Puasa di Hari Tasyrik? Sah Nggak Sih Menurut Islam? Yuk, Cari Tahu!
Hari Tasyrik itu identik banget sama momen setelah Hari Raya Idul Adha. Tepatnya jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Hari-hari ini jadi bagian penting dari rangkaian ibadah Haji dan perayaan Idul Adha buat kita umat Islam.
Momen Hari Tasyrik ini dianjurkan banget untuk memperbanyak dzikir dan syukur kepada Allah SWT. Buat para jemaah haji yang lagi di Mina, hari-hari ini adalah waktu buat melaksanakan lempar jumrah, salah satu rukun haji yang utama. Selain itu, hari Tasyrik juga seru buat menikmati hasil kurban. Biasanya daging kurban bakal diolah macam-macam atau bahkan dijemur biar awet. Suasananya penuh kebahagiaan dan semangat berbagi, pokoknya masih dalam nuansa lebaran kurban deh!
Tapi nih, ada satu pertanyaan yang sering muncul: boleh nggak sih kita puasa di Hari Tasyrik ini? Gimana ya hukumnya dalam Islam?
Hukum Puasa di Hari Tasyrik¶
Nah, langsung aja ya dijawab. Soal boleh nggak puasa di hari Tasyrik, jawabannya nggak boleh. Yap, dilarang. Kenapa? Karena hari-hari ini termasuk hari raya umat Islam, dan berpuasa di hari raya itu diharamkan.
Ini bukan tanpa alasan lho. Ada banyak hadis yang menjelaskan soal ini. Rasulullah SAW bahkan pernah menyuruh seseorang buat mengumumkan di Mina agar umat Islam nggak puasa di hari-hari Tasyrik.
Salah satu riwayat hadis bilang gini, “Hari-hari Mina (hari Tasyrik) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah SWT.” (HR. Thabrani). Jelas banget kan, ini waktunya buat menikmati karunia Allah, bukan berpuasa.
Ada juga hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Dalam hari-hari Tasyrik tidak ada kemurahan untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan sembelihan.” Hadis ini nunjukkin pengecualian buat kondisi tertentu, tapi hukum asalnya memang dilarang puasa.
Kenapa Diharamkan Puasa?¶
Larangan puasa di hari Tasyrik ini punya tujuan mulia. Salah satunya biar kaum muslimin bisa bareng-bareng menikmati hidangan dari daging kurban. Bayangin, setelah setahun mungkin jarang makan daging, pas Idul Adha dapat kurban, masa iya malah puasa? Jadi, ini momen buat bersyukur dan berbagi nikmat dari Allah SWT.
Rasulullah SAW sendiri menegaskan hal ini. Dari Uqbah bin Amir, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.” (HR An-Nasa’i).
Ini semakin memperjelas bahwa hari Tasyrik itu adalah hari raya, yang sifatnya bersenang-senang dalam batas syariat, termasuk menikmati makanan dan minuman, terutama yang berasal dari hewan kurban. Jadi, puasa justru bertentangan dengan semangat hari raya ini.
Asal Usul Nama Hari Tasyrik¶
Nama “Tasyrik” ini sendiri punya beberapa penafsiran unik lho. Ada yang bilang, asal katanya dari “yusyrikun”, yang artinya “menjemur”. Ini merujuk pada kebiasaan zaman dulu yang menjemur daging kurban di bawah sinar matahari biar awet.
Penafsiran lain bilang, “tasyrik” itu dari kata “yusyrik”, yang artinya “terbit”. Kenapa? Karena penyembelihan hewan kurban itu biasanya dimulai setelah matahari terbit. Ada juga pendapat ulama yang mengaitkan nama ini sama waktu pelaksanaan salat Idul Adha yang dilakukan setelah matahari terbit (syuruq).
Imam Nawawi, seorang ulama besar, juga menjelaskan bahwa Hari Tasyrik itu memang tiga hari setelah Idul Adha (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Beliau setuju kalau penamaan Tasyrik itu karena ada kegiatan menjemur daging kurban. Selain itu, Imam Nawawi juga bilang kalau hari-hari ini dianjurkan buat memperbanyak dzikir, terutama takbir.
Menurut riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas, istilah “ayyamun ma’dudat” (hari-hari yang terhitung) dalam Al-Qur’an itu merujuk pada hari Tasyrik atau hari-hari di Mina. Hari-hari ini jadi momen penting buat jemaah haji yang lagi di sana. Karena ketiga hari ini dianggap sebagai bagian dari hari raya dan identik dengan kebahagiaan, makanya umat Islam nggak dibolehkan berpuasa.
Keistimewaan Hari Tasyrik¶
Selain hukum puasanya yang spesifik, Hari Tasyrik juga punya keistimewaan tersendiri lho. Salah satu keutamaan Hari Tasyrik adalah posisinya yang sangat mulia di hadapan Allah SWT.
Mengutip dari salah satu sumber, hari Tasyrik itu termasuk hari yang paling agung setelah hari penyembelihan kurban (Hari Raya Idul Adha). Ada hadis yang bilang gini:
“Sesungguhnya hari-hari yang paling agung di sisi Allah SWT adalah hari kurban (Idul Adha), kemudian hari al-qarr (hari setelah Idul Adha).” (HR Abu Dawud).
Hari “al-qarr” di sini maksudnya adalah hari Tasyrik. Jadi, bisa dibayangin kan betapa istimewanya hari-hari ini? Ini adalah momen emas buat kita untuk terus beribadah, bersyukur, berdzikir, sambil menikmati kebersamaan dan rezeki dari Allah, terutama lewat daging kurban.
Jadi, daripada puasa yang justru dilarang, mending manfaatin hari Tasyrik buat memperbanyak ibadah lain, nikmatin kebersamaan sama keluarga dan tetangga, dan jangan lupa berbagi kebahagiaan lewat daging kurban ya!
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga penjelasan ini bikin kita makin paham soal Hari Tasyrik dan hukum puasanya.
Gimana nih, sudah jelas kan kenapa kita nggak puasa di Hari Tasyrik? Yuk, manfaatkan hari-hari istimewa ini dengan sebaik-baiknya! Punya pendapat atau pengalaman seru pas Hari Tasyrik? Share di kolom komentar ya!
Posting Komentar