Rusia Cari Tentara Bayaran: Begini Cara Mereka Merekrut!

Table of Contents

Beberapa waktu lalu, jagat maya dihebohkan dengan video mantan anggota Marinir TNI Angkatan Laut, Satria Arta Kumbara, yang tiba-tiba muncul di hadapan publik. Ia terlihat merengek dan mengungkapkan keinginannya untuk kembali menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Satria mengaku sama sekali tidak menyangka bahwa tindakannya menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia akan berujung pada pencabutan status kewarganegaraannya.

Kasus Satria ini memang sempat viral pada Mei lalu setelah foto-fotonya dalam operasi militer Rusia beredar luas di platform TikTok. Pihak TNI AL, melalui Kepala Dinas Penerangan Tunggul, langsung memberikan klarifikasi tegas bahwa Satria sudah bukan lagi bagian dari institusi TNI. Hal ini merujuk pada undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Menurut Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, status kewarganegaraan seseorang bisa otomatis hilang jika aktif dalam kegiatan militer asing tanpa izin resmi dari Presiden. Ini sesuai dengan ketentuan Pasal 23 huruf d dan e Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, serta Pasal 31 huruf c dan d Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2007. Jadi, apa yang dialami Satria adalah konsekuensi hukum yang sudah jelas diatur.

Rusia Rekrut Tentara Bayaran

Gimana Sih Proses Perekrutan Tentara Bayaran Ini?

Perang yang tak kunjung usai dengan Ukraina membuat Rusia membutuhkan banyak sekali tenaga tambahan, terutama dari negara lain. Awalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat memerintahkan apa yang disebut mobilisasi parsial pada September 2022. Ini adalah upaya untuk mengerahkan para pria usia produktif agar ikut bertempur melawan Ukraina, tujuh bulan setelah invasi besar-besaran dimulai.

Masa-masa itu penuh dengan cerita dramatis. Para perekrut menyerbu kantor-kantor, mengintai di luar gedung apartemen, bahkan menyusuri kereta bawah tanah untuk mencari pria yang wajib dipanggil. Akibatnya, ratusan ribu warga Rusia memilih untuk meninggalkan negara mereka demi menghindari pengiriman ke garis depan di Ukraina. Situasi ini menunjukkan betapa gentingnya kebutuhan pasukan bagi Rusia.

Karena mobilisasi parsial tidak cukup, militer Rusia pun beralih ke berbagai metode lain untuk menjaga agar pasokan tentara ke medan perang tetap mengalir. Mereka mulai mencari rekrutan dari tempat-tempat yang tidak terduga, seperti penjara, lembaga pemasyarakatan, bahkan tempat penampungan tunawisma. Ini menunjukkan betapa Rusia mencoba segala cara untuk memenuhi kebutuhan pasukannya yang terus bertambah.

Jaringan Rahasia Redut dan Dobrokor

Pada Desember 2023, ada temuan mengejutkan dari dua unit investigasi, yaitu Schemes di Ukraina dan Systema di Rusia. Mereka membongkar fakta terkait Redut, sebuah perusahaan tentara bayaran swasta yang sebelumnya dikenal telah mengirim ribuan orang ke medan perang di Ukraina. Hasil investigasi tersebut membuktikan bahwa Redut sebenarnya bukanlah perusahaan swasta seperti yang terlihat.

Justru, Redut adalah bagian dari jaringan perekrutan yang sepenuhnya dikendalikan oleh negara Rusia. Di balik layar, operasional Redut ini dijalankan oleh GRU, yaitu direktorat intelijen utama militer Rusia. Temuan ini sangat penting karena mengungkap keterlibatan langsung aparat negara dalam merekrut dan mengerahkan pasukan bayaran untuk kepentingan militer Rusia. Ini menunjukkan strategi yang lebih kompleks dan tersembunyi.

