Jokowi Condong ke PSI? NasDem: Mending Kayak SBY Aja, Santai!
Presiden ke-7 RI, Bapak Joko Widodo, lagi-lagi jadi perbincangan hangat. Kali ini soal arah politiknya setelah tak lagi menjabat. Sempat muncul isu beliau masuk bursa calon ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Eh, tapi respon Pak Jokowi malah beda, beliau bilang lebih milih ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan ini tentu menarik perhatian banyak pihak.
Salah satunya datang dari Partai NasDem. Bendum Partai NasDem, Ahmad Sahroni, memberikan tanggapannya terkait sikap politik Pak Jokowi yang seolah memberi sinyal ke PSI. Menurut Sahroni, sah-sah saja kok kalau Pak Jokowi punya pilihan ke mana pun setelah purna tugas. Beliau bebas menentukan langkah politiknya.
Tanggapan Santai dari NasDem¶
Ahmad Sahroni menyampaikan pandangannya ini dengan cukup santai saat dihubungi wartawan. Beliau bilang, “Beliau (Jokowi) mau ke mana aja boleh kok.” Ini menunjukkan bahwa dari sudut pandang NasDem, keputusan politik Pak Jokowi sepenuhnya ada di tangan beliau. Tidak ada larangan atau halangan.
Namun, sebagai sesama tokoh publik dan juga dalam kapasitasnya sebagai ‘adik’, Sahroni punya saran pribadi buat Pak Jokowi. Sarannya cukup sederhana tapi bijak. Beliau menyarankan agar Pak Jokowi lebih fokus untuk menikmati masa pensiunnya.
Belajar dari Gaya Santai SBY¶
Sahroni secara spesifik menyebut nama Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai contoh. Menurutnya, gaya hidup Pak SBY setelah tak jadi presiden patut dicontoh. Pak SBY terlihat tenang dan benar-benar menikmati waktu luangnya, tidak terlalu aktif di panggung politik praktis sehari-hari.
“Tapi saran saya sebagai adik, kiranya Pak Jokowi lihat contoh kaya Pak SBY, hidup tenang dan menikmati hidup setelah tidak lagi jadi presiden. Saya bangga lihatnya,” ujar Sahroni. Pandangan ini menyiratkan bahwa ada fase dalam hidup di mana seorang pemimpin negara sudah saatnya rehat dan menikmati hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun memimpin.
Serahkan Urusan Politik ke Generasi Penerus¶
Lebih lanjut, Sahroni juga berpendapat bahwa urusan politik sehari-hari sebaiknya diserahkan kepada generasi penerus. Siapa lagi kalau bukan anak dan menantu Pak Jokowi yang saat ini sudah terjun ke dunia politik? Kita tahu Gibran Rakabuming Raka kini menjabat sebagai Wakil Presiden terpilih, sementara Bobby Nasution adalah Wali Kota Medan. Keduanya sudah memiliki posisi strategis.
“Iya sebagai saran dan masukan berilah urusan politik bagi anak dan mantu yang saat ini sedang bertugas,” kata Sahroni. Ini adalah pandangan yang logis, mengingat estafet kepemimpinan dan kiprah politik memang akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Pak Jokowi, sebagai orang tua, dinilai cukup mengawasi dan memberikan arahan.
Sahroni menambahkan, “Pak Jokowi sebagai ayah harus selalu ngawasin anak dan mantunya yang lagi bekerja untuk rakyat. Insya Allah mereka akan jadi penerus Pak Jokowi ke depan.” Jadi, peran Pak Jokowi setelah tak di Istana bisa bergeser menjadi mentor dan pengawas bagi anak cucunya yang kini berkiprah di kancah politik.
Asal Mula Isu: Bursa Caketum PPP¶
Sebelumnya, isu ini mencuat setelah beredar kabar bahwa nama Pak Jokowi masuk dalam bursa calon ketua umum PPP. Seperti diketahui, PPP sedang dalam proses mencari pemimpin baru setelah hasil yang kurang memuaskan di Pemilu 2024. Wacana untuk mengajukan nama besar seperti Jokowi sempat muncul dari internal partai berlambang Kakbah itu.
Namun, saat dikonfirmasi mengenai kemungkinan tersebut, Pak Jokowi memberikan jawaban yang cukup mengejutkan banyak pihak. Beliau tidak mengiyakan masuk bursa Caketum PPP, justru malah menyebut nama PSI.
“Yang di PPP, saya kira banyak caketum yang jauh lebih baik, yang punya kapasitas, kapabilitas, punya kompetensi. Banyak itu calon yang sudah beredar kan banyak. Saya di PSI saja lah,” kata Jokowi saat ditemui awak media di kediamannya di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Pernyataan ini seperti kode keras dari Pak Jokowi terkait partai mana yang lebih dekat di hatinya belakangan ini. PSI memang dikenal sebagai partai yang sangat mendukung kebijakan dan kepemimpinan Jokowi selama ini.
PSI dan Kedekatannya dengan Jokowi¶
PSI, yang identik sebagai ‘partai anak muda’, memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Presiden Jokowi. Putra bungsu beliau, Kaesang Pangarep, bahkan menjabat sebagai Ketua Umum PSI saat ini. Kedekatan ini sering terlihat dalam berbagai kesempatan. Tak heran jika kemudian muncul wacana atau harapan dari kader PSI agar Pak Jokowi bisa bergabung dengan mereka setelah pensiun dari jabatannya.
Di sisi lain, PPP adalah salah satu partai anggota koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Meski demikian, dinamika internal PPP saat ini cukup kompleks pasca-pemilu. Wacana Caketum Jokowi mungkin muncul sebagai upaya mencari figur pemersatu dan penguat partai ke depan. Namun, tampaknya Pak Jokowi punya pertimbangan lain dengan melirik PSI.
Pilihan politik seorang mantan presiden memang selalu menarik perhatian. Apalagi figur sekaliber Jokowi yang masih memiliki pengaruh besar. Ke mana pun beliau berlabuh, pasti akan membawa dampak signifikan bagi partai tersebut.
Cek Juga Video Ini!¶
Pembahasan mengenai potensi Jokowi berlabuh di PSI ini juga sempat diramaikan dengan berbagai wacana. Bahkan, ada video yang membahas tentang siapa saja yang masuk bursa calon ketua umum PSI. Menarik kan melihat nama-nama yang beredar?
Video tersebut berjudul kurang lebih seperti ini: Daftar Bursa Calon Ketum PSI: Jokowi, Kaesang hingga Isyana
Melihat judulnya, jelas ada beberapa nama tenar yang disebut-sebut punya kans di internal PSI. Ada nama Pak Jokowi sendiri, putranya Kaesang Pangarep yang memang sudah menjabat, hingga nama tokoh lain seperti Isyana (mungkin merujuk pada tokoh atau figur publik tertentu yang dikaitkan). Ini menunjukkan betapa dinamisnya perbincangan mengenai kepemimpinan di PSI dan sosok-sosok yang berpotensi memegang kendali di partai tersebut ke depan.
Apapun pilihan Pak Jokowi nantinya, publik tentu akan terus mengamati. Apakah beliau akan benar-benar berpolitik aktif di PSI? Atau justru memilih gaya hidup santai seperti saran Ahmad Sahroni? Waktu yang akan menjawabnya.
Bagaimana menurut pendapat kalian? Setuju dengan saran Ahmad Sahroni agar Pak Jokowi santai saja seperti SBY, atau lebih baik tetap aktif di politik? Yuk, kasih komentar di bawah!
Posting Komentar