Drakor 'To the Moon' Kena Kritik Pedas: Dianggap Lecehkan Budaya Timur Tengah?

Table of Contents

Jakarta – Dunia K-drama lagi heboh, gaes! Drama Korea terbaru dari MBC, yang berjudul To the Moon, langsung jadi sorotan tajam dan banjir kritik dari para penonton. Ini bukan karena plotnya yang membingungkan atau akting pemainnya yang kurang, tapi justru gara-gara teaser terbarunya yang dibilang nggak sensitif budaya dan malah nunjukkin video bernuansa ejekan buat budaya Timur Tengah. Wah, kok bisa, ya? Padahal K-drama sekarang lagi jadi trendsetter di mana-mana!

Drakor To the Moon Kritik Budaya Timur Tengah

Video teaser yang bikin gaduh ini sendiri sekarang udah dihapus sama pihak MBC, lho. Tapi jejaknya udah keburu menyebar dan memicu perdebatan sengit di kalangan netizen internasional. Dalam teaser yang jadi masalah itu, kita bisa lihat para bintang utama drakor To the Moon, seperti Lee Sun Bin, Ra Mi Ran, Jo A Ram, dan Kim Young Dae, tampil dengan busana yang dibilang meniru gaya Arab. Mereka menari dengan gaya yang terkesan kurang serius dan bercanda diiringi musik yang ceria dan upbeat. Penampilan mereka ini justru jadi bumerang, padahal mungkin niatnya ingin menarik perhatian.

Detail Teaser yang Bikin Geger

Coba kita bedah sedikit detail penampilan para aktor dan aktris di teaser yang kini sudah almarhum itu. Para aktris tampil dengan busana yang warnanya cerah dan mencolok mata banget, kayak ungu, kuning, dan merah. Mereka juga mengenakan sepatu dengan ujung lancip yang bengkok ke atas, biasanya berwarna keemasan, persis seperti yang sering kita lihat di cerita-cerita dongeng. Aksesori yang dipakai juga nggak kalah gemerlap, dominan warna keemasan, mulai dari perhiasan kepala yang menutupi sebagian rambut hingga anting-anting besar menjuntai.

Mereka menari di depan latar belakang bergambar kartun yang menampilkan langit gurun dengan pilar-pilar bangunan khas Timur Tengah. Di kejauhan, tampak juga bangunan dengan kubah yang sangat identik dengan arsitektur di wilayah tersebut. Nuansa kartun dan ceria ini mungkin yang bikin kesan ejekan semakin kuat. Di sisi lain, Kim Young Dae, salah satu aktor utama, tampil beda lagi. Dia kelihatan duduk di atas karpet, mengenakan busana putih lengkap dengan sorban berwarna senada di kepalanya. Yang bikin lebih “Aladdin-banget” adalah di depannya ada lampu ajaib yang sangat mirip punya Aladdin, dan dia bahkan terlihat asyik memainkan suling, seperti penglipur lara atau pawang ular di cerita-cerita lama.

Mengapa Disebut Kurang Sensitif Budaya?

Penonton, terutama dari komunitas Timur Tengah dan mereka yang peka terhadap isu sensitivitas budaya, langsung menilai kalau video teaser ini sama sekali nggak sensitif. Mereka menganggapnya punya vibe yang mengejek dan mereduksi kekayaan budaya Timur Tengah menjadi sekadar karikatur atau stereotip yang ketinggalan zaman. Ini bukan sekadar masalah busana atau tarian, tapi lebih ke cara representasi yang kurang tepat dan terkesan meremehkan.

Di era globalisasi gini, representasi budaya di media itu penting banget, lho. Saat sebuah budaya digambarkan hanya dari sisi klise dan stereotip, itu bisa melukai perasaan banyak orang dan memperkuat miskonsepsi. Apalagi, budaya Timur Tengah itu sangat kaya, beragam, dan punya sejarah panjang yang jauh dari kesan sekadar “Aladdin” atau “gurun pasir”. Menggambarkan seperti itu sama saja merampas kedalaman dan keragaman budaya tersebut.

Reaksi Cepat dari MBC dan Permintaan Maaf

Kritikan pedas ini langsung menyebar cepat begitu video teaser dirilis pada hari Rabu lalu. Dalam waktu singkat, teaser ini langsung jadi pusat perhatian negatif. MBC, sebagai stasiun televisi yang memproduksi drama ini, akhirnya mengambil langkah cepat. Setelah menerima banyak masukan dan protes, mereka memutuskan untuk menghapus konten yang bermasalah itu.

MBC juga mengakui kesalahannya dan memberikan klarifikasi. Mereka bilang kalau ide dari teaser ini awalnya terinspirasi dari iklan es krim yang cukup populer di Korea Selatan pada era 1980-an dan 1990-an. Mungkin niatnya ingin menghadirkan nuansa nostalgia atau playful, tapi mereka juga menyadari kalau kontekstualisasinya terhadap budaya tertentu jadi bermasalah. “Kami sudah menghapus videonya. Kami akan lebih hati-hati agar tidak menciptakan ketidaknyamanan,” begitu pernyataan resmi MBC yang dilansir dari Korea JoongAng Daily pada Jumat (22/8/2025).

Meski begitu, pengakuan dan permintaan maaf ini menunjukkan bahwa industri K-entertainment semakin sadar akan pentingnya sensitivitas budaya, terutama karena jangkauan mereka sudah sangat global. Setiap detail kecil, bahkan dalam sebuah teaser, bisa memicu reaksi besar dari penonton di seluruh dunia.

Belajar dari Kasus Lain: Sensitivitas Budaya dalam K-Drama

Kasus To the Moon ini bukan yang pertama kalinya K-drama atau industri hiburan Korea tersandung masalah sensitivitas budaya, lho. Seiring dengan popularitas Hallyu yang terus meroket, sorotan terhadap konten-konten mereka juga semakin tajam. Banyak kejadian di mana drama Korea dikritik karena dianggap salah dalam merepresentasikan budaya asing, sejarah, atau bahkan isu sosial tertentu.

Beberapa isu umum yang sering muncul antara lain:
* Kopi paste budaya: Mengambil elemen budaya asing tanpa pemahaman yang mendalam atau tanpa atribusi yang jelas, sehingga terkesan mengejek atau meremehkan.
* Stereotip: Menggambarkan karakter atau situasi dari budaya tertentu hanya berdasarkan stereotip yang sudah usang dan tidak akurat.
* Apropriasi budaya: Menggunakan simbol, pakaian, atau praktik budaya dari kelompok minoritas tanpa menghormati makna aslinya, atau mengubahnya menjadi tren tanpa memberi penghargaan yang layak.
* Kekeliruan sejarah: Kesalahan dalam penggambaran peristiwa atau tokoh sejarah, baik dalam konteks Korea sendiri maupun negara lain.

Berikut adalah tabel singkat yang mengilustrasikan beberapa jenis isu sensitivitas budaya yang sering ditemui dalam produksi media global, termasuk K-drama:

Isu Sensitivitas Budaya Deskripsi Singkat Contoh Umum
Stereotip Etnis/Nasional Menggambarkan kelompok etnis atau negara tertentu hanya dengan ciri-ciri dangkal atau klise yang sering negatif. Karakter Timur Tengah yang selalu digambarkan kaya minyak atau teroris; karakter Asia yang selalu pintar matematika tapi culun.
Apropriasi Budaya Mengadopsi elemen budaya (pakaian, musik, simbol) dari kelompok lain tanpa pemahaman atau penghargaan yang layak. Penggunaan hiasan kepala suku adat sebagai aksesori fesyen; penggunaan musik religi sebagai background komersial tanpa konteks.
Misrepresentasi Agama Penggambaran praktik atau simbol keagamaan yang tidak akurat, merendahkan, atau tidak menghormati. Tokoh mengenakan simbol agama tertentu secara sembarangan; parodi ritual keagamaan.
Kekeliruan Sejarah Penggambaran peristiwa atau tokoh sejarah yang tidak sesuai fakta, seringkali demi narasi dramatis. Peristiwa penting diubah drastis; tokoh sejarah fiktif yang merusak narasi sejarah asli.
Sensitivitas Gender/Seksual Penggambaran peran gender atau isu seksual yang tidak sensitif atau merendahkan. Stereotip gender yang kaku; humor yang melecehkan kelompok tertentu.