Tidak berhenti di situ, investigasi terbaru oleh Systema juga mengungkap bagaimana militer Rusia terus memperluas strategi perekrutannya. Mereka menciptakan jalur alternatif baru bernama Dobrokor, singkatan dari Dobrovolchesky Korpus atau Korps Sukarelawan. Skema ini dirancang khusus untuk menarik para calon tentara yang mungkin enggan menandatangani kontrak langsung dengan Redut atau Kementerian Pertahanan Rusia.

Ada berbagai alasan mengapa calon tentara lebih memilih Dobrokor, salah satunya karena kondisi dan durasi layanan yang memberatkan pada kontrak resmi. Poin utama yang membedakan perekrutan lewat Redut atau Dobrokor dibandingkan dengan kontrak dinas militer resmi adalah soal durasi kewajiban. Kontrak langsung dengan Kementerian Pertahanan bersifat otomatis diperpanjang hingga berakhirnya operasi militer khusus, alias sampai perang di Ukraina benar-benar usai.

Sementara itu, kontrak melalui Redut atau Dobrokor biasanya punya durasi tetap, seperti enam, delapan, atau 12 bulan, dan tidak diperpanjang secara otomatis. Fleksibilitas ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Namun, di balik fleksibilitas kontrak tersebut, ada risiko besar yang menanti. Tentara yang direkrut lewat jalur sukarelawan ini sering kali dikirim ke garis depan dengan perlindungan yang minim.

Mereka kerap dilibatkan dalam operasi berisiko tinggi yang sangat membahayakan nyawa. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada daya tarik berupa durasi kontrak yang lebih singkat, para sukarelawan ini justru menghadapi bahaya yang lebih besar di medan perang. Ini adalah salah satu sisi gelap dari skema perekrutan yang dilakukan Rusia.

Metode Perekrutan Tentara Rusia

Siapa Saja yang Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia?

Data dari Kyiv Independent cukup mencengangkan, mereka mencatat bahwa lebih dari 1.500 tentara bayaran asing dari 48 negara telah direkrut Rusia untuk bertempur melawan Ukraina. Angka ini berasal dari sistem informasi dan analisis medis terpadu Moskow yang bocor, lalu sampai ke tangan wartawan Important Stories, sebuah media independen asal Rusia. Proses rekrutmen ini terjadi antara April 2023 hingga Mei 2024.

Dari lebih dari 1.500 orang asing yang diproses, setidaknya 1.300 di antaranya telah teridentifikasi berdasarkan kewarganegaraan. Ini menunjukkan betapa beragamnya latar belakang para tentara bayaran yang direkrut. Nepal berada di puncak daftar, dengan setidaknya 603 warga negaranya bergabung dengan tentara Rusia. Ini angka yang sangat signifikan dan menunjukkan adanya daya tarik besar bagi warga Nepal.

Selain Nepal, ada pula warga negara dari Sri Lanka (64 orang), China (51 orang), India (43 orang), Serbia (8 orang), Kuba (8 orang), dan Latvia (4 orang). Dari negara-negara bekas Uni Soviet, rekrutan juga datang dari Tajikistan (86 orang), Uzbekistan dan Belarusia (masing-masing 71 orang), Kirgistan (59 orang), Turkmenistan (19 orang), dan Moldova (12 orang). Daftar ini menggambarkan jangkauan luas dari perekrutan global Rusia.

Jumlah total tentara bayaran kemungkinan jauh lebih tinggi dari data yang bocor ini. Sebagai contoh, pada Februari 2024, CNN melaporkan bahwa ada lebih dari 15.000 warga negara Nepal yang kemungkinan sudah direkrut Rusia. Angka ini jauh melampaui data bocoran dan menunjukkan skala perekrutan yang sebenarnya.

Tidak hanya dari negara-negara tersebut, Rusia bahkan dilaporkan mengerahkan sekitar 12.000 tentara dari Korea Utara untuk melawan serangan Ukraina di Oblast Kursk. Ini merupakan perkembangan yang sangat menarik dan menunjukkan dimensi geopolitik yang lebih dalam dalam konflik ini. Keterlibatan tentara dari Korea Utara tentu menjadi sorotan dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Untuk mempermudah melihat sebaran rekrutan, mari kita lihat tabel ringkasan berdasarkan data yang terungkap:

Negara Asal Jumlah Rekrutan (Estimasi Minimum)
Nepal 603
Tajikistan 86
Uzbekistan 71
Belarusia 71
Kirgistan 59
China 51
India 43
Sri Lanka 64
Turkmenistan 19
Moldova 12
Serbia 8
Kuba 8
Latvia 4
Total dari 13 Negara Ini 1.096
Total dari 48 Negara (Estimasi Keseluruhan) >1.500
Estimasi Tambahan (CNN) >15.000 Nepalis
Estimasi Tambahan (Korea Utara) ~12.000

Angka-angka ini menunjukkan bagaimana Rusia mengandalkan dukungan dari berbagai negara, baik karena motivasi finansial, politik, atau alasan lainnya. Ini adalah strategi yang kompleks untuk mengisi barisan pasukannya.

Apa Saja Iming-Imingnya?

Di Tiongkok, misalnya, Rusia menggunakan taktik yang cukup canggih untuk memikat calon tentara. Mereka menyebarkan berbagai video di media sosial yang menampilkan pesan-pesan menggoda. Sebagian video merupakan propaganda Rusia yang sangat dipoles, menggambarkan sosok pria “tangguh” dan gagah berani di medan perang. Ini tentu saja bertujuan untuk membangkitkan semangat patriotisme atau keinginan untuk bertualang.

Ada juga video yang lebih mirip promosi influencer, menawarkan “liburan kerja” yang menjanjikan pengalaman dan imbalan menarik. Video-video ini cenderung lebih santai namun tetap menjual janji-janji manis. Yang lainnya adalah rekaman atau tangkapan layar editan dari warga yang mengaku akan segera meninggalkan Tiongkok untuk bergabung.

Meski gaya dan pendekatannya berbeda-beda, semua video ini punya satu benang merah: mereka menjual iming-iming untuk menjadi tentara bayaran asal Tiongkok yang akan bertempur di pihak Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, bahkan pernah mengungkap bahwa ada sekitar 155 warga negara Tiongkok yang sudah menjadi tentara Rusia. Zelenskyy juga mengatakan bahwa Rusia merekrut warga Tiongkok lewat iklan di platform media sosial seperti Douyin dan TikTok.

Dilansir dari Deutsche Welle, juru bicara departemen tawanan perang di dinas intelijen militer Ukraina (HUR), Petro Yatsenko, menjelaskan bahwa sebagian besar tentara bayaran yang berhasil ditangkap berasal dari belahan bumi selatan, terutama negara-negara miskin. Yatsenko mengungkapkan bahwa Rusia sengaja mencoba merekrut warga negara asing dengan memasang iklan di media sosial dan menggunakan agitator atau provokator.

“Mereka sering menjanjikan pekerjaan di perusahaan, dan ketika tiba saatnya bertugas di militer, mereka hanya akan ditempatkan di daerah terpencil,” kata Yatsenko. Pernyataan ini menunjukkan adanya praktik penipuan atau setidaknya pemutarbalikan fakta dalam proses rekrutmen. Banyak yang datang dengan ekspektasi bekerja di sektor sipil, namun berakhir di medan perang.

Klaim ini dikuatkan oleh kesaksian delapan orang asing, yang terdiri dari lima warga negara Nepal serta masing-masing satu dari Kuba, Sierra Leone, dan Somalia. Mereka dihadirkan oleh badan intelijen militer Ukraina HUR dalam sebuah konferensi pers di Kyiv pada Maret 2024. Mereka semua menceritakan pengalaman serupa.

Salah satu dari mereka, seorang pria asal Sierra Leone, mengungkapkan bahwa dia pernah bertempur dalam konflik bersenjata di negaranya sendiri dan bahkan mengalami luka akibat perang tersebut. Dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat kembali berperang. Pria itu mengaku datang ke Rusia karena dijanjikan pekerjaan di sektor konstruksi, bukan untuk menjadi tentara bayaran. Ini jelas-jelas adalah contoh penipuan yang serius.

Namun, tidak semua orang asing yang bertempur untuk Rusia tertipu atau dijebak. Yatsenko juga menjelaskan bahwa sebagian dari mereka memang berpengalaman, dengan latar belakang militer yang kuat. “Beberapa dari mereka memang tahu betul apa yang mereka lakukan,” ujar Yatsenko. Ada pula individu yang termotivasi oleh ideologi, petualangan, atau bahkan kebencian terhadap pihak lawan. Jadi, motivasi para tentara bayaran ini sangat bervariasi.

Iming-iming Tentara Bayaran Rusia

Berapa Imbalan yang Ditawarkan Rusia?

Tentu saja, salah satu daya tarik utama bagi para tentara bayaran adalah imbalan finansial yang menggiurkan. Dikutip dari The Guardian, dalam video rekrutmen yang beredar di media sosial Tiongkok, ditawarkan gaji yang cukup fantastis. Mereka menjanjikan bonus pendaftaran berkisar antara 60.000 hingga 200.000 Renminbi (RMB). Jika dikonversi, ini setara dengan sekitar 6.000 hingga 21.000 poundsterling atau sekitar 120 juta hingga 420 juta Rupiah!

Selain bonus pendaftaran yang besar, calon tentara juga diiming-imingi gaji bulanan sekitar 18.000 RMB, yang setara dengan sekitar 1.900 poundsterling atau sekitar 38 juta Rupiah. Jumlah ini tentu saja sangat menarik, terutama bagi individu dari negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah. Gaji sebesar ini di banyak negara berkembang sudah dianggap sangat tinggi.

Sementara itu, RadioFreeEurope RadioLiberty menulis bahwa melalui jalur Dobrokor dan Redut, pria berusia 18 hingga 55 tahun dan perempuan berusia 18 hingga 45 tahun dapat mendaftar. Para perempuan yang mendaftar biasanya akan ditugaskan di unit medis. Gaji mereka dimulai dari 205.000 rubel per bulan, yang setara dengan sekitar 2.600 dollar AS atau kurang lebih 42 juta Rupiah.

Gaji ini bahkan bisa lebih tinggi, tergantung pada peran dan tingkat risiko sebagai tentara bayaran. Bayangkan, dengan iming-iming pendapatan sebesar itu, banyak orang mungkin tergoda untuk mengambil risiko, terutama jika mereka menghadapi kesulitan ekonomi di negara asalnya. Angka-angka ini menunjukkan bagaimana Rusia bersedia membayar mahal untuk mendapatkan pasukan tambahan, mengingat desakan kebutuhan di medan perang.

Tawaran ini tentu sangat kontras dengan rata-rata penghasilan di banyak negara berkembang. Misalnya, rata-rata pendapatan per kapita di Nepal jauh di bawah angka tersebut. Ini yang membuat banyak individu, terutama dari latar belakang ekonomi sulit, melihat peluang ini sebagai jalan pintas untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Namun, mereka juga harus menghadapi risiko kematian atau cedera serius.

Apa Pendapatmu?

Bagaimana menurut kalian setelah membaca seluk-beluk perekrutan tentara bayaran oleh Rusia ini? Apakah kalian terkejut dengan berbagai metode yang mereka gunakan? Atau mungkin kalian punya pandangan lain tentang alasan mengapa begitu banyak orang dari berbagai negara tertarik untuk bergabung? Yuk, sampaikan pendapat dan pertanyaanmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar