Khutbah Idul Adha 2025: Kupas Tuntas Ikhlas Berkurban, Biar Gak Cuma Jadi Ritual!
Khutbah Idul Adha 2025 dengan tema ikhlas berkurban ini bisa banget dipakai sama para khotib pas rangkaian Sholat Id Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah nanti. Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag RI) udah nentuin tanggal resminya. Idul Adha 1446 H ini bakal jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025. Keputusan ini keluar setelah Sidang Isbat buat nentuin 1 Dzulhijjah 1446 H. Pengumuman ini jadi patokan resmi buat semua umat Islam di Indonesia dalam nyiapin ibadah kurban di tahun 2025 ini.
Khutbah Shalat Idul Adha itu penting banget, bukan cuma formalitas. Isinya biasanya ngasih pencerahan dan motivasi buat jemaah. Nah, tema ikhlas dalam berkurban ini pas banget buat direnungin. Soalnya, kurban itu bukan cuma soal nyembelih hewan, tapi ada makna yang lebih dalam dari itu. Kita diajak buat ngerti, apa sih arti keikhlasan sejati di balik ibadah kurban yang kita lakuin tiap tahun. Biar ibadah kita nggak cuma jadi ritual tahunan yang lewat gitu aja, tapi beneran nancep di hati dan bawa perubahan positif dalam hidup.
Khutbah Idul Adha 2025 Tema Ikhlas Berkurban¶
Tema khutbah Idul Adha tahun 2025 kali ini ngangkat soal pentingnya keikhlasan dalam berkurban. Ini jadi pengingat krusial buat kita semua umat Muslim yang nyambut hari raya penuh berkah ini. Pesan ini bukan cuma buat yang berkurban, tapi buat semua jemaah agar bisa ngambil pelajaran dari semangat pengorbanan itu sendiri.
Berikut ini ada contoh teks khutbah Idul Adha 2025 yang fokus ke tema ikhlas berkurban. Semoga bisa jadi inspirasi dan nambah semangat ibadah kita semua ya!
Khutbah I
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، (3 مَرَّاتٍ) وَللهِ الْحَمْدُ. اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah Swt.,
Alhamdulillah, pagi ini kita bisa kumpul bareng di sini, di tempat yang mulia ini, buat ngelaksanain shalat Idul Adha. Momen ini tuh spesial banget dalam hidup kita sebagai umat Islam. Baru aja kita sama-sama sujud dan ruku’. Ini bukan sekadar kebiasaan atau rutinitas tahunan aja, tapi ini bukti nyata ketaatan dan penghormatan kita yang paling tulus sama Allah, Sang Pencipta semesta alam. Kita juga udah ngumandangin takbir dan tahmid. Suara “Allahu Akbar” itu nggak cuma keluar dari mulut kita, tapi juga dari lubuk hati yang paling dalam.
Gema takbir yang terus berkumandang itu bukan cuma lantunan biasa. Itu getaran jiwa kita, suara hati seorang hamba yang bener-bener sadar dan mengakui kebesaran Tuhan. Allah itu Maha Agung, Allah itu segalanya buat kita. Nggak ada satupun yang pantes disembah selain Dia. Jadi, yuk, kita sama-sama belajar buat ngerendahin hati di hadapan-Nya. Lepasin tuh rasa angkuh, gengsi, atau sombong yang kadang bikin kita jauh dari rahmat dan kasih sayang-Nya.
Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah Swt.,
Hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Haji. Bayangin deh, di saat kita kumpul di sini, ada jutaan saudara-saudari kita yang lagi wukuf di Padang Arafah. Itu puncak ibadah haji yang agung banget. Di sana, nggak ada bedanya siapa yang kaya atau miskin, siapa pejabat atau rakyat biasa. Semuanya pake kain putih sederhana, namanya pakaian ihram. Ini simbol bahwa kita semua sama di hadapan Allah. Status duniawi nggak ada artinya di sana.
