Bedah Buku Among The Thugs: Kisah Brutal di Balik Geng Inggris

Table of Contents

Pernah denger atau nonton film Green Street Hooligans? Film ini kayaknya udah jadi ikon banget buat ngasih gambaran tentang dunia hooliganisme sepak bola di Inggris. Ceritanya tentang seorang jurnalis kampus dari Amerika Serikat, Matt Buckner, yang nyasar ke Inggris dan malah nyemplung ke dalam kelompok hooligans pendukung klub West Ham United yang namanya Green Street Elite. Dia nulis catatan harian tentang semua aktivitasnya bareng Pete Dunham, pemimpin Green Street yang kebetulan juga kakak iparnya.

Nah, dari catatan harian itu, ceritanya hampir bikin dia babak belur, soalnya jurnalis itu profesi yang paling dibenci sama para hooligans, selain polisi tentunya. Film ini nunjukkin gimana fanatisme sepak bola bisa berubah jadi kekerasan yang terorganisir, persahabatan yang kuat, tapi juga bahaya yang selalu mengintai. Green Street Hooligans sendiri rilis tahun 2005 dan lumayan sukses nangkep esensi dari subkultur yang brutal tapi punya daya tarik tersendiri ini.

Buku Among The Thugs

Menelusuri Akar Hooliganisme dengan Bill Buford

Buku Among The Thugs ini bisa dibilang versi nyata dari pengalaman Matt Buckner di film tadi. Ini adalah reportase jurnalis asal Amerika Serikat, Bill Buford, yang bener-bener nekat terjun langsung ke dunia hooliganisme Inggris. Bayangin aja, dia rela nyamar, ikut kumpul, minum bareng, bahkan ikut dalam kerusuhan para hooligans biar bisa nulis buku ini.

Bill Buford sendiri bukan jurnalis sembarangan. Reputasinya di dunia jurnalisme udah tersohor banget. Dia pernah jadi penulis sekaligus editor majalah bergengsi New Yorker sejak tahun 1995. Sebelumnya, dia juga ngejabat sebagai editor majalah Granta selama 16 tahun dan bahkan jadi penerbit Granta Books di tahun 1989. Pengalamannya yang seabrek ini bikin dia punya kepekaan jurnalistik yang luar biasa, terutama dalam gaya reportase naratif. Jadi, bisa dibayangkan gimana dia ngulik cerita para “bajingan” ini dengan begitu detail dan jujur.

Detail Buku Deskripsi
Judul Buku Among The Thugs
Penulis Bill Buford
Penerbit Arrow Books
Edisi Paperback
Tebal 336 halaman
Agenda Penerbitan Mei 2018 (Edisi Paperback)
Bahasa Inggris
Genre Non-fiksi, Jurnalisme Investigasi, Sosial & Budaya
Topik Utama Hooliganisme Sepak Bola Inggris, Kekerasan Massa, Identitas Nasional, Subkultur
Gaya Penulisan Reportase Naratif, Immersive Journalism

Siapa Bill Buford Sebenarnya?

Bill Buford lahir di California dan besar di sana, tapi pendidikannya dia jalani di King’s College, Cambridge. Ini mungkin salah satu alasan kenapa dia punya koneksi dengan Inggris, meskipun latar belakangnya Amerika. Pengalamannya sebagai editor Granta selama belasan tahun juga sangat membentuk gaya penulisannya. Granta dikenal sebagai majalah sastra yang sering menerbitkan karya-karya non-fiksi yang mendalam dan berani, sering kali dengan sentuhan investigasi atau reportase yang intens. Jadi, ide untuk terjun langsung ke dunia hooligan Inggris adalah sesuatu yang sangat Buford-esque.

Sebelum Among The Thugs, Buford sudah dikenal dengan gaya penulisan yang detail dan observatif. Dia punya kemampuan luar biasa buat menyelami subjeknya, berbaur dengan orang-orang di dalamnya, dan kemudian menyajikannya dalam narasi yang kuat. Dia nggak cuma mengamati dari jauh, tapi bener-bener jadi bagian dari lingkungan yang dia teliti, meskipun itu berarti harus menghadapi bahaya yang nyata. Reputasinya sebagai jurnalis yang berani dan punya integritas tinggi bikin pembaca percaya sama setiap kata yang dia tulis.

Menyelami Dunia Para ‘Thugs’

Dalam buku ini, Buford menceritakan kisah para thugs dengan panggilan-panggilan unik seperti Bonehead, Paraffin Petem, dan Steamin’ Sammy. Mereka ini adalah representasi dari sekumpulan orang yang punya cinta mati sama Inggris dan benci banget sama negara lain. Kekerasan, alkohol, dan nasionalisme sempit jadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.

Buford nggak cuma ngasih gambaran permukaan, tapi bener-bener ngajak kita nyelam ke dalam pikiran dan motivasi para hooligans ini. Apa sih yang bikin mereka kayak gitu? Apakah itu cuma sekadar kekerasan tanpa makna, atau ada latar belakang sosial, ekonomi, dan psikologis yang lebih dalam? Buku ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cara yang bener-bener bikin merinding.

mermaid graph TD A[Bill Buford: Jurnalis Berani] --> B{Keputusan untuk Menginvestigasi}; B --> C[Memilih Hooliganisme Inggris]; C --> D[Metode: Immersive Journalism]; D --> E[Membangun Kepercayaan dengan 'Thugs']; E --> F[Menyamar & Berpartisipasi Langsung]; F --> G[Mengamati Kekerasan & Budaya Alkohol]; G --> H[Menuliskan Pengalaman: Among The Thugs]; H --> I[Mengungkap Motif & Psikologi Hooligan]; I --> J[Menyoroti Nasionalisme & Identitas]; J --> K[Reaksi Publik & Kontroversi Buku];

Diagram di atas menunjukkan alur bagaimana Bill Buford melakukan investigasinya. Ini bukan cuma sekadar riset di perpustakaan, tapi bener-bener terjun langsung, ngalamin sendiri semua pahit getirnya kehidupan hooligans. Dia harus pinter-pinter berbaur, kadang minum bareng, ikut dalam kerusuhan, cuma buat bisa nyaksiin dan nulisin apa yang sebenernya terjadi di sana.

Kekerasan, Humor, dan Ketegangan

Salah satu hal yang bikin buku ini stand out adalah kemampuannya menyajikan cerita yang mengerikan, lucu, tapi juga sangat menegangkan dalam satu paket. Gimana bisa? Karena Buford nggak cuma fokus ke kekerasan fisiknya aja, tapi juga ngegambarin dinamika sosial di antara para hooligans, humor kasar mereka, dan momen-momen absurd yang sering terjadi di tengah-tengah kekacauan.

Dia berhasil nunjukkin daya tarik yang mencekam dari kekerasan penonton dan budaya sepak bola yang ekstrem. Kekerasan itu punya daya magnet sendiri bagi sebagian orang, dan Buford mencoba mengurai kenapa demikian. Dia bahkan mengikuti perjalanan fans Manchester United yang disebut Red Army, dan dia nggak segan-segan menenggak alkohol bareng komunitas skinhead biar bisa bener-bener ngerasain apa yang mereka rasain dan melihat dunia dari sudut pandang mereka.

Prosesnya pasti berat banget. Bayangin aja, seorang jurnalis dengan latar belakang majalah New Yorker harus berbaur dengan kelompok yang terkenal brutal dan anti-media. Ada momen-momen di mana dia harus jaga diri mati-matian, tapi di sisi lain, dia juga harus tetep objektif dalam pengamatannya. Ini adalah tantangan terbesar dalam immersive journalism, di mana batas antara pengamat dan partisipan jadi sangat tipis.

Sejarah dan Fenomena Hooliganisme

Hooliganisme sepak bola ini bukan fenomena baru, apalagi di Inggris. Akar-akarnya bisa ditarik sampai ke awal abad ke-20, bahkan mungkin lebih awal lagi. Awalnya, mungkin cuma sekadar pertengkaran antar fans yang spontan. Tapi, seiring waktu, ini berkembang jadi subkultur yang terorganisir, dengan “firm” atau geng-geng yang punya nama sendiri, identitas sendiri, dan wilayah kekuasaan sendiri.

Kenapa Hooliganisme Begitu Melekat di Inggris?

Banyak faktor yang bikin hooliganisme begitu mengakar di Inggris:
* Identitas Klub: Di Inggris, klub sepak bola itu lebih dari sekadar tim. Dia adalah identitas komunitas, bagian dari sejarah kota, dan seringkali merepresentasikan kelas sosial tertentu (misalnya, tim-tim yang berasal dari kawasan industri). Loyalitas terhadap klub itu mutlak, dan ini bisa berubah jadi fanatisme ekstrem.
* Masalah Sosial Ekonomi: Banyak hooligans berasal dari latar belakang kelas pekerja yang mungkin merasa terpinggirkan, nggak punya banyak harapan, atau cuma pengen ngerasain punya kekuatan. Sepak bola jadi semacam pelarian, dan kekerasan bisa jadi cara buat nunjukkin eksistensi.
* Budaya Maskulinitas: Ada pandangan kalau kekerasan di stadion adalah wujud dari maskulinitas yang kuat, persaudaraan, dan keberanian. Ini jadi semacam ritual inisiasi atau cara buat membuktikan diri di mata kelompok.
* Alkohol: Nggak bisa dipungkiri, alkohol itu katalisator utama. Minum-minum sebelum dan sesudah pertandingan seringkali bikin tensi naik dan memicu agresi.
* Media: Media juga punya peran, kadang mereka terlalu mengamplifikasi berita tentang hooliganisme, yang justru bisa jadi semacam publisitas gratis bagi para pelaku.

Geng-geng seperti Chelsea Headhunters, Millwall Bushwackers, atau Leeds United Service Crew itu adalah nama-nama yang melegenda dalam sejarah hooliganisme Inggris. Masing-masing punya reputasi, cara kerja, dan musuh bebuyutan sendiri. Mereka ini punya semacam kode etik tersendiri di antara mereka, meskipun bagi orang luar, itu cuma terlihat sebagai kekerasan murni.

Dampak dan Evolusi Hooliganisme

Dampak hooliganisme ini luar biasa besar, nggak cuma buat sepak bola, tapi juga buat citra negara. Kejadian-kejadian seperti Tragedi Heysel tahun 1985 yang melibatkan fans Liverpool atau Tragedi Hillsborough tahun 1989 (meskipun ini lebih ke masalah keamanan stadion, tapi sering dikaitkan dengan kultur suporter yang problematik) jadi pengingat betapa mengerikannya jika hooliganisme nggak terkontrol.

Pemerintah Inggris dan otoritas sepak bola akhirnya mengambil langkah-langkah drastis buat memerangi hooliganisme. Ada undang-undang baru, pengawasan yang lebih ketat, kamera CCTV di mana-mana, banning orders buat suporter bermasalah, sampai desain stadion yang lebih modern dan aman. Pelan-pelan, fenomena hooliganisme di Inggris memang menurun drastis, terutama di dalam stadion.

Tapi, bukan berarti hilang sepenuhnya. Sekarang, hooliganisme mungkin bertransformasi. Kalau dulu adu jotosnya di dalam stadion atau di jalanan dekat stadion, sekarang mungkin lebih ke arah media sosial, atau janjian di lokasi tersembunyi jauh dari mata polisi. Ini menunjukkan bahwa akarnya masih ada, meskipun bentuknya berubah. Buku Among The Thugs ini jadi semacam kapsul waktu yang merekam puncak kejayaan hooliganisme di Inggris sebelum akhirnya mulai meredup.

Memahami Psikologi di Balik Kekerasan

Salah satu kekuatan utama buku Bill Buford adalah kemampuannya buat ngebedah psikologi di balik kekerasan. Kenapa orang-orang ini mau jadi bagian dari geng yang penuh kekerasan? Apakah mereka cuma pengen bikin onar, atau ada motif yang lebih dalam?

Buford menunjukkan bahwa banyak dari mereka mencari rasa memiliki, identitas, dan kekuatan yang mungkin nggak mereka dapatkan di kehidupan sehari-hari. Di dalam kelompok hooligans, mereka punya status, persaudaraan, dan tujuan bersama (yaitu mendukung klub dengan cara yang ekstrem, dan melawan “musuh”). Ini semacam pelarian dari rutinitas hidup yang mungkin membosankan atau penuh frustrasi. Teriakan “Eng-er-land!” yang terus-menerus dan kebencian terhadap “lainnya” menunjukkan nasionalisme sempit yang menyatu dengan identitas kelompok.

Buford juga menyiratkan bahwa bagi sebagian orang, kekerasan itu sendiri punya daya tarik. Adrenalin saat terlibat dalam bentrokan, rasa kemenangan (sekalipun hanya dalam perkelahian jalanan), dan rasa solidaritas dengan sesama “pejuang” bisa jadi sangat adiktif. Ini bukan cuma tentang sepak bola, tapi tentang identitas, loyalitas, dan cara untuk memproses emosi negatif yang terpendam.

Warisan dan Relevansi Buku Ini

Ketika pertama kali terbit, Among The Thugs mendapatkan banyak pujian sekaligus kritik. Pujian datang karena keberanian Buford dalam melakukan investigasi yang mendalam dan gaya penulisannya yang memikat. Namun, kritik mungkin muncul dari pihak yang merasa buku ini terlalu glamorisasi kekerasan atau terlalu permisif terhadap perilaku hooligans.

Terlepas dari perdebatan itu, buku ini telah menjadi salah satu karya klasik dalam genre jurnalisme investigasi dan studi subkultur. Ini adalah referensi penting bagi siapa saja yang ingin memahami fenomena hooliganisme Inggris, atau bahkan lebih luas lagi, kekerasan massa dan identitas kelompok.

Buku ini juga relevan sampai sekarang, meskipun hooliganisme di Inggris sudah menurun. Fenomena ekstremisme kelompok, baik dalam konteks olahraga, politik, atau sosial, masih terus terjadi di berbagai belahan dunia. Among The Thugs memberikan wawasan tentang bagaimana individu bisa terseret ke dalam perilaku kelompok yang destruktif, dan bagaimana identitas kolektif bisa mengalahkan moralitas personal.

Jadi, kalau kamu tertarik sama subkultur, jurnalisme investigasi, atau pengen tahu lebih dalam tentang sisi gelap dari fanatisme sepak bola, buku ini wajib banget masuk daftar bacaanmu. Meskipun ceritanya mungkin bikin ngeri, tapi ini adalah pelajaran berharga tentang masyarakat dan perilaku manusia.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian pernah nonton film Green Street Hooligans atau bahkan pernah baca buku Among The Thugs ini? Atau mungkin kalian punya pandangan lain tentang fenomena hooliganisme? Yuk, bagi cerita dan pendapat kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar