Sykes-Picot: Hantu Masa Lalu yang Menakutkan Erdogan di Tengah Konflik Iran-Israel?

Table of Contents

Sykes-Picot: Hantu Masa Lalu yang Menakutkan Erdogan di Tengah Konflik Iran-Israel?

Timur Tengah adalah kawasan yang sarat sejarah, intrik geopolitik, dan konflik yang tak berkesudahan. Di tengah ketegangan yang membara antara Iran dan Israel saat ini, sebuah nama perjanjian kuno tiba-tiba kembali mencuat, dikaitkan dengan kekhawatiran Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Perjanjian itu adalah Sykes-Picot, sebuah kesepakatan rahasia yang dibuat lebih dari seabad lalu. Tapi mengapa hantu masa lalu ini masih menghantui Erdogan, terutama di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel?

Sykes-Picot Agreement bukanlah sekadar catatan kaki dalam buku sejarah. Bagi banyak orang di Timur Tengah, perjanjian ini adalah luka yang tak kunjung sembuh, akar dari banyak masalah kontemporer di kawasan tersebut. Ditandatangani secara rahasia pada 16 Mei 1916, di tengah gejolak Perang Dunia I, kesepakatan ini melibatkan dua kekuatan kolonial utama saat itu: Inggris Raya dan Prancis. Belakangan, Kekaisaran Rusia juga diberi jatah, meskipun revolusi Bolshevik membuatnya menarik diri dan membocorkan isi perjanjian ini ke publik, memicu kemarahan besar di kalangan bangsa Arab.

Lahirnya Garis-Garis di Atas Pasir yang Penuh Intrik

Konteks Sykes-Picot sangat penting untuk dipahami. Saat itu, Kekaisaran Ottoman, yang telah menguasai sebagian besar Timur Tengah selama berabad-abad, berada di ambang keruntuhan. Kekaisaran ini bersekutu dengan Jerman dan Blok Sentral, yang sedang berperang melawan Sekutu (termasuk Inggris, Prancis, dan Rusia). Melihat keruntuhan Ottoman sebagai peluang emas, Inggris dan Prancis mulai merencanakan pembagian wilayah kekuasaannya di Timur Tengah.

Dua diplomat ditugaskan untuk merancang pembagian ini: Sir Mark Sykes dari Inggris dan François Georges-Picot dari Prancis. Mereka duduk bersama dan, berdasarkan peta dan kepentingan strategis masing-masing negara, menggambar garis-garis imajiner di atas wilayah yang sama sekali tidak mereka pahami secara mendalam dari segi etnis, suku, atau sekte. Hasilnya adalah sebuah peta yang membagi wilayah kekuasaan Ottoman di Levant dan Mesopotamia menjadi beberapa zona pengaruh.

Menurut perjanjian rahasia ini, Prancis akan mendapatkan kontrol atas wilayah yang kini menjadi Suriah dan Lebanon, serta sebagian besar Anatolia tenggara. Inggris akan menguasai wilayah yang kini menjadi Irak selatan, sebagian besar Yordania, dan wilayah yang luas di sekitar Teluk Persia. Palestina akan memiliki status internasional, sebuah kompromi yang rumit. Sementara itu, wilayah yang disebut “Area A” (sebagian besar Suriah modern dan Irak utara) akan berada di bawah pengaruh Prancis, dan “Area B” (sebagian besar Yordania modern dan Irak selatan) di bawah pengaruh Inggris, dengan kerajaan-kerajaan Arab yang secara nominal merdeka namun terikat oleh nasihat dari kekuatan kolonial.

Ironisnya, perjanjian ini dibuat pada saat Inggris juga sedang bernegosiasi dengan Syarif Hussein bin Ali, pemimpin Arab di Hijaz (wilayah yang kini menjadi bagian dari Arab Saudi), menjanjikan dukungan untuk pemberontakan Arab melawan Ottoman dengan imbalan pembentukan negara Arab yang besar dan merdeka di sebagian besar wilayah yang sama. Sykes-Picot secara terang-terangan mengkhianati janji tersebut. Ketika teks perjanjian ini dibocorkan oleh kaum Bolshevik pada tahun 1917, hal itu memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan di kalangan Arab, menanam benih ketidakpercayaan terhadap kekuatan Barat yang bertahan hingga hari ini.

Warisan Pahit Pembagian Eropa

Setelah Perang Dunia I berakhir dan Kekaisaran Ottoman resmi dibubarkan, perjanjian Sykes-Picot menjadi dasar, meskipun tidak sepenuhnya kaku, untuk pembagian wilayah oleh Liga Bangsa-Bangsa melalui sistem Mandat. Prancis mendapatkan Mandat atas Suriah dan Lebanon, sementara Inggris mendapatkan Mandat atas Mesopotamia (kemudian menjadi Irak) dan Palestina (yang kemudian dibagi lagi menjadi Transyordania dan Palestina sendiri).

Batas-batas yang ditarik oleh Sykes dan Picot, meskipun mengalami beberapa penyesuaian selama periode Mandat, sebagian besar menjadi cikal bakal batas negara-negara modern di Timur Tengah. Ini adalah warisan Sykes-Picot yang paling kentara dan problematik. Batas-batas ini seringkali memotong komunitas etnis dan agama, mengabaikan sejarah, tradisi, dan afiliasi lokal.

Sebagai contoh, suku-suku yang sama terbagi oleh perbatasan antara Suriah dan Irak. Komunitas Kurdi tersebar di empat negara (Turki, Suriah, Irak, Iran), tanpa pernah memiliki negara sendiri. Berbagai sekte dan etnis minoritas terjebak dalam negara-negara baru yang mayoritasnya berbeda, seringkali memicu ketegangan dan konflik di kemudian hari. Negara-negara baru ini juga seringkali diperintah oleh rezim yang ditopang oleh kekuatan kolonial, yang lebih fokus pada menjaga stabilitas demi kepentingan kolonial daripada membangun institusi yang inklusif dan representatif.

Warisan Sykes-Picot adalah Timur Tengah yang terfragmentasi, dengan negara-negara yang seringkali lemah secara internal, bergantung pada kekuatan eksternal, dan rentan terhadap kudeta, konflik sipil, serta intervensi asing. Perjanjian ini bukan satu-satunya penyebab masalah di Timur Tengah, tetapi ia secara fundamental membentuk lanskap politik kawasan tersebut dengan cara yang penuh gejolak dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.

Erdogan dan Bayang-Bayang Ottoman yang Hilang

Di sinilah peran Presiden Erdogan dan pandangannya mulai bersinggungan dengan sejarah Sykes-Picot. Erdogan seringkali melontarkan kritik keras terhadap kesepakatan Sykes-Picot, menyebutnya sebagai sumber dari banyak masalah di Timur Tengah saat ini. Baginya, Sykes-Picot melambangkan penghinaan terhadap warisan Ottoman dan pembagian wilayah yang dulunya berada di bawah pengaruh Turki oleh kekuatan asing.

Retorika Erdogan seringkali menyiratkan nostalgia terhadap masa Kekaisaran Ottoman (atau setidaknya pengaruhnya) dan kritik terhadap batas-batas negara modern yang ia pandang sebagai artifisial dan dipaksakan oleh kekuatan Barat. Ia memandang Turki modern sebagai pewaris peradaban besar di kawasan tersebut, dan Sykes-Picot adalah simbol dari bagaimana peradaban itu dicabik-cabik dan pengaruh Turki dibatasi.

Erdogan memiliki ambisi untuk mengembalikan Turki ke posisi sebagai kekuatan regional yang dominan, memainkan peran kunci dalam urusan negara-negara tetangga, terutama di Suriah dan Irak, wilayah yang dulunya merupakan bagian integral dari Kekaisaran Ottoman. Kritiknya terhadap Sykes-Picot adalah bagian dari upaya untuk mendekonstruksi narasi pasca-kolonial tentang Timur Tengah dan memposisikan Turki sebagai aktor yang memiliki klaim sejarah dan kepentingan sah di luar batas-batas saat ini.

Baginya, Sykes-Picot bukanlah sekadar peristiwa sejarah, melainkan representasi dari mentalitas kekuatan besar yang seenaknya sendiri menggambar ulang peta demi kepentingan mereka, sebuah mentalitas yang ia lihat masih beroperasi di kawasan tersebut hingga kini. Ia tidak ingin Turki menjadi korban lagi dari pembagian atau penataan ulang kawasan oleh kekuatan lain.

Hantu Sykes-Picot di Tengah Gejolak Iran-Israel

Kini, bagaimana Sykes-Picot yang berumur seabad ini bisa menjadi “hantu” yang menakutkan Erdogan di tengah ketegangan antara Iran dan Israel? Jawabannya terletak pada ketakutan bahwa gejolak besar seperti konflik terbuka antara Iran dan Israel bisa menjadi katalisator untuk penataan ulang kawasan yang baru, mirip dengan apa yang terjadi setelah Perang Dunia I dan jatuhnya Ottoman.

Konflik Iran-Israel bukanlah konflik konvensional dua negara, melainkan melibatkan jaringan proksi yang rumit di seluruh Timur Tengah, mulai dari Hizbullah di Lebanon, milisi di Suriah dan Irak, hingga Houthi di Yaman. Wilayah tempat proksi-proksi ini beroperasi – Suriah, Lebanon, Irak – adalah persis wilayah yang dibentuk oleh perjanjian Sykes-Picot dan sistem Mandat.

  • Instabilitas yang Diwariskan: Sykes-Picot menciptakan negara-negara dengan batas-batas lemah dan kerentanan internal. Instabilitas ini menyediakan lahan subur bagi kekuatan regional (seperti Iran dan, dalam konteks lain, Israel) untuk memproyeksikan kekuatan mereka melalui proksi. Konflik Iran-Israel memanfaatkan dan memperburuk keretakan yang sudah ada di negara-negara pasca-Sykes-Picot ini.
  • Perebutan Pengaruh Baru: Erdogan melihat konflik Iran-Israel sebagai bagian dari perebutan pengaruh yang lebih besar di kawasan. Ia khawatir bahwa ketegangan ini, yang melibatkan kekuatan nuklir de facto (Israel) dan kekuatan regional yang ambisius (Iran), ditambah dengan campur tangan kekuatan global (AS, Rusia), dapat menghasilkan konfigurasi kekuasaan baru di Timur Tengah. Konfigurasi ini berpotensi mengabaikan atau bahkan merugikan kepentingan Turki.
  • Ketakutan Akan Penataan Ulang (Re-mapping): Meskipun tidak mungkin ada perjanjian formal baru untuk membagi wilayah seperti Sykes-Picot, Erdogan mungkin khawatir bahwa konflik besar dapat menyebabkan penataan ulang de facto kawasan. Ini bisa berarti:
    • Pemekaran konflik sipil dan perpecahan di negara-negara tetangga (Suriah, Irak) yang mengarah pada fragmentasi lebih lanjut.
    • Pembentukan zona pengaruh yang lebih kuat oleh kekuatan regional (Iran di Irak/Suriah/Lebanon, Israel/AS melalui aliansi tertentu) yang membatasi ruang gerak Turki.
    • Perubahan demografi atau politik yang signifikan di perbatasan Turki (misalnya, status wilayah Kurdi di Irak dan Suriah) akibat gejolak yang dipicu oleh konflik yang lebih besar.

Erdogan, dengan visinya tentang Turki yang kuat dan berpengaruh di lingkungannya, takut bahwa di tengah kekacauan yang ditimbulkan oleh konflik Iran-Israel, kekuatan lain akan kembali menggambar garis pengaruh mereka atau memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah kunci, persis seperti yang dilakukan Inggris dan Prancis seabad lalu. Ia tidak ingin Turki hanya menjadi penonton atau, lebih buruk lagi, korban dari “Sykes-Picot” versi abad ke-21 yang dipimpin oleh aktor-aktor yang berbeda.

Risiko Re-Map Timur Tengah yang Dikhawatirkan Erdogan

Kekhawatiran Erdogan bukanlah tanpa dasar. Sejarah menunjukkan bahwa perang dan krisis besar seringkali menjadi momen di mana peta politik diubah. Krisis di Suriah, misalnya, telah secara de facto menghasilkan zona-zona kontrol yang berbeda (pemerintah, Kurdi, oposisi yang didukung Turki, kelompok pro-Iran, kehadiran Rusia dan AS), mengikis batas-batas negara yang diwariskan dari Sykes-Picot. Konflik Iran-Israel berpotensi mempercepat proses ini atau memicu perubahan serupa di wilayah lain.

Bagi Erdogan, “hantu” Sykes-Picot adalah pengingat abadi akan kerapuhan kedaulatan di Timur Tengah ketika kekuatan besar bertindak demi kepentingannya sendiri. Ia melihat konflik Iran-Israel bukan hanya sebagai perseteruan antara dua musuh bebuyutan, tetapi juga sebagai potensi pemicu bagi kekuatan lain (regional dan global) untuk campur tangan lebih jauh dan mendefinisikan ulang masa depan kawasan, mungkin dengan mengorbankan ambisi Turki.

Turki telah mengambil langkah-langkah untuk memproyeksikan kekuatannya di kawasan, seperti operasi militer di Suriah utara untuk melawan milisi Kurdi dan ISIS, serta kehadiran militer di Irak. Langkah-langkah ini bisa dilihat sebagian sebagai upaya untuk memastikan bahwa Turki memiliki suara dan pengaruh dalam setiap penataan ulang kawasan yang mungkin terjadi, agar tidak terpinggirkan seperti yang terjadi setelah WWI.

Erdogan ingin memastikan bahwa Turki tidak menjadi “obyek” dari geopolitik Timur Tengah, melainkan “subjek” yang aktif membentuknya. Dalam konteks konflik Iran-Israel, ini berarti kekhawatiran bahwa eskalasi dapat menciptakan situasi di mana keputusan-keputusan penting tentang masa depan Suriah, Irak, atau stabilitas regional diambil oleh pemain lain, meninggalkan Turki dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Mengapa Sykes-Picot Tetap Relevan

Perjanjian Sykes-Picot, meskipun dibuat lebih dari seratus tahun lalu, tetap relevan karena dampak strukturalnya terhadap Timur Tengah. Batas-batas negara yang diciptakannya seringkali tidak sesuai dengan realitas sosial dan politik di lapangan, menyebabkan ketidakstabilan internal. Perjanjian ini juga melambangkan sejarah panjang campur tangan eksternal di kawasan tersebut, menciptakan warisan ketidakpercayaan dan kerentanan.

Bagi seorang pemimpin seperti Erdogan, yang sangat sadar akan sejarah dan berambisi memulihkan pengaruh Turki, Sykes-Picot adalah simbol dari masa lalu yang kelam di mana nasib bangsanya ditentukan oleh kekuatan asing. Di tengah konflik yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar regional seperti Iran dan Israel, ditambah dengan bayangan kekuatan global, ketakutan bahwa sejarah akan terulang dalam bentuk yang berbeda – penataan ulang kawasan yang merugikan Turki – adalah sesuatu yang sangat nyata.

“Hantu” Sykes-Picot bagi Erdogan bukanlah sekadar peta lama, melainkan manifestasi dari ketakutan bahwa kekuatan Turki akan kembali dibatasi, perbatasannya terancam oleh instabilitas di sekitarnya, dan masa depan kawasan yang penting bagi Turki akan ditentukan oleh pihak lain. Konflik Iran-Israel, dengan potensi eskalasi dan dampaknya terhadap seluruh kawasan, menghidupkan kembali ketakutan ini, menjadikannya bayangan yang mengintai di balik setiap langkah diplomatik dan militer.

Kesimpulan - Bayangan di Horizon

Pada akhirnya, Sykes-Picot Agreement adalah pengingat yang kuat tentang bagaimana keputusan yang dibuat jauh dari masyarakat lokal, berdasarkan kepentingan kekuatan eksternal, dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan. Bagi Presiden Erdogan, di tengah pusaran konflik antara Iran dan Israel, perjanjian abad ke-20 itu bukan hanya relik sejarah. Ia adalah simbol peringatan akan kerentanan, bukti pengkhianatan di masa lalu, dan bayangan menakutkan akan kemungkinan terulangnya sejarah dalam bentuk rekonfigurasi kawasan yang merugikan ambisi dan keamanan Turki.

Garis-garis yang ditarik di atas pasir gurun seratus tahun lalu masih terus membentuk drama geopolitik yang kompleks di Timur Tengah, dan kekhawatiran Erdogan menunjukkan betapa masa lalu kolonial masih memiliki cengkeraman kuat pada realitas politik masa kini.

Apa pendapat Anda tentang relevansi Sykes-Picot di era modern? Apakah kekhawatiran Erdogan beralasan? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar!

Posting Komentar