Mereka kumpul di satu tempat, bareng-bareng seru dalam kalimat talbiyah. Mereka ngikrarkan ketaatan dan cinta yang tulus sama Allah. Dan dari peristiwa itu, kita bisa belajar banyak hal. Belajar tentang makna persaudaraan yang kuat, kesetaraan hak di hadapan Tuhan, dan semangat buat terus deketin diri sama Allah tanpa pandang bulu soal status atau jabatan.
لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Labaik Allahumma labaika Labaika Laa Syariika Laka Labaik
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah).
Saudara-saudaraku yang saya hormati,
Selain Hari Raya Haji, hari ini juga namanya Idul Qurban, atau Idul Nahr, Hari Penyembelihan. Kenapa? Karena di hari ini ada pesan besar banget soal keikhlasan dalam berkorban. Kata qurban itu sendiri artinya “dekat”. Jadi, inti dari ibadah kurban ini adalah mendekatkan diri kita sama Allah. Gimana caranya? Salah satunya dengan nyembelih hewan ternak, terus dagingnya dibagiin ke orang-orang yang butuh, terutama fakir miskin.
Tapi, dengerin baik-baik ya. Qurban itu nggak cuma sebatas nyembelih hewan. Ibadah ini ngingetin kita sama sebuah kisah yang luar biasa banget. Kisah tentang pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan iman dari keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam: Nabi Ibrahim sendiri, istrinya yang mulia Siti Hajar, dan anak mereka yang waktu itu masih kecil banget, Ismail.
Ceritanya, suatu hari Nabi Ibrahim dapet perintah dari Allah yang nggak gampang. Beliau disuruh bawa Siti Hajar sama Ismail ke sebuah lembah yang gersang banget. Nggak ada pohon sama sekali di sana, sepi, tandus, dan jauh dari mana-mana. Bayangin aja, jaraknya kira-kira 1.600 kilometer dari tanah kelahiran mereka di Palestina. Tapi, yang bikin takjub, mereka nerima perintah itu tanpa banyak tanya, tanpa protes, tanpa ragu sedikitpun. Mereka pasrahin diri sepenuhnya sama Allah, hatinya lapang, keyakinannya penuh.
Terus, pas air mulai habis, Siti Hajar, dengan bayi kecil yang nangis kehausan di pelukannya, lari bolak-balik antara dua bukit yang sekarang kita kenal sebagai Shafa dan Marwah. Beliau nggak nyerah. Terus aja berusaha, berusaha, dan berusaha. Dan di saat rasa putus asa udah hampir dateng, pertolongan Allah itu nyampe.
Allah ngutus Malaikat Jibril, dan dari tanah yang kering itu, tiba-tiba muncullah air Zamzam. Air itu sampai hari ini nggak pernah kering, loh! Dari sanalah, kehidupan mulai tumbuh. Orang-orang pada dateng. Lembah yang tadinya tandus perlahan berubah jadi tempat yang rame, makmur, dan diberkahi. Dan di sanalah, cikal bakal Kota Mekkah berdiri tegak, kuat, dan diberkahi, semua berkat kesabaran seorang ayah, keikhlasan seorang ibu, dan kekuatan doa yang nggak pernah putus.
Allah sendiri nyebut kota itu sebagai kota yang aman dan sejahtera. Ini ada di Al-Qur’an, biar kita semua inget.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Wa iż qāla ibrāhīmu rabbij‘al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahū minaṡ-ṡamarāti man āmana minhum billāhi wal-yaumil-ākhir(i)
Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” (QS Al-Baqarah: 126).
Coba liat sekarang. Tiap tahun, jutaan umat Islam dateng buat haji dan umrah di Makkah. Mereka dapet fasilitas yang lengkap banget: transportasi nyaman, penginapan bagus, layanan kesehatan oke, dan keamanan yang terjamin banget. Semua ini nunjukkin kemajuan yang luar biasa di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, tata kelola pemerintahan, sampe sistem hukumnya juga jalan dengan baik.
Kemakmuran di Makkah hari ini nggak cuma dinikmatin sama umat Islam aja, loh. Bahkan orang-orang non-Muslim pun ikut ngerasain berkahnya. Inilah bukti nyata janji Allah. Kalau doa dipanjatkan dengan tulus dan ikhlas, dan kalau usaha dilakuin dengan sungguh-sungguh, maka pertolongan-Nya itu pasti dateng. Dan cara pertolongan-Nya itu seringkali nggak pernah kita bayangin sebelumnya.