Semoga dengan adanya daftar ini, para produser konten bisa lebih berhati-hati dan melakukan riset yang lebih mendalam sebelum merilis karyanya.

Dampak ke Drama ‘To the Moon’

Tentunya, insiden teaser ini bisa jadi tantangan berat buat drama To the Moon yang dijadwalkan tayang perdana pada 19 September mendatang. Meskipun teasernya sudah dihapus dan permintaan maaf sudah disampaikan, initial impression atau kesan pertama itu penting banget. Beberapa penonton mungkin jadi skeptis atau bahkan memutuskan untuk tidak menonton drama ini karena merasa kecewa dengan kesalahan di awal.

Di sisi lain, mungkin ada juga yang jadi penasaran dan berharap drama ini bisa membuktikan bahwa mereka belajar dari kesalahan dan akan menampilkan konten yang berkualitas dan jauh dari isu sensitivitas. Ini akan jadi PR besar bagi tim produksi untuk memastikan seluruh episode drama bebas dari hal-hal serupa dan bisa mengembalikan kepercayaan penonton.

mermaid graph TD A[Rilis Teaser Drakor To the Moon] --> B{Netizen Kritik Keras Isu Sensitivitas Budaya}; B -- Mengandung Stereotip & Ejekan --> C[Teaser Dihapus oleh MBC]; C --> D[MBC Keluarkan Permintaan Maaf Resmi]; D --> E{Dampak pada Reputasi Drakor To the Moon}; E -- Penonton Skeptis? --> F[Tantangan di Tayang Perdana 19 September]; F --> G[Pembelajaran bagi Industri K-Entertainment Global];

Diagram di atas menunjukkan alur singkat bagaimana sebuah insiden kecil, seperti teaser yang kurang sensitif, bisa memicu reaksi berantai dan berakhir pada pelajaran penting bagi industri.

Pentingnya Konsultan Budaya dan Riset Mendalam

Dari kasus To the Moon ini, ada pelajaran penting yang bisa diambil, tidak hanya untuk MBC tapi juga untuk seluruh industri K-entertainment. Dengan jangkauan global yang semakin luas, setiap detail dalam produksi film atau drama harus diperhatikan dengan ekstra hati-hati.

  • Libatkan Konsultan Budaya: Salah satu cara paling efektif adalah dengan melibatkan konsultan budaya dari latar belakang yang relevan. Mereka bisa memberikan panduan dan masukan berharga agar representasi budaya dalam drama tetap akurat dan menghormati.
  • Riset yang Mendalam: Tim produksi harus melakukan riset yang jauh lebih mendalam sebelum menggunakan elemen-elemen budaya asing. Jangan hanya mengandalkan stereotip atau iklan lama, karena itu bisa sangat menyesatkan.
  • Tim Produksi yang Beragam: Memiliki tim produksi yang beragam secara budaya juga bisa membantu mencegah misrepresentasi, karena setiap anggota tim bisa memberikan perspektif yang berbeda dan lebih kaya.
  • Uji Publik Terbatas: Mungkin perlu dilakukan uji publik terbatas atau focus group discussion dengan perwakilan dari komunitas yang budayanya akan ditampilkan, sebelum konten dirilis secara massal.

Dengan begitu, industri K-entertainment bisa terus berkembang dan menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menghibur tapi juga informatif dan menghargai keragaman budaya di seluruh dunia. Jangan sampai niat baik untuk membuat karya seni justru berakhir jadi bumerang karena kurangnya kepekaan.


Gimana nih pendapat kalian soal kasus teaser drakor To the Moon ini? Apakah kalian setuju kalau teaser-nya memang kurang sensitif? Atau justru merasa MBC sudah cukup cepat tanggap dalam menanganinya? Yuk, sampaikan opini kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar