak cuma dia, deretan pemain lainnya juga keren-keren abis. Ada Halle Berry yang jadi karakter baru yang penting, Ian McShane balik jadi Winston yang misterius, Laurence Fishburne sebagai Bowery King yang unik, Mark Dacascos jadi musuh yang nyebelin tapi cool, sampe Anjelica Huston. Yang paling bikin bangga, ada aktor bela diri kebanggaan Indonesia, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman, yang ikut meramaikan adegan laga di film ini. Kehadiran mereka dijamin bikin koreografi pertarungan makin yahud dan beda dari yang lain!
Halle Berry di sini bukan cuma pemanis lho, karakternya, Sofia, punya peran krusial banget dan aksi bertarungnya keren abis bareng anjing-anjing herdernya. Sementara itu, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman beneran menunjukkan kemampuan silat mereka yang bikin penonton takjub. Mereka bukan cuma figuran, tapi punya peran penting sebagai pembunuh elit yang ditugaskan memburu John. Bayangin aja, John Wick harus ngadepin jagoan silat dari Indonesia! Kebayang kan serunya kayak apa?
Sinopsis Lengkap John Wick 3: Parabellum¶
Setelah film sebelumnya berakhir gantung, Chapter 3 langsung menyambung cerita di mana John Wick baru aja dinyatakan “Excommunicado” dari Hotel Continental. Ini artinya dia udah gak dilindungi lagi sama aturan dunia kriminal yang super ketat. Seketika, John Wick jadi buronan paling dicari di seluruh dunia, dan harga kepalanya dipasang gila-gilaan: 14 juta dolar! Angka segitu jelas bikin semua pembunuh bayaran di mana pun tergiur buat ngejar dia.
Situasi John bener-bener genting. Setiap langkahnya di New York City dipantau. Lorong-lorong gelap, gang-gang sepi, bahkan keramaian jalanan pun bisa jadi tempat munculnya musuh. Dia harus bergerak cepat, hati-hati, dan selalu siap bertarung kapan aja. Film ini sukses banget nampilin suasana paranoia itu, di mana John gak bisa percaya siapa-siapa lagi kecuali dirinya sendiri dan insting bertarungnya. Kota New York yang biasanya gemerlap, di mata John jadi labirin penuh bahaya mematikan.
Di tengah keputusasaannya, John mencoba menghubungi Winston, manajer Continental New York, buat minta bantuan atau perlindungan. Tapi, High Table—dewan penguasa dunia bayangan para pembunuh—udah ngasih peringatan keras. Siapa pun yang berani bantu John bakal kena getahnya, bakal dianggap musuh High Table juga. Ini bikin posisi Winston serba salah, loyalitasnya diuji banget. Winston memang memberikan sedikit bantuan awal, tapi itu gak cukup buat John yang udah jadi target utama.
Dari informasi atau petunjuk samar yang didapat, John memutuskan untuk pergi ke Casablanca, Maroko. Konon katanya, ada tempat di sana yang masih bisa jadi tempat persembunyian atau setidaknya memberinya jalan keluar dari situasi pelik ini. Di sinilah dia ketemu Sofia, karakter yang diperankan apik oleh Halle Berry. Sofia ini dulunya teman dekat John dan sama-sama berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Sekarang, dia udah “pensiun” dan ngelola klub malam yang lumayan mewah di Casablanca.
Pertemuan John dengan Sofia di tengah padang pasir yang gersang jadi salah satu momen penting. John datang bukan buat basa-basi, dia butuh bantuan serius. Awalnya Sofia kelihatan enggan, dia udah ninggalin dunia itu. Tapi, ternyata dia punya “marker” atau semacam surat perjanjian utang budi sama John yang belum dilunasi. Demi kehormatan lamanya dan ngelunasin utang itu, Sofia akhirnya mau bantu, tapi dengan syarat yang cukup personal: John harus bantuin dia ngeluarin anjing-anjing herder kesayangannya yang disekap sama bos kriminal setempat.
Bagian ini seru banget karena kita lihat Sofia beraksi bareng anjing-anjingnya yang udah dilatih buat menyerang target. Adegan pertarungan di markas bos kriminal ini nunjukin chemistry John dan Sofia dalam bertarung dan gimana anjing-anjing itu jadi senjata mematikan. Koreografinya unik dan brutal. John berpikir setelah ini dia bisa sedikit tenang, tapi dia salah besar. Ancaman High Table makin nyata dan mereka gak main-main.
Setelah kejadian di Casablanca, John masih belum aman. Justru High Table makin murka karena dia masih hidup dan terus bikin masalah. Mereka ngutus sosok yang bernama The Adjudicator (diperankan Asia Kate Dillon), perwakilan tertinggi High Table yang datang buat menegakkan aturan dan ngasih hukuman. The Adjudicator ini karakternya dingin, tanpa emosi, dan cuma berpegang pada peraturan. Dia datang untuk “mengaudit” semua orang yang punya kaitan atau pernah bantu John, termasuk Winston di Continental dan Bowery King.
The Adjudicator dengan tegas bilang kalau aturan lama High Table gak berlaku lagi, dan siapa pun yang dianggap berkhianat atau gak menghormati High Table bakal dihukum berat. Dia ngasih semacam ultimatum ke Winston dan Bowery King, nuntut mereka buat mundur atau menghadapi konsekuensinya. Ini bikin Winston, yang selama ini kelihatan netral dan cuma peduli sama aturan Continental, dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah dia bakal tunduk pada High Table atau justru berdiri melawannya demi melindungi “keluarganya” di Continental?
Salah satu momen paling dinanti di film ini adalah ketika John harus ngadepin pembunuh-pembunuh bayaran kelas atas yang dikirim High Table. Ada banyak adegan pertarungan epik di sini. Mulai dari pertarungan jarak dekat di toko senjata antik, kejar-kejaran seru pake motor di jalanan New York, sampe yang paling diinget adalah pertarungan John ngelawan Zero (Mark Dacascos) dan murid-muridnya. Zero ini seorang pembunuh ninja yang ngefans berat sama John tapi harus ngejar dia.
Nah, bagian yang bikin penonton Indonesia bangga pastinya adalah ketika John Wick berhadapan langsung sama Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman, yang memerankan karakter bernama Shinobi #1 dan Shinobi #2. Mereka ini muridnya Zero dan jago banget silat! Adegan pertarungan John ngelawan mereka itu beneran masterpiece. Gerakan silat yang cepat, brutal, tapi tetep elegan ditampilkan dengan luar biasa. John Wick yang biasanya dominan, di sini kelihatan beneran kesulitan ngadepin jagoan silat Indonesia. Adegan mereka di ruang kaca itu bakal terus nempel di ingatan penonton. Ini bukti bahwa aktor laga Indonesia punya kualitas yang diakui dunia!
Akhirnya, ketegangan memuncak di Hotel Continental New York. Winston memutuskan untuk menolak permintaan The Adjudicator dan menyatakan perlawanan terhadap High Table. Ini memicu perang besar! Continental yang tadinya tempat suci dan netral, mendadak jadi medan perang. John Wick, bersama staf Continental yang setia dan punya kemampuan bertarung luar biasa, bahu membahu ngelawan pasukan High Table yang menyerbu. Adegan siege di Continental ini epic banget, penuh tembak-tembakan, pertarungan jarak dekat, dan strategi pertahanan.
Pertarungan terakhir yang paling intens terjadi di lantai atas Continental. John Wick harus ngadepin Zero dan murid-muridnya dalam duel maut. Setelah melewati berbagai rintangan dan luka parah, John berhasil bertahan. Film ini berakhir dengan adegan John Wick yang terluka parah setelah pertempuran itu, dijemput oleh Bowery King. Mereka berdua kelihatannya bakal bersekutu buat ngelawan High Table yang udah ngusik mereka.
Adegan Pertarungan Epik (Contoh)
Buat yang belum nonton atau pengen refresh, salah satu adegan yang paling ikonik di film ini adalah pertarungan John bareng Sofia di Casablanca, terutama saat anjing-anjing Sofia ikut menyerang target. Atau adegan brutal di toko senjata antik di New York di mana John pakai berbagai macam senjata tajam. Tentu saja, gak bisa dilupakan adegan pertarungan silat melawan Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang beneran nunjukkin kelas mereka sebagai master bela diri.
Link di atas adalah trailer resmi film John Wick: Chapter 3 - Parabellum.
Kesimpulan Sementara¶
John Wick: Chapter 3 - Parabellum bukan cuma sekadar film aksi biasa. Film ini bener-bener ngeksplor lebih dalam dunia yang udah dibangun di dua film sebelumnya. Aturan-aturan aneh tapi mengikat di dunia pembunuh bayaran, karakter-karakter unik di dalamnya, dan konsekuensi dari setiap tindakan bener-bener ditunjukin di sini. Film ini juga nunjukkin gimana John Wick itu bukan cuma jago berantem, tapi juga punya survivability yang luar biasa dan willpower buat terus hidup meskipun seluruh dunia ngincar dia.
Parabellum itu artinya “siapkan diri untuk perang”. Judul ini pas banget karena film ini emang prelude menuju perang besar yang bakal datang. Meskipun John selamat di akhir film, dia terluka parah dan sekarang bener-bener jadi musuh nomor satu High Table. Pintu terbuka lebar buat kelanjutan kisahnya di Chapter 4, yang pastinya bakal lebih brutal dan penuh aksi lagi. Film ini sukses banget bikin penonton penasaran gimana nasib John Wick selanjutnya dan apakah dia akhirnya bisa bebas dari dunia yang terus memburunya ini.
Gimana menurut kalian film John Wick: Chapter 3 - Parabellum ini? Adegan mana yang paling kalian suka? Atau penampilan siapa yang paling mencuri perhatian? Yuk, langsung tulis di kolom komentar di bawah ya!

Posting Komentar