Allah negasin lagi semua ini dalam firman-Nya, biar kita inget terus bahwa kemakmuran sejati itu lahir dari ketakwaan, pengorbanan, dan doa yang nggak pernah berhenti. Allah SWT berfirman:
قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
qāla wa man kafara fa umatti‘uhū qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā ‘ażābin-nār(i), wa bi’sal-maṣīr(u).
Artinya: Allah berfirman: Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126).
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Hari raya yang kita rayain ini juga kan namanya Idul Nahr, Hari Penyembelihan. Ini ngarah ke peristiwa keren banget dalam sejarah kenabian, waktu hamba Allah yang paling taat, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, diuji dengan cobaan yang super berat. Bukan cuma harta atau kekuasaan yang diuji dari beliau, tapi sesuatu yang paling, paling dicintai sama manusia: anak kandungnya sendiri.
Kesabaran dan keteguhan hati Nabi Ibrahim itu luar biasa banget. Saking luar biasanya, beliau dikasih kehormatan yang nggak banyak nabi punya, yaitu gelar Khalilullah, Kekasih Allah. Meskipun hidupnya dikelilingi harta melimpah dan keluarga yang dicintai, hatinya tetep nempel kuat sama Allah. Nggak ada satupun yang bisa ngegeser posisi Allah di hatinya, bahkan kesibukan duniawi yang sering bikin kita lalai.
Dalam catatan para ulama, katanya Nabi Ibrahim itu kaya raya banget. Ribuan hewan ternak beliau punya, sampe jadi orang terpandang di zamannya. Tapi, beliau nggak pernah tuh dijadiin hartanya sebagai penghalang buat taat sama Allah. Beliau sadar sepenuhnya, semua yang dia punya itu cuma titipan. Dan kalau suatu saat Allah minta balik, beliau siap ngasih, bahkan kalau yang diminta itu yang paling berharga sekalipun.
Ujian paling besar itu dateng waktu beliau diperintah lewat mimpi yang bener (wahyu) buat ngorbanin putranya yang masih kecil. Bayangin, umur anaknya baru tujuh tahun waktu itu. Putra yang baru ditungguin sekian lama, jadi bagian dari ujian keimanan yang sungguh tak terbayangkan beratnya. Tapi, karena keyakinan dan kepatuhan yang dalam banget, Nabi Ibrahim jalanin perintah itu dengan penuh keikhlasan. Dan dari situlah, lahir ajaran qurban yang kita lakuin sampai hari ini.
Qurban itu bukan cuma motong hewan, lho. Dia itu simbol dari kerelaan kita buat ngelepasin segala sesuatu yang ngehalangin kita buat lebih deket sama Allah. Dia itu pengingat bahwa cinta sejati itu waktu kita nempatin Allah di atas segala-galanya: di atas harta, di atas keluarga, bahkan di atas diri kita sendiri.
Peristiwa itu diceritain jelas dalam Al-Qur’an, Surat As-Saffat ayat 102:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
qāla yā abatif‘al mā tu’mar(u), satajidunī in syā‘allāhu minaṣ-ṣābirīn(a).
Artinya: Ibrahim berkata : “Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS As-Saffat: 102).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Pas Nabi Ibrahim dan putranya bener-bener udah siap buat ngelaksanain perintah Allah, cobaan itu belum selesai. Di detik-detik paling genting, ujian lain dateng. Kali ini dari musuh abadi manusia: iblis. Dia nyoba nyelip di antara rasa ragu dan rasa sayang manusiawi yang pasti ada. Iblis berusaha banget ngegoyahin keyakinan mereka, dia datengin Nabi Ibrahim, Siti Hajar, bahkan Ismail satu per satu. Iblis berharap ada salah satu dari mereka yang goyah, batalin niatnya, atau setidaknya ragu.
Tapi, nggak ada satupun dari mereka yang goyah. Hati mereka udah terlalu teguh, terlalu yakin banget bahwa nggak ada kebaikan yang lebih besar dibanding taat sama Allah. Bahkan dorongan emosional seorang ibu pun nggak lebih kuat dari keyakinan Siti Hajar sama kebenaran wahyu Allah. Setan akhirnya terusir, kalah telak. Dan simbol dari momen itu sekarang dikenang dalam rangkaian ibadah haji, pas para jemaah ngelempar jumrah di Mina. Itu bukan cuma simbolik, tapi sebagai pengingat buat kita semua, bahwa dalam hidup ini, godaan iblis itu akan selalu dateng di titik-titik paling krusial, di saat iman kita diuji paling berat.
Setelah sampe di tempat yang udah ditentuin, dan semuanya keliatan tenang di permukaan, kenyataan yang harus mereka hadapin tetep berat. Dalam ketaatan total, sang ayah merebahkan anak yang begitu dicintainya. Hati mungkin hancur, tapi jiwa mereka tetep tenang, pasrah sama kehendak Allah. Di tengah kepasrahan itu, sang anak, Ismail, nunjukkin kedewasaan yang luar biasa. Dia nyiapin dirinya, nggak cuma fisik, tapi juga mental dan spiritual. Dia pengen proses itu berjalan tenang, nggak nyusahin ayahnya, dan nggak ninggalin luka yang lebih dalam dari yang udah ada.
Tapi, sesuatu yang nggak disangka-sangka, sesuatu yang luar biasa itu terjadi. Pas Nabi Ibrahim bener-bener siap buat jalanin perintah itu, dan pisau udah nyentuh leher sang anak, nggak ada setitik luka pun muncul. Pisau itu kehilangan ketajamannya, seolah nolak buat melukai. Ternyata, di momen itu, Allah nunjukin ke para malaikat sebuah pemandangan yang nggak bisa dijelasin pake logika: seorang ayah yang rela kehilangan anaknya demi ketaatan, dan seorang anak yang berserah diri sepenuhnya pada kehendak Tuhannya, tanpa perlawanan sedikitpun.
Kepatuhan kayak gitu tuh langka banget, bahkan di kalangan para nabi sekalipun. Dan pas kehendak Allah yang bicara, bahkan pisau yang tajam pun tunduk. Dia nggak berfungsi sebagaimana mestinya, bukan karena rusak atau tumpul, tapi karena nggak dapet izin dari Yang Punya Segala Keputusan. Pisau itu bisa motong batu, tapi nggak bisa melukai anak seorang nabi, karena perintah Allah adalah agar nyawa itu tetep hidup, biar kisah ini jadi pelajaran abadi buat kita semua, sepanjang masa.
Ini bukan cerita soal kekerasan, bukan sama sekali. Ini tuh cerita soal cinta, keikhlasan yang dalam banget, dan kepatuhan yang ngalahin naluri manusia biasa. Ini tentang gimana hubungan kita sama Allah bisa ngalahin segalanya, bahkan cinta yang paling kuat sekalipun buat anak sendiri.
Peristiwa agung ini diabadikan dalam Al-Qur’an, di Surat As-Saffat ayat 107 sampe 110. Ini sebagai bukti pengakuan dari langit bahwa keikhlasan dan kepatuhan sejati itu selalu dibales sama kemurahan dan kasih sayang Allah.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).
Artinya: “Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat:107)
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
Artinya: “Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat:108)
سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
Salāmun ‘alā ibrāhīm(a).
Artinya: “Salam sejahtera atas Ibrahim.” (QS. As-Saffat:109)
كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Każālika najzil-muḥsinīn(a).
Artinya: “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. As-Saffat:110)
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Waktu puncak pengorbanan itu udah dijalanin, dan langit sama bumi jadi saksi ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak itu, keliatanlah keagungan Allah di peristiwa yang nggak akan pernah dilupain dalam sejarah umat manusia. Malaikat Jibril yang balik dari surga bawa hewan pengganti, ngeliat kejadian itu sambil takjub. Kekaguman yang memuncak dari hatinya berubah jadi seruan pujian buat kebesaran Allah, seruan yang nanti jadi gema takbir yang kita ucapin pas Idul Adha, dari masa ke masa, sampe hari ini.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Di situlah awalnya takbir yang kita kenal. Pujian yang bukan cuma lantunan bibir, tapi pantulan dari peristiwa agung yang negasin bahwa taat total sama Allah itu adalah kemuliaan yang sejati. Bukan karena darah hewan yang ditumpahin, bukan karena nyawa yang hampir direlain, tapi karena hati yang bersih, niat yang tulus, dan pengorbanan yang ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam.
Shalat Idul Adha yang kita laksanain pagi ini bukan cuma ritual tahunan biasa, lho. Di dalamnya terkandung pesan yang dalam banget. Pesan bahwa semua manusia itu sebenernya sama aja. Yang bedain kita di hadapan Allah itu bukan muka kita kayak gimana, bukan jabatan kita apa, bukan juga seberapa banyak harta kita. Yang bedain kita itu adalah ketakwaan kita. Bahkan pas ibadah haji, terutama waktu wukuf di Arafah, kita diingetin lagi soal satu kenyataan besar yang bakal kita hadapi semua: dikumpulinnya seluruh umat manusia di Padang Mahsyar nanti. Di sana, nggak ada sekat, nggak ada keistimewaan duniawi. Kita semua berdiri sama buat mempertanggungjawabkan semua yang udah kita lakuin selama hidup di dunia ini.
Dari kisah agung Nabi Ibrahim dan Ismail, dari ketegaran Siti Hajar, kita juga bisa ambil banyak pelajaran penting buat hidup kita sekarang.
Pertama, orang tua punya peran besar banget dalam ngebentuk karakter anak. Ngebentuk pribadi yang beriman kuat, yang sayang dan hormat sama orang tua, dan yang paling penting, yang taat sama Allah dan Rasul-Nya. Ini tanggung jawab yang nggak boleh kita remehin.
Kedua, semua ketetapan Allah, bentuknya kayak apapun, harus kita terima dengan lapang dada dan tekad bulat buat taat. Kenapa? Karena semua yang Allah perintahkan itu sebenernya nggak ada yang sia-sia. Semuanya bakal balik lagi jadi manfaat dan berkah buat kita sendiri sebagai hamba-Nya.
Jama’ah Idul Adha yang berbahagia,
Idul Adha ini juga momen yang pas banget buat nggugah nurani kita. Buat nyadarin bahwa semangat berkorban itu bukan cuma soal nyembelih hewan ternak di hari H. Ini tuh ajakan buat kita semua, buat mersembahkan yang terbaik buat tanah air kita, buat sesama umat, dan buat masa depan bangsa yang lebih baik, yang lebih bermartabat. Di tengah macem-macem kesulitan yang lagi kita hadapi sebagai bangsa, semangat pengorbanan itu jadi nilai yang relevan banget dan penting buat kita hidupin lagi.
Apa yang dilakuin sama Nabi Ibrahim itu nggak cuma bikin beliau jadi sosok besar dalam sejarah kenabian. Kisah beliau juga jadi tonggak lahirnya peradaban Islam yang luar biasa. Dari kesabaran dan pengorbanannya bareng Siti Hajar dan Ismail, lahirlah Kota Makkah yang suci, berdirilah Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, ngalirlah air Zamzam yang nggak pernah kering sampe sekarang, dan terwarislah nilai-nilai keimanan yang hari ini jadi sumber kekuatan buat umat Islam di seluruh dunia.
Semoga perayaan Idul Adha tahun ini nggak cuma jadi rutinitas aja buat kita. Semoga jadi momen penyadaran yang dalam. Semoga bisa numbuhin lagi semangat pengorbanan di hati kita, bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga demi kebaikan agama kita, buat bangsa, dan buat negeri yang kita cintai ini. Amin, amin, amin ya Rabbal ‘Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، (2 مَرَّاتٍ)، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيْهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ. اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا. اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِيْ بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Gimana pendapat kamu tentang makna ikhlas berkurban ini? Yuk, share pemikiran atau pengalaman kamu di